Wedding Project

Wedding Project
Belajar Mengetahui


__ADS_3

Tubuh Felix dan Chika saling berhadapan. Sejenak mata mereka saling memandang. Namun, buru-buru Chika mengalihkan pandangan pada El, mengecek apa bayi kecil itu sudah tidur apa belum.


Mata kecil El tidak sama sekali terpejam, justru mata kecil itu masih bulat sempurna dan tidak menunjukan tanda-tanda mengantuk. Susu yang diminum juga sudah sisa separuh karena bayi kecil itu begitu cepat menyedot susu di dalam botol.


"Kenapa dia tidak tidur?" Chika menatap Felix bingung melihat El yang tidak tidur.


Felix tersenyum. Tangannya mengusap dahi El seraya menyanyi. Terakhir kali dia menjaga El di kantor, Bryan memintanya menyanyi, jadi dia mencoba untuk melakukan hal itu, berharap bayi kecil itu cepat tidur.


Mendengar suara Felix yang menyanyi membuat Chika menarik senyum disudut bibirnya. Suara Felix terdengar merdu dan tidak membuat sakit telinganya.


Perlahan mata El redup, tetapi sesekali masih mengerjap khas bayi akan tidur. Susu yang dipegang Chika, perlahan ditarik, karena susu sudah habis. Mulut kecil itu masih bergerak menyusu, terlihat begitu lucu.


"Dari mana kamu tahu jika El tidur harus dinyanyikan?" tanya Chika lirih agar El tidak terganggu dengan suaranya.


"Waktu itu El diajak ke kantor dan Bryan mengajari aku."


Chika mengangguk mengerti penjelasan Felix. Semakin ke sini, Chika melihat sisi lain dari Felix dan mampu membuatnya kagum. Terlepas apa yang terjadi di masa lalu Felix.


Saat Erik yang baik dan menunjukan kebaikan, terasa biasa saja, tetapi saat Felix yang berbuat baik kenapa aku terkagum-kagum?


Pertanyaan itu hadir di hati Chika. Memang sampai sekarang dia masih berharap Erik. Berharap pria itu yang kelak menjadi pendamping hidupnya, tetapi melihat Felix, rasanya Chika tidak tega.


Erik. Saat nama dokter muda itu disebut, Chika teringat jika sudah sangat lama sekali dia tidak menghubungi. Chika yang juga sibuk juga sama tidak pernah menghubungi.


Saat cinta hadir di depan mataku, aku justru mengejar cinta yang tak pasti.


Chika menertawakan dirinya sendiri. Obsesinya pada Erik belumlah padam, hingga dia tak bisa melihat cinta Felix.


Suara bel terdengar saat Chika sedang berada dalam lamunannya. "Itu pasti kue yang aku pesan," ucap Felix seraya bangkit perlahan dari tempat tidur. Gerakannya dibuat perlahan agar tidak membangun El.


Kemudian keluar dari kamar untuk mengambil pesanan kue miliknya.


Sesaat kemudian Felix masuk ke dalam kamarnya dan memberi kode Chika untuk duduk di sofa. Menikmati kue yang dibelinya sambil mengawasi El yang tidur di atas tempat tidur.


Chika bangun perlahan dari tempat tidur. Berusaha pelan-pelan agar El tidak bangun. Saat berhasil bangun, Chika menghampiri Felix dan ikut duduk di sofa.

__ADS_1


"Cheese cake," ucap Felix seraya memberikan kue pada Chika.


Chika terkesiap melihat logo toko di mana dia sering membeli kue itu. "Dari mana kamu tahu aku suka kue itu?" Chika memang suka kue yang terdapat di salah satu toko terkenal di ibu kota. Rasanya cheese cake dari toko berbeda, sangat lembut dibanding toko kue lain yang menyediakan varian yang sama.


"Aku sedang belajar mengetahui apa yang kamu suka." Felix tersenyum dan memakan kue yang dipesannya. Miliknya adalah blueberry. Rasa manisnya begitu pas saat digigit.


Senyum juga tertarik di sudut bibir Chika, tetapi langsung tertutup saat dia memakan kue miliknya. Dari mana pun Felix tahu, tetap saja membuat Chika senang.


"Kamu tidak mau tanya apa yang aku suka?" tanya Felix.


Karena merasa tidak enak, akhirnya Chika bertanya, "Apa yang kamu suka?"


"Kamu."


Jawaban Felix seketika membuat Chika menghentikan aksinya memakan kue. Dia tidak mengerti kenapa Felix menjawab seperti itu. Pipi Chika menghangat, merasakan hatinya yang begitu senang. Tidak menyangka sebesar itu cinta Felix. Menutupi rasa malunya dia kembali bertanya, "Kenapa aku?"


"Kamu tadi tanya apa?" tanya Felix polos menatap Chika seraya mengedikkan dagunya.


"Apa yang kamu suka?" Chika mengulang pertanyaannya lagi.


Chika baru menyadari jika pertanyaannya salah. Rasa malunya semakin menjadi, hingga akhirnya membuatnya mengalihkan pandangan.


Felix yang melihat Chika hanya bisa tersenyum sambil menikmati kue yang dimakannya.


"Tidur pulas sekali El." Felix mengalihkan pembicaraan agar Chika tidak canggung.


Chika beralih melihat El yang memang tertidur pulas. Wajah bayi kecil itu begitu tenang, seolah tak terusik sama sekali dengan dua orang dewasa yang disekitarnya.


"Anak-anak itu bisa tenang karena belum memiliki masalah." Chika mengatakan karena dia merasa masalah begitu banyak menimpanya.


"Masalah memang terjadi pada orang dewasa, tetapi ada dua jenis masalah, masalah yang datang sediri dan masalah yang dibuat sendiri." Suara Felix terdengar saat dia masih fokus pada El.


Chika yang menatap El menatap Felix. Entah kenapa kata-kata Felix begitu mengusiknya. Seolah memberikan tamparan keras padanya.


Masalah yang dibuat sendiri? Pertanyaan itu menggema di kepalanya, seakan sedang mengingatkan jika dia sedang membuat masalah untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Namun, sejenak egonya berperang di dalam sana. Menyalahkan Felixlah yang mengawali semuanya. Mengawali masalah yang menimpanya dan membuatnya memilih mencari masalah.


Chika menarik napas dan membuangnya kasar. Menahan gemuruh di hatinya saat mengingat semua yang terjadi padanya tak sesuai yang diharapkannya.


"Tidak semua masalah berdampak buruk karena sebagian berdampak baik juga. Intinya apa yang terjadi padamu hari ini, Tuhan sedang merencanakan yang terbaik, karena terbaik bagimu belum tentu terbaik kata Tuhan." Felix berdiri dia meletakan box kue di atas meja kemudian menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.


Chika terpaku mendengar ucapan Felix. Dia membenarkan jika mungkin apa yang terjadi padanya hari ini, akan ada kebaikan dikemudian hari.


Felix yang ke kamar mandi, melihat wajahnya dari pantulan cermin. "Aku akan membuatmu jatuh cinta." Dia menguatkan dirinya agar tetap kuat menghadapi Chika yang terkadang terlihat tidak suka dengannya.


Kembali ke kamar, dia melihat Chika sudah merebahkan tubuhnya di samping El. Ternyata bayi kecil itu sudah bangun dan menangis.


"Sudah bangun ternyata." Felix menghampiri El dan Chika,


"Aku tidak bisa menenangkannya." Walaupun kakaknya punya anak, Chika memang jarang sekali menjaga keponakannya. Dia justru lebih suka menggoda dan membuat nangis.


Felix langsung meraih tubuh El dan menggendongnya. "Kenapa menangis?" tanyanya.


Bayi kecil itu langsung terdiam dan meraih wajah Felix. Dia bergumam seolah sedang mengadu pada Felix.


"Apa Aunty Chika menganggu tidurmu?"


"Aku tidak mengganggunya," ucap Chika beranjak bangun di tempat tidur, menghampiri Felix. Wajahnya cemberut karena dituduh.


"Iya-iya." Felix yang gemas mencubit lembut pipi Chika dan langsung membuat Chika terpaku. Sentuhan Felix mampu membuat debaran di dalam hatinya kembali muncul.


.


.


.


.


...Jangan lupa ya kasih hadiah...

__ADS_1


__ADS_2