Wedding Project

Wedding Project
Lupa


__ADS_3

Selimut yang tersingkap membuat tubuh merasa hawa dingin. Tangan meraih selimut dengan mata terpejam. Namun, sayangnya selimut tak bisa menghangatkan tubuh. Sebuah dekapan menambah kehangatan dan menghilangkan hawa dingin yang baru saja menerpa. 


Chika yang merasa tangan kokoh memeluknya, mengerjap. "Ach … " teriaknya. 


"Kenapa-kenapa?" Felix yang sedang tidur nyenyak terbangun dengan keadaan bangun. Dari posisi tidur langsung duduk. Sudah bisa dipastikan kepalanya akan langsung pusing jika bangun tiba-tiba. 


"Kenapa kamu memelukku?" tanya Chika,  "bajuku?" Chika panik melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Buru-buru dia meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. 


Felix menggaruk tubuhnya yang tidak gatal. Tak mengerti kenapa Chika bertanya seperti itu. Padahal semalam mereka menghabiskan malam bersama. Namun, dari bagaimana Chika menutupi tubuhnya, Felix mengerti.  "Apa kamu lupa kita sudah menikah?" Dia memajukan wajahnya menunggu jawaban dari istrinya. 


Sejenak Chika tersadar jika dia sudah menikah. Tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang itu karena semalam dia baru saja melepas status gadisnya. Menunduk wajanya malu, dia merutuki kebodohannya menanyakan keberadaan Felix. "Maaf, aku lupa." 


Felix tersenyum melihat Chika lupa. Tangannya meraih dagu Chika. "Kamu juga tidak lupa bukan jika kemarin kita baru saja melakukannya?"


Chika semakin merona mengingat jika ternyata dia sudah menyerahkan semua pada Felix-pria yang sekarang menjadi suaminya. 

__ADS_1


"Sudah ayo tidur lagi." Chika merebahkan tubuhnya kembali mengingat waktu menunjukan jam tiga pagi. 


"Kamu membangunkan tidur indahku dan sekarang kamu mengajakku untuk tidur?" tanya Felix memeluk Chika. Dia tersenyum menyeringai. Senyuman penuh arti. 


Chika pasrah saat membangunkan singa tidur. Kini dia akan jadi santapan lezat sang singa yang telah bangun. 


Felix kembali mengulang kembali kegiatan semalam. Tubuh Chika yang sudah mulai menerima, perlahan mulai menikmati irama yang dibuat oleh Felix. 


***


Tubuh masih saling mendekap merasakan kehangatan. Dua insan saling memeluk menikmati tidur indah. Namun, sinar sang surya yang menembus celah gorden membuat mata mengerjap.


Tangan Chika yang usil, membelai lembut perut Felix. Bergerak ke mana otot yang membentuk enam kotak itu. 


"Apa kamu sedang menggodaku?" Suara serak Felix terdengar. 

__ADS_1


Chika langsung menengadah melihat wajah suaminya yang tampak sudah bangun. Akan tetapi, sayangnya Felix berbicara dengan mata yang masih terpejam. 


"Aku tidak menggoda, hanya memastikan seberapa keras perutmu itu."


Felix membuka matanya. Melihat Chika tersenyum. Kemudian dia mendaratkan kecupan di dahi wanita yang kini menjadi istrinya. "Lakukan apa yang kamu mau karena aku adalah milikmu." Dia mengeratkan kembali pelukannya.  


Rasa bahagianya tak akan sebanding dengan apa pun. Baginya memiliki Chika  adalah yang diinginkan. Jika boleh memilih dia ingin anaknya kelak dilahirkan dari rahim seorang wanita baik-baik. Karena menyadari keburukannya yang mungkin kelak anaknya akan menuruni sifat ibunya. 


"Ayo, kita sarapan. Penerbangan kita setelah makan siang." Waktu sudah menunjukan pukul sembilan. Terlalu siang jika dibilang sarapan, tetapi mau dikata apa jika mata terbuka saat sudah menjelang siang. 


"Kita mau ke mana?" Seingat Chika dia tidak ada rencana kemana-mana. 


"Honeymoon." Felix tersenyum dan mulai menyibak selimutnya, meninggalkan Chika yang masih diliputi rasa penasaran akan ke mana honeymoon mereka.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2