
Felix dan Chika menunggu hasil laboratorium. Perasaan mereka begitu berdebar-debar. Satu sisi ada sebuah harapan di hati mereka. Namun, di sisi lain, mereka menguatkan hati jika sampai hasilnya tidak sesuai dengan keinginan.
Seorang perawat melintas di depan Felix dan Chika. Tampak dia membawa sebuah map dan masuk ke dalam ruangan dokter. Beberapa saat nama Chika dipanggil dan dipersilakan masuk.
Felix menggenggam tangan Chika saat berhadapan dengan dokter. Tangan Chika yang dingin menandakan jika begitu ketakutan.
Dokter membuka hasil laboratorium dan langsung membacanya. "Selamat, Ibu Chika hamil." Setelah membaca hasil laboratorium, dia mengulurkan tangan pada Chika dan Felix.
Chika dan Felix terperangah. Tak percaya dengan apa yang didengarnya. Felix yang melihat dokter mengulurkan tangan, buru-buru menerimanya. Kemudian dia menatap istrinya. "Kamu hamil."
Chika balik menatap suaminya. Air matanya menetes, merasakan bahagia. Anak yang sudah ditunggunya empat bulan ini akhirnya hadir juga.
Felix menghapus air mata Chika. "Kita akan punya anak."
"Iya."
Mereka berdua kembali menghadap dokter. Dokter menjelaskan jika Chika bisa melanjutkan pemeriksaan pada dokter kandungan untuk mendapatkan vitamin dan pengecekan lebih lanjut.
Felix dan Chika mengangguk dan melanjutkan pemeriksaan ke dokter kandungan. Di ruang tunggu mereka berdua masih terharu mendengar kehamilan Chika.
Saat nama Chika di panggil mereka berdua masuk ke dalam ruang periksa. Terlihat seorang dokter cantik di sana. Dokter melihat hasil laboratorium dari dokter umur, kemudian memulai memeriksa kandungan Chika untuk memprediksi berapa tepatnya usia kandungan Chika.
Di atas ranjang periksa, perut Chika dibuka untuk di olesi gel untuk USG oleh perawat. Dokter mulai mengarahkan alat USG pada perut Chika dan mulai mengerakkan mencari di mana letak kandungan Chika.
"Usia kandungan Ibu Chika sekitar delapan minggu atau dua bulan." Dokter yang sedang memeriksa perut Chika menunjuk ke arah layar USG.
Chika dan Felix berkaca-kaca melihat titik hitam yang diduga adalah anak mereka. Rasa bahagia begitu melingkupi hati mereka. Tak menyangka akhirnya penantian mereka tiba.
"Usia dua bulan itu bayi sebesar kacang tanah." Dokter mulai menjelaskan.
Dahi Felix berkerut membayangkan jika bayi yang sebesar kacang tanah. Ukuran kacang tanah yang kecil membuatnya merasa bingung. Namun, dokter menjelaskan kembali jika bertambahnya usia kandungan akan bertambah juga ukurannya. Dia merasa lega karena anaknya akan semakin besar.
__ADS_1
dokter kemudian meresepkan vitamin pada Chika dan meminta untuk mengurangi kegiatan yang berat.
Setelah melakukan pemeriksaan Felix mengajak istrinya untuk pulang. Di sepanjang perjalanan Felix terus menggenggam tangan Chika dan mendaratkan kecupan di punggung tangan.
Namun, sejenak dia mengingat sesuatu. "Apa dokter tidak salah meminta untuk menunggu sampai usia kandungan di atas tiga bulan untuk melakukan hubungan suami istri?" Dia mengingat apa yang dikatakan dokter dan melayangkan protes pada istrinya.
"Kamu dengar bukan, jika dokter bilang seperti itu."
"Iya, tapi baru kemarin kita melakukan dan buktinya aman. Berarti tidak masalah bukan?" Felix tidak membayangkan jika harus libur dulu beberapa waktu.
"Iya juga ya?" Chika tampak berpikir. "Mungkin kondisi kehamilanku kuat, jadi aman dan tidak terjadi apa-apa."
"Maka dari itu, sudah jangan dengarkan dokter."
"Lalu?"
"Kita tetep seperti biasa melakukannya. Bukannya kata dokter boleh dilakukan asal pelan-pelan." Selain saran untuk menghentikan kegiatan hubungan suami istri dokter membubuhi dengan saran melakukan dengan pelan jika memang tetap ingin dilakukan.
"Apa kamu yakin bisa pelan?" Chika menatap Felix penuh curiga.
Chika masih menatap Felix dengan rasa tidak percaya. Dia sudah hapal betul bagaimana suaminya.
"Aku janji." Felix menoleh pada Chika, meyakinkan istrinya itu.
Chika tak bisa menolak janji yang tampak meyakinkan itu, apalagi suaminya itu tidak mungkin berlibur untuk hal itu.
Sampai di rumah, Chika melihat Shea yang sedang bermain dengan anaknya di depan rumah. Waktu menunjukan jam sebelas dan masih belum terlalu panas untuk bermain.
"Hai, El Sayang." Chika menghampiri Shea dan anaknya.
"Kalian dari mana?" Shea tadi diberitahu jika Felix tidak masuk kerja, jadi Bryan harus segera berangkat bekerja.
__ADS_1
"Dari rumah sakit."
"Iya, tadi Bryan bilang kamu sakit. Memang sakit apa?"
"Bukan sakit," elak Chika.
"Lalu?" Dahi Shea berkerut dalam.
"Aku hamil," jawab Chika lirih.
"Apa?" pekik Chika. El yang berada di gendongannya sempat terkejut mendengar suara mommy-nya. "Kamu hamil?" tanya Shea menurunkan suaranya.
"Iya," jawab Chika seraya menganggukkan kepalanya.
"Selamat ya." Shea memeluk Chika, merasa senang karena temannya itu akhirnya hamil juga.
"Terima kasih."
"Wah ... nanti harus ada pesta di rumah."
"Tapi aku tidak bisa menyiapkan."
"Sudah biarkan aku dan Kak Selly yang siapkan, kamu duduk manis saja." Rasa senang atas kehamilan Chika membuatnya tak mempermasalahkan kesibukan yang akan dikerjakannya.
"Terima kasih, nanti aku juga akan mengundang mama dan papa."
"Iya, undang mereka agar kita bisa bersama-sama merasakan kebahagiaan."
Chika mengangguk tersenyum. Dia ingin kebahagiaan kehamilannya akan dirasakan oleh semua anggota keluarganya. Apalagi kedua orang tua Felix dan orang tuanya sangat mengharapkan anak dari Chika.
.
__ADS_1
.
.