Wedding Project

Wedding Project
Pelajaran Kedua


__ADS_3

Chika ikut suaminya tanpa tahu ke mana harus pergi. Ternyata suaminya memang sudah menyiapkan semuanya. Karena ternyata satu koper miliknya sudah tersedia untuk dibawa. Entah bagaimana Felix mendapatkan koper miliknya, Chika tidak tahu. Akan tetapi, dia yakin jika kakaknya yang turut serta membantu. 


Di Bandara akhirnya Chika tahu ke mana mereka akan pergi, karena dari tiket penerbangan menunjukan jika mereka akan ke pulau Dewata.


Setelah penerbangan yang memakan waktu dua jam, akhirnya mereka sampai. Seorang tour guide sudah menunggu mereka. Hotel yang menghadap ke laut memudahkan untuk melihat pemandangan indah di sana. Tak butuh waktu lama, setelah meletakkan koper mereka menuju ke pantai. 


Chika yang begitu antusias langsung mengajak Felix ke pantai. Tak ada kata lelah saat mata disuguhkan pemandangan indah. Hamparan pasir yang begitu indah serta laut yang terbentang ini, begitu memanjakan mata. Tak ada kata lagi untuk mengungkapkan betapa indahnya ciptaan Tuhan.'


Berjalan di atas pasir membuat Chika begitu senang. Sengaja dia melepas alas kakinya untuk merasakan pasir yang menempel di telapak kakinya.


Saling menggenggam mereka berdua berjalan di pinggir pantai. Mencari tempat yang pas untuk menunggu sang surya yang pulang ke peraduannya. 


Mereka memilih duduk di pinggir pantai melihat ke arah laut. Menanti matahari yang perlahan tenggelam. Warna jingga yang perlahan muncul begitu terlihat mengagumkan.


Momen itu tak Chika lepas begitu saja. Dia mengabadikan moment itu dengan ponselnya. Kelak akan menjadi kenangan untuknya. 


"Apa kamu suka?" tanya Felix.


Dengan senyum manisnya Chika menjawab, "iya, sangat suka. Terima kasih sudah membawaku kemari." 


"Aku senang melihatmu bahagia." Felix menatap lekat wajah Chika. Di depan sang surya yang sedang pulang ke peraduannya, dia mencium istrinya. Tangannya meraih ponsel Chika dan membidik satu foto. 


Chika yang melihat aksi Felix tertawa. Karena dia menebak foto itu tidak akan jadi karena pasti tidak akan pas karena mata tak melihat ke arah ponsel. 


Ingin menertawakan hasil jepretan suaminya, Chika meraih ponsel dan melihatnya. Namun, sayangnya ternyata foto mereka berada tempat satu jajar dengan matahari. Terlihat begitu indah saat mereka saling mencium.


"Kenapa bisa? Padahal tadi kamu tidak melihatnya." Chika menatap Felix tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. 

__ADS_1


Felix tersenyum sombong. Namun, dalam hatinya memikirkan bagaimana bisa foto bisa pas. Mungkin hanya kebetulan saja. 


Sang surya yang perlahan kembali ke peraduannya. Kini berganti dengan bulan. Warna langit yang terang perlahan juga mulai gelap. 


Felix mengajak Chika untuk kembali ke hotel. Membersihkan diri untuk bersiap makan malam. 


"Aku akan mandi lebih dulu." Chika sudah tahu jika momen di hotel yang tak boleh dilewatkan adalah berendam. Apalagi aroma terapi yang disediakan pasti akan membuatnya rileks. 


"Jangan kunci pintunya." 


"Kenapa?" Dahi Chika berkerut dalam, bingung. 


"Biar jika ada apa-apa tidak susah." Felix memberikan alasan yang terlintas dipikirannya. 


"Oh ...." Chika yang tahu langsung berlalu meninggalkan Felix.


Chika yang masuk ke dalam kamar mandi, Chika menemukan aroma terapi yang begitu enak. Dia benar-benar sudah tak sabar menikmati tubuhnya terendam air hangat dengan tetesan aroma terapi. 


Tak menunggu lama, Chika melepas bajunya dan masuk ke dalam bathup yang sudah terisi air.  Menikmati air hangat, mata Chika terpejam. merasakan rileks. Begitu menenangkan berada dalam situasi tersebut. 


Namun, kenikmatan itu sedikit terusik ketika mendengar suara pintu dibuka. 


"Sepertinya kamu sangat menikmati?" Felix melangkah menghampiri Chika. 


Chika terkejut dengan kedatangan Felix. Suaminya itu hanya memakai handuk di pinggang saat masuk. "Kamu mau apa?"


"Mencari kenikmatan."

__ADS_1


Mata Chika membulat. Tidak mengerti apa yang diucapkan Felix. "Kenikmatan apa?" tanyanya curiga. 


"Kenikmatan berendam dengan aroma terapi." Felix membuka handuk dan ikut masuk ke dalam bathup dan membuat Chika menggeser memberikan ruang. 


Tanpa aba-aba, Felix mendaratkan ciuman. Tak membiarkan Chika melayangkan protes. "Ini pelajaran kedua." Saat memberikan ruang Chika mengambil napas, dia menjelaskan. 


Pelajaran yang hanya diberikan Felix pada Chika. Yang sebenarnya akan lebih menguntungkan dirinya. Menguntungkan untuk merengkuh kenikmatan. 


***


Waktu sudah menunjukan pukul delapan saat mereka selesai pelajaran yang tak habis untuk dieksplor. Perut yang sudah berdemo, sudah tak sabar untuk minta segera diisi. Di salah satu meja makan, mereka menikmati makan malam mereka. 


"Harusnya kamu menunggu besok pagi. Jika seperti sekarang, kamu menyiksaku dengan menahan lapar," gerutu Chika. 


Felix hanya tersenyum. Merasa bersalah karena membuat istrinya kelaparan dan juga merasa senang karena tadi tak ada drama protokol yang harus dilakukan. "Bukannya kamu sudah dalam keadaan bersih. Jadi pelajaran tadi cukup sesuai dengan keinginanmu bukan?" Senyum menyeringai, puas bisa menghabiskan waktu dengan istrinya dengan alasan pelajaran. 


Chika mencebikan bibir. Tak melanjutkan protesnya. Jika yang pertama sedikit sakit, perlahan dia mulai menikmati irama yang diberikan Felix. 


"Setelah ini kita mulai pelajaran ketiga." 


Chika langsung tersedak. Belum kegiatan mereka berselang beberapa jam, tetapi Felix sudah merencanakan kegiatan pelajaran lagi. 


Sepertinya dia ingin membuatku semakin pintar, batin Chika tertawa. 


.


.

__ADS_1


Jangan lupa vote. Rencana Minggu ini aku lagi mau kejar kelarin ini ya. biar Minggu depan bisa ke My Perfect Daddy


__ADS_2