Wedding Project

Wedding Project
Pusing


__ADS_3

Seorang wanita mendekat pada Felix. "Hai, sepertinya kamu sudah lama tidak ke mari." Wanita itu langsung duduk dipangkuan Felix.


Wanita itu adalah wanita malam yang biasa berada di klub. Felix mengenalnya karena dia pernah memesannya untuk Bryan.


Mata Chika membulat sempurna melihat wanita yang duduk di pangkuan Felix. Sebagai wanita dia merasa sangat risih. Namun, dia senang karena rencananya berjalan dengan lancar.


Jika Felix tergoda, jadi aku punya alasan.


Chika bersorak senang karena wanita itu menggoda Felix dan secara tidak langsung melancarkan rencananya. Namun, lambat laun Chika merasa sangat kesal saat melihat wanita itu terus membelai Felix.


Kenapa dia santai saja disentuh-sentuh begitu.


Chika menggerutu dalam hatinya saat melihat Felix yang tampak diam saja. Dia menebak jika Felix sudah biasa melakukan hal itu dengan wanita-wanita di klub.


"Apa atasanmu itu tidak membutuhkan aku lagi?" Wanita itu bertanya seraya membelai tubuh Felix.


"Dia sudah menikah." Felix menjawab dengan tenang.


"Kalau atasanmu sudah menikah, bagaimana jika dirimu saja yang menikmati tubuhku?" tanya wanita itu dengan nada sensual. Tangan wanita itu membelai bibir Felix menggoda agar Felix tertarik pada dirinya.


Chika yang melihat benar-benar terheran-heran. Dia baru tahu cara wanita menggoda. Dia memilih mengalihkan pandangannya. Tangannya mengambil minuman untuk menutupi rasa canggungnya.


Baru saja Chika meminum minumannya, dia justru merasakan rasa pahit dan tidak enak dari minumannya. Matanya langsung melihat ke arah gelas yang berada di tangannya, memastikan minuman apa yang diminumnya.


Ternyata dia mengambil minuman milik Felix yang berisi alkohol. Dengan cepat Chika meletakkan kembali minumannya, dan beralih mengambil minuman miliknya.


Minuman yang cukup banyak dia minum membuat lidahnya terasa pahit. Dia buru-buru meminum jus miliknya untuk menghilangkan rasa pahit.


Felix yang melihat Chika salah meminum tersenyum. Dia menyadari jika tunangan itu sedang sangat tidak nyaman dengan pemandangan di hadapannya.


Sebenarnya, Felix selalu menolak jika ada wanita di pangkuannya selain kekasihnya. Namun, dia sengaja melakukannya untuk melihat apa yang akan dilakukan Chika.


"Aku tidak tertarik denganmu. Jadi pergilah!" Felix menjawab tawaran dengan tegas. Tangannya mendorong lembut tubuh wanita itu agar menjauh darinya.


Wanita itu hanya bisa pasrah. Dia memang tahu jika Felix tidak seperti atasannya yang mengunakan jasa para wanita malam.

__ADS_1


Chika tampak kesal saat wanita itu justru pergi dan Felix menolak tawarannya. Semua itu di luar dugaannya. "Kenapa tidak mau dengannya?" tanyanya penasaran.


"Apa kamu mengizinkan calon suamimu menikmati tubuh wanita lain?" tanya Felix tersenyum penuh arti.


" Em …." Chika merasa bingung. Sejujurnya niatnya datang ke klub adalah untuk membuat Felix tergoda dan meniduri wanita di klub, tetapi tidak mungkin dia mengatakannya.


"Jadi kamu tidak mengizinkan?" Felix mendekat pada Chika untuk memastikan kembali.


Chika semakin bingung karena ternyata kalimat itu yang keluar dari mulutnya. "Aku tadi bertanya kenapa kamu tidak mau, kenapa kamu balik bertanya padaku?" Dia salah tingkah saat mendengar pertanyaan Felix. Akhirnya dia kembali pada pertanyaannya.


"Oh … itu." Felix menjauhkan tubuhnya dari tubuh Chika. "Aku memang tidak pernah melakukan dengan wanita malam."


"Lalu dengan siapa?" tanya Chika penasaran.


"Aku melakukannya dengan kekasihku." Felix mencoba menjelaskan.


Chika mengumpat dalam hatinya karena salah menduga jika Felix akan tergoda dengan wanita malam.


Sepertinya aku harus cari strategi lain.


Merasakan rencananya gagal, Chika akhirnya memikirkan rencana lain. "Apa kekasihmu suka ke sini?" Chika menatap Felix rasa ingin tahunya begitu menghinggapi perasaanya.


Mendengar jawaban Felix, Chika merasa sangat senang. Dia berharap kekasih Felix datang dan mengajak Felix untuk menghabiskan malam.


Waktu menunjukan jam satu pagi, tetapi tidak tampak kekasih Felix datang. Chika terus saja beralasan ingin melihat situasi klub dan tidak mau pulang, hingga membuat Felix pasrah.


Suasana sudah tidak kondusif. Banyak orang yang sudah mulai mabuk parah. Hingga akhirnya Felix meminta Chika untuk pulang, karena tidak mau terjadi apa-apa pada Chika.


Chika hanya bisa pasrah karena semua rencananya gagal. Dia hanya bisa merelakan rencana-rencananya yang sudah dia susun terlepas begitu saja.


Chika dan Felix pulang ke apartemen dan sampai jam empat pagi. Felix memeringatkan Chika untuk tidak terlambat pergi ke kantor, seperti janji yang dia berikan.


Chika mengangguk dan masuk ke dalam apartemen. Karena tidak mau terlambat, Chika memilih untuk tidak tidur. Sambil menunggu, dia memilih untuk mandi dan bersiap. Kemudian, dia ke apartemen Felix untuk memasak.


Rasa kantuk yang tak tertahan membuat Chika memilih tidur sebentar sebelum jam berangkat kerja. Duduk di sofa, dia memejamkan matanya sejenak.

__ADS_1


Felix yang keluar dari kamarnya terkejut. Dia melihat Chika tertidur di sofa. Makanan juga sudah tersedia di meja makan.


Menghampiri Chika, Felix membangunkan Chika. Dia ingin mengajak tunangannya itu sarapan dan berangkat bekerja.


Chika terkejut dibangunkan oleh Felix. Akan tetapi dia menguatkan diri untuk bangun. Bersama Felix dia makan dan berlanjut berangkat bekerja.


***


Waktu menunjukan jam sebelas siang. Chika merasakan kepalanya yang begitu pusing karena kurang tidur. Namun, pekerjaannya begitu banyak.


"Chika, ikut saya untuk makan siang dengan Bryan." Regan keluar dari ruangannya. Dia ingin membahas tentang proyek baru dengan Bryan.


"Baik, Pak." Chika mengambil tasnya dan langsung mengikuti Regan.


Di dalam mobil, Chika berusaha membuka matanya. Sesekali dia memijat kepalanya yang pusing karena kurang tidur.


"Apa kamu tidak enak badan?" Regan yang memerhatikan Chika tampak pucat, bertanya pada sekretarisnya itu.


"Tidak Pak, saya baik-baik saja," elak Chika.


Sebenarnya Regan tidak percaya karena yang dilihatnya adalah wajah pucat Chika, tetapi dia tidak mau memaksakan sekretarisnya itu untuk menjawab.


Sampai di restauran, Regan dan Chika masuk dan menemui Bryan dan Felix. Namun, belum juga langkahnya sampai di meja Bryan dan Felix, tiba-tiba Chika pingsan.


Felix yang sudah dari jauh melihat Chika memegangi kepalanya langsung berlari menghampiri. Dugaannya tepat, karena saat dia sampai di hadapan Chika, saat itu juga Chika terjatuh lemas.


"Kenapa dia pingsan?" Bryan yang melihat Chika pingsan malah dengan bodohnya bertanya.


"Bawa dia ke mobil, kita bawa dia ke Rumah sakit." Regan dengan tegas memerintahkan Felix.


Felix langsung menangkup tubuh Chika dan membawa ke mobil Regan, sedangkan Bryan masuk ke dalam mobil, mengikuti mobil Regan dari belakang.


"Seingatku tadi pagi dia baik-baik saja saat di apartemen," gerutu Felix. Dia melihat wajah Chika penuh kekhawatiran.


"Dia tinggal di apartemen?" tanya Regan.

__ADS_1


"Iya dia tinggal di apartemen denganku." Mata Felix melihat wajah Chika yang tampak pucak.


Regan menginjak rem mobilnya dan menatap Felix yang duduk di belakang. "Kamu menghamilinya?" Mata Regan membelalak saat berbicara pada Felix.


__ADS_2