Wedding Project

Wedding Project
Jantung Berdebar


__ADS_3

Chika menelan salivanya saat Regan meminta Felix mengantarkan ke dokter. Mata Felix yang menatapnya penuh perasaan khawatir membuatnya bingung harus menjawab apa.


"Tadi dia bilang jantungnya berdebar, aku takut nanti seperti Selly." Regan menambahi ucapannya.


Pipi Chika merona. Rasanya dia malu sekali. Jantungnya yang berdebar bukanlah sakit jantung tetapi berdebar karena mendengar rayuan Felix tadi pagi.


"Jantungmu sakit? Apa rasanya seperti terhimpit? Susah untuk bernapas juga?" Menatap Chika penuh dengan rasa khawatir, Felix mencecar dengan pertanyaan.


"Bukan," elak Chika, "jantungku berdebar bukan karena itu." Chika benar-benar tidak tahu harus menjelaskan pada Felix apa.


"Lalu kenapa jantungmu berdebar tadi pagi?" tanya Regan.


Berhadapan dengan Felix dan Regan yang terus bertanya membuat Chika semakin bingung. Dia sendiri tidak tahu perasaan apa itu, tetapi yang jelas adalah perasaan itu bukan karena sakit jantung.


"Apa rasanya berdebar saat dekat dengan seseorang?" Suara Bryan terdengar ikut melemparkan pertanyaan. Dia dulu juga berpikir jika jantungnya berdebar karena ada penyakit jantung, saat dia mulai menyukai istrinya.


Di hadapkan dengan tiga pria membuat Chika salah tingkah. Dia semakin malu dan tidak tahu harus menjawab apa.


Bryan memperhatikan perubahan wajah Chika. Dia dapat membaca, jika yang terjadi pada Chika sama dengan yang terjadi dengannya. "Sudahlah, dia hanya jatuh cinta, tidak akan terjadi apa-apa." Dengan polos Bryan menjelaskan pada Felix, Regan dan Chika.


Felix menatap Chika lekat. Namun, kemudian senyum tersirat di wajahnya. Tadi pagi memang dia baru saja merayu tunangannya itu dan mungkin saja itu yang membuatnya berdebar.


Chika hanya bisa menarik napasnya dan membuangnya kasar. Dia sendiri saja belum bisa mengartikan perasaanya, bagaimana bisa Bryan menyimpulkan semuanya. Beralih melihat Felix, Chika dibuat semakin tidak mengerti dengan senyuman yang Felix berikan.


"Oh itu …." Regan tersenyum. Akhirnya dia tahu jawabannya kenapa sekretarisnya itu tadi pagi memegangi dadanya.


"Sudah, kalau begitu ayo kita kembali ke kantor." Felix tahu Chika sangat malu. Jadi dia tidak mau menambah salah tingkah tunangannya. Berdiri dia berpamitan dengan Regan.


Bryan yang diajak kembali ke kantor juga ikut berdiri. Namun, sebelum kembali ke keluar dari ruangan Regan, dia menggoda Chika terlebih dahulu. "Itu sembuh jika sudah diungkapkan, jadi ungkapkan saja." Dia tersenyum dan melangkah keluar dari ruangan Regan.


Rasanya Chika ingin tengelam di dalam dasar laut yang dalam untuk menyembunyikan wajah malunya. Semoga saja nanti Felix tidak akan menggodanya atas kejadian ini hari ini.


***


Sampai di apartemen Chika masih saja diam. Sejak masuk ke dalam mobil untuk pulang, Chika memilih diam saja. Dia menatap ke arah lain, selain Felix. Tidak mau ada kontak mata dengan Felix, yang mengakibatkan dia salah tingkah.


"Jadi ikut ke gym?" tanya Felix sebelum masuk ke dalam apartemen.


Chika teringat dengan janjinya tadi pagi yang akan ke gym. Dia mengangguk menjawab pertanyaan Felix. Felix pun meminta Chika bersiap dan akan ke tempat gym bersama-sama.

__ADS_1


Di tempat gym Chika dan Felix melihat banyak orang yang juga sedang berolah raga. Beberapa wanita dibantu pelatih gym melakukan gerakan-gerakan.


"Kamu mau apa?" tanya Felix pada Chika.


Chika memilih-milih alat gym yang ada. Matanya tertuju pada satu alat yaitu treadmill, akhirnya dia memilih alat itu saja untuk membakar kalorinya.


Felix membantu Chika untuk mengatur kecepatan alat. "Treadmill bagus untuk menurunkan berat badan, membakar kalori dan menjaga kesehatan jantung." Saat mengucapkan kata 'jantung' senyum Felix tertarik di sudut bibirnya.


Menyadari Felix sedang menggodanya, Chika hanya mencebikkan bibirnya. Pembicaraan masalah jantung sepertinya tidak akan usai.


"Baiklah, ini sudah aku atur, santai saja, karena jika kamu terlalu bersemangat yang ada jantungmu akan semakin berdebar kencang." Felix kembali menggoda Chika seraya meninggalkan Chika.


Chika hanya memutar bola matanya malas. Dia kesal karena Felix terus membahas masalah jantung.


Felix memilih treadmill yang berada di samping Chika. Berdampingan, agar bisa sekaligus mengobrol dengan tunangannya itu. Benar saja, Chika memulai pembicaraan dengannya. Dia meminta izin untuk bertanya dan Felix mengangguk.


"Apa kamu mengenal Theo Julian?" tanya Chika yang begitu masih penasaran.


"Kamu sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Felix memastikan.


"Iya, waktu dia meminta untuk bekerja sama dengan Pak Regan."


Chika memikirkan nama Felix, sampai akhirnya dia menemukan jika nama belakang Felix dengan Theo sama. "Dia papamu?" tanyanya memastikan.


"Iya." Felix mempercepat alat treadmill dan membuatnya berlari.


Dia anak orang kaya kenapa jadi asisten orang lain?


Chika bertanya-tanya dalam hatinya. Melihat raut wajah Felix yang berubah membuat Chika menyadari sesuatu. Antar Felix dan papanya sedang tidak baik-baik saja dan bagaimana papa Felix meminta tolong Regan bekerja sama dengan perusahan Adion, menjelaskan jika komunikasi mereka tidak baik.


Chika memilih menutup mulutnya. Dia tidak berani bertanya jauh pada Felix saat melihat raut wajah Felix yang tampak tidak suka saat membahas papanya. Dia pun kembali melanjutkan lari di atas treadmill.


Sesekali Chika melihat Felix yang sudah bercucuran keringat. Dari pertama kali ke gym, dia sudah melihat lengan berotot milik tunangannya itu, karena tunangannya memakai kaos tanpa lengan. Bulir keringat yang mengalir di tubuh Felix, membuat kulitnya tampak sexy.


Sebenarnya melihat tubuh Felix bukan pertama untuk Chika. Pertama saat dia tidak sengaja melihat di apartemen, kedua saat dia sedang berenang. Karena tidak fokus dan langsung membuang muka, akhirnya dia tidak melihat indahan yang tercipta dari tubuh yang sering olah raga itu.


"Aku rasa jantungmu akan terbiasa jika dibantu dengan memandangi." Felix berbicara tanpa melihat Chika. Dia hanya melirik sedikit Chika yang sibuk meliriknya juga.


Chika tersadar saat Felix memergokinya meliriknya. Buru-buru dia membuang muka. Dia tidak mau Felix melihat wajahnya yang bak tomat merah.

__ADS_1


Jantung … oh … jantung. Kamu benar-benar menyusahkan aku, keluh Chika dalam hati.


Felix tersenyum melihat Chika. Dia senang, tunangannya itu sudah mulai ada ketertarikan dengannya. Berharap sebelum menikah, Chika sudah menyukainya dan penikahannya bisa terjadi karena cinta.


"Hai, Felix," sapa seorang wanita menghampiri Felix.


"Hai, Laura." Felix tersenyum dan menyapa balik wanita itu.


"Wah … sudah lama aku tidak melihat kamu di sini," ucapnya dengan nada sensual.


"Aku sibuk."


Chika yang mendengar percakapan Felix dengan wanita di sebelahnya benar-benar kesal, sama kesalnya saat melihat Felix dengan wanita di bar. Namun, Chika yakin jika wanita itu bukan kekasih Felix, karena Felix tampak biasa saja dengannya.


"Siapa dia?" tanya Laura mengarahkan matanya pada Chika.


"Aku tunangannya." Suara Chika terdengar penuh penegasan. Dia ingin menegaskan jika pria yang sedang diajaknya bicara adalah tunangannya.


"Oh, kamu sudah bertunangan. Aku pikir setelah putus dengan Angel, kamu belum punya pacar."


Angel? Chika menebak jika nama wanita yang disebut itu adalah mantan Felix.


"Aku tidak mencari pacar, tapi calon istri, dan ini calon istriku," ucap Felix seraya menatap Chika.


"Baiklah, aku tunggu undangannya." Laura menepuk lembut bahu Felix dan bergegas pergi dari tempat Felix.


"Siapa Angel?" Chika langsung melontarkan pertanyaan sesaat setelah wanita itu pergi.


.


.


.


.


...Jangan lupa berikan like, komentar, vote dan hadiah....


...Hadiah itu gratis ya, kalian bisa dapat di pusat misi. ...

__ADS_1


...Biar aku tambah semangat nulisnya ...


__ADS_2