Wedding Project

Wedding Project
Pesta Pernikahan Erix


__ADS_3

Suasana pagi di rumah baru membuat Chika bersemangat untuk bangun. Buru-buru dia keluar dari kamar, meninggalkan suaminya yang masih tertidur pulas.


Saat menuruni anak tangga tampak asisten rumah tangga yang dibawa mertuanya kemarin sedang membersihkan ruang keluarga. Walaupun semalam sudah dibersihkan setelah para tamu pulang, masih ada beberapa yang terlewat. 


"Pagi, Bi." Chika menyapa dengan ramah. Wajah tanpa riasannya tetap bersinar walaupun baru bangun tidur. 


"Pagi, Nyonya." 


"Hari ini biar saya saja yang masak." 


"Baik, Nyonya." 


Chika melanjutkan kembali langkahnya menuju ke dapur. Tangannya langsung bergerak membuat beberapa hidangan pagi. Berperang dengan bahan-bahan dan alat masak. 


Di kamar, Felix mengerjap. Saat pagi dia sudah hapal jika tidak akan bisa menemukan istrinya di sebelahnya. Apalagi sekarang di rumah baru, sudah pasti istrinya sangat bersemangat. 


Menyibak selimutnya, dia bangkit dari tempat tidur. Hal yang pertama ingin dilakukan adalah menemui istrinya dan melihat apa yang dilakukan sepagi ini. 


Menuruni anak tangga, aroma masakan tercium. Senyuman Felix tertarik di sudut bibirnya. Dia sudah menebak jika istrinya yang sedang memasak. 


Langkah Felix terus dia ayunkan sampai di dapur. Kebiasaan istrinya adalah terlalu fokus saat memasak, sehingga membuatnya tak menyadari kedatangan Felix. 


Felix yang melihat tubuh Chika bergerak ke sana ke mari, begitu gemas. Tangannya langsung bergerak memeluk Chika dan membuat istrinya itu terkejut. 


"Sayang." Chika melepas pelukan suaminya seraya memutar tubuhnya. 


"Kenapa dilepas?" protes Felix.


"Kita sudah tidak tinggal di sini sendiri, bagaimana jika asisten rumah tangga melihat?" 


"Kalau begitu ayo kita lanjutkan di kamar." Felix mengangkat tubuh Chika. 


"Kamu kenapa menggendong aku, kamu tahu bukan aku sedang masak." 


"Matikan kompornya!" 


Mata Chika membulat sempurna. Bukannya menurunkan suaminya justru meminta mengakhiri memasak. Karena tak mau masakannya gosok, dia mematikannya kompornya.


Melihat kompor yang sudah aman, Felix membawa tubuh istrinya ke kamar. Saat di depan dapur, mereka bertemu dengan asisten rumah tangga. Chika sungguh sangat malu terpergok sedang digendong Felix. 


"Bi, tolong lanjutkan masaknya." Dengan tenang, Felix memerintahkan asisten rumah tangga dan melanjutkan kembali langkahnya menuju ke kamar. 

__ADS_1


"Kenapa santai sekali?" keluh Chika. 


"Memangnya kenapa? Yang aku gendong istri sendiri bukan istri orang."


Chika mencebikkan bibirnya. Kesal juga karena Felix tidak tahu malu. "Apa kamu tidak lelah?" 


"Memangnya aku mau ajak kamu apa?" Felix tersenyum menyeringai. 


"Em … em tidak tahu." Karena malu Chika membuang muka. 


Felix tak tahan untuk tidak mendaratkan kecupan bertubi-tubi. Gemas sekali melihat istrinya. "Aku hanya ingin mengajakmu mandi?"


"Hanya mandi?" Chika kembali memutar wajahnya menatap Felix. 


"Memangnya kamu mau apa?" Felix tersenyum menyeringai. 


"Tidak," elak Chika. 


Felix tertawa melihat wajah istrinya. Membawa istrinya ke kamar mandi. Kali ini kegiatan benar-benar mandi, karena mereka belum sarapan. Felix selalu tak tega jika harus menunda jam makan istrinya. 


Menyelesaikan mandi, Felix dan Chika melanjutkan untuk sarapan. Duduk di meja makan mereka menikmati sarapan. 


"Kita akan berangkat setelah jam dua belas ya." Felix mengingatkan Chika untuk datang bersiap tepat waktu untuk pergi ke ke acara pernikahan Erix dan Lyra. 


Felix mengangguk. Merasa lega, karena dia tahu bagaimana jika wanita bersiap untuk pergi ke pesta. Mereka akan mengunakan waktu yang begitu banyak. 


***


Acara pernikahan Erix dan Lyra diadakan dengan luar ruangan, dengan konsep garden party. Acara dihadiri oleh teman dan keluarga. Erix yang berasal dari keluarga Maxton terlihat begitu mewah saat mengelar pesta. 


Beberapa tamu juga berdatangan dari para pengusaha hingga para dokter. Pesta begitu meriah dan penuh kebahagiaan. 


Tiga pasangan fenomenal mendampingi Erix sampai ke pelaminan. Menyaksikan acara sakral antara Erix dan Lyra. Mereka berenam memakai baju yang sama. Para wanita mengenakan gaun berwarna biru dan para pria mengenakan jas yang berwarna senada. Tampak mereka sangat kompak. 


Rangkaian acara selesai. Mereka semua memberikan selamat untuk Erix yang sudah menikah. Mendoakan pasangan pengantin baru. 


Selesai, acara mereka saling berbincang. 


"Apa kita seperti anak kembar?" bisik Felix pada Bryan.


Bryan mendengus kesal. "Kenapa kita harus memakai baju yang sama? Menyebalkan sekali!"

__ADS_1


"Biar saat di antara kita ada yang hilang, lebih mudah mencarinya." Regan menimpali obrolan. 


Felix menatap aneh ayah satu anak itu. Sejak punya anak dan lebih tepatnya sering bersama Bryan, pria kaku itu jadi humoris. 


"Kakak pikir aku Al atau El!" ketus Bryan. 


Tawa Felix dan Regan terdengar membuat Bryan ikut tertawa. Tiga pria itu memang pasrah saat istri mereka meminta memakai baju yang sama.


Obrolan mereka terhenti dua bayi kecil yang berada di dalam gendongan itu minta untuk turun dan berjalan-jalan.  


Felix yang ditinggal dua ayah itu menghampiri istrinya. 


Chika yang sedari tadi melihat makanan yang berjajar rapi, buru-buru mengajak Felix untuk mengambil makanan. Dari sup asparagus, salad, puding coklat dan beberapa makanan lain diambil Chika. 


Melihat istrinya yang seperti sudah tidak makan tiga hari itu, dia merasa sangat bingung. Padahal biasanya istrinya itu tidak makan sebanyak itu. 


"Apa kamu selapar itu?" Baru melihat Chika yang makan dengan lahap, Felix sudah merasa sangat kenyang. 


"Makanannya begitu menggoda, jadi aku tidak tahan." Mulut Chika terus mengunyah makanan. Entah kenapa dia tidak tahu kenapa begitu ingin makan makanan yang begitu mengiurkan itu. 


Felix hanya bisa pasrah dengan perubahan istrinya. Seperti apa pun istrinya, dia akan menerimanya, termasuk jika nanti istrinya itu tiba-tiba menggemuk. 


Chika terus sibuk dengan makanannya hingga akhirnya tidak kuat untuk melanjutkan pesta. Dia mengajak suaminya untuk pulang karena begitu kekenyangan. 


"Kenapa kalian buru-buru pulang?" Shea yang mendapati Chika ingin pulang bertanya.


"Iya, aku lelah." Chika yang kekenyangan memang malas sekali di pesta. Matanya terasa berat dan sangat mengantuk.


Lelah? Felix yang mendengar merasa heran. Seingatnya istrinya sedari tadi hanya makan, dan menurutnya hal itu tidak membuat istrinya lelah. 


"Ya sudah, kalian pulang saja. Nanti aku akan sampaikan pada Erix dan keluarga jika kalian pulang." 


"Terima kasih, Bry." Felix menepuk bahu Bryan dan berbalik meninggalkan acara pesta. 


Melajukan mobilnya, Felix mengajak Chika  untuk pulang. Di mobil Chika sudah terlelap. Felix yang melihat hanya bisa tersenyum.


Sampai di rumah, istrinya itu masih tertidur pulas. Tak tega membangunkan, dia mengendong, membawanya ke kamar.


Wajah polos Chika saat tidur memang selalu mengemaskan baginya, tak membuatnya merasa keberatan saat istrinya itu harus berada di dalam gendongannya. 


Satu kecupan mendarat di dahi Chika saat Felix merebahkan tubuh mungil itu di atas tempat tidur. 

__ADS_1


Dengan setia, Felix melepas sepatu dan melepas baju yang melekat di tubuh Chika.  Tak mau membiarkan istrinya tidur dengan gaun. 


__ADS_2