Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Apakah Ini Mimpi


__ADS_3

Deren tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Mana kala salah satu sahabatnya harus masuk ruang oprasi kerena mendapati luka yang cukup serius.


Codot, terpaksa harus menjalani opname lebih lama di rumah sakit karena luka yang di deritanya amat sangat serius. Bahkan, sampai saat ini, pria tinggi kurus itu belum sadarkan diri. Dengan penuh kesabaran para sahabat-sahabat itu pun menunggunya secara bergantian.


Lima hari berlalu ...


Rindu menggunung kini telah Aisyah dan Deren rasakan. Pasangan pengantin baru yang belum lama ini merasakan pembuktian cinta itu terpaksa berpisah karena suatu hal.


Meski mereka terhubung oleh mesia sosial, tetap saja namanya rindu butuh obat. Yaitu bertatap muka.


Aisyah gelisah, hatinya tak tenang. Malas rasaya jika terus diminta bersabar. Belum lagi, harusnya Aisyah sudah dijadwalkan bertemu dengannya. Terbang ke Palembang, bertemu dengan kedua orang tuanya. Sayangnya, Ibu Fatimah melarangnya datang. Ibu kandungnya ini mengatakan bahwa Palembang sangat berbahaya untuknya.


Setelah selesai menyelesaikan kewajibannya sebagai muslim, Aisyah memilih merebahkan tubuhnya di atas permadani di mana ia dan sang suami pertama kali merasakan indahnya pembuktian cinta mereka.


Air mata kerinduannya mengalir deras di sana. Ingin rasanya wanita cantik ini berlari ke tempat di mana sang suami berada. Pelukan dan kasih sayang Deren sungguh ia rindukan.


Malam semakin larut, katuk pun menyerangnya. Tapi dengan sekuat tenaga ia melawannya. Entahlah! saat ini detik ini ia ingin terjaga. Dan berharap sang suami akan datang memeluk dan menciumnya seperti malam syahdu itu. Mendekapnya penuh kasih sayang. Ya ... Aisyah merindukan saat itu.


Aisyah rindu, ingin merajuk seperti biasanya. Bertanya ... dan mengorek semua tentang sang suami. Lucunya, dengan sabarnya Deren akan menjawab pertanyaan yang ia ajukan. Terkadang ... pria tampan itu akan menghimpitnya di ketiak dengan gemas. Aisyah suka itu, bau badan Deren memang bisa membuatnya lupa diri. Belum lagibsuara tawa serak Deren yang mampu membuatnya merasa paling bahagia.

__ADS_1


Usaha Aisyah untuk terjaga ternyata sia-sia. Saat ini, ia telah terhanyut dalam indahnya mimpi. Tanpa ia sadari, ada dua pasang mata yang kini mentapnya dengan segala rasa yang ada. Mereka adalah Ibu kandungnya dan suami tercinta yang ia rindukan dari tadi.


"Masuklah, Bi," pinta Deren sambil memapah sang ibu mertua.


Ibu Fatimah tak bisa berkata apa-apa. Bibirnya gemetar menahan tangis. Deren pun membantunya duduk di sisi ranjang. Agar wanita paruh baya ini bisa puas memandang ratu dalam kehidupannya.


"Ini Aisyahku?" tanya Ibu Fatimah pelan. Seperti berbisik, mungkin ia tak ingin putri yang dirindukannya akan terjaga.


"Iya, Bi. Ini adalah Aisyahnya Bibi. Dia istriku juga," jawab Pria Tampan pemilik kamar ini. Deren tak mau kalah rupanya. Aisyah adalah miliknya. Ya ... ya ... ya, suka suka kau saja lah Deren. Dia memang milikmu.


"Dia cantik sekali," ucap Ibu Fatimah lagi. Senyuman dalam tangis itu sungguh membuat Deren ikut merasakan sesak di dadanya. Ibu Fatimah mencoum kening sang putri. Dia harum sekali, batin Ibu Fatimah.


"Apa kau bilang. Berani sekali kau bilang putri manisku cerewet. Kau yang bodoh," balas Ibu Fatimah tak terima. Deren malah tertawa.


"Diam bodoh. Dia sedang tidur, nanti terbangun. Kasihan putri ibu yang manis ini," ucap Ibu Fatimah kesal. Seketika Deren pun menghentikan tawanya. Menutup mulutnya, agar wanita pemarah ini tak memakinya lagi. Astaga, wanita ini lucu sungguh lucu. Dia bisa bertingkah seperti anak kecil yang takut kehilangan mainannya. Meskipun sisi lainnya adalah dia wanita tergarang yang pernah Deren kenal.


Ibu Fatimah terus memandang wajah teduh Aisyah. Deren paham akan kerinduan itu, maka dia pun memawarkan pada Ibu Fatimah untuk mengobati rasa rindu itu dengan terus berada di samping Aisyah.


"Bibi, tidur aja di samping Aisyah. Biar saya tidur di ruang kerja," ucap Deren menawarkan.

__ADS_1


"Tak apa. Biar aku tidur di kamar tamu saja. Kasihan, pasti dia juga rindu padamu," jawab Ibu Fatimah. Alhamdililah, ibu mertua yang pengertian, batin Deren licik.


"Bener ni, Bibi tak mau tidur sini?" tanya Deren lagi. Ibu Fatimah menyempitkan matanya. Ia tahu jika menantu tampannya ini sedang menggodanya.


"Kau tak perlu banyak tanya. Aku sudah memutuskan, atau mau aku tak mengizinkanmu tidur dengannya selamanya," ancam Ibu Fatimah.


"Kalau itu ya ampun atuh, Bi. Nanti kalau kami dipisahin terus, kapan dong kami bisa kasih Bibi cucu yang lucu-lucu," balas Deren dengan muka imutnya. Ibu Fatimah terlihat berfikir. Tersenyum bahagia saat mendengar kata cucu.


"Iya juga ya, aku ini kayaknya yang bodoh. Ya udah lah, kalian bikin banyak-banyak cucu buatku. Marilah antar aku balik kamar!" ucap Ibu Fatimah sambil berusaha bangkit dari duduknya. Deren pun tanggap dan langsung membantu sang ibu mertua kembali ke kamarnya.


"Bi, bibi tak kasihan kah sama paman?" pancing Deren. Karena Ibu Fatimah kekeh tidak mau bersama lagi dengan Om Patrio. Padahal, Om Patrio sangat mengharapkan wanita yang memberinya satu putri ini untuk kembali bersama.


"Untuk apa kasihan. Kami sudah terbiasa terpisah. Lagian tak pernah ada cinta diantara kami. Dia hanya menganggapku istri biasa, sudahlah ... jangan dibahas lagi. Bibi, lelah. Pengen istirahat," jawab Ibu Fatimah, wanita ini begitu kekeh dan teguh pendiriannya. Deren tak ingin terlalu memaksa, beliau pasti punya alasan tersendiri kenapa enggan kembali bersama dengan Om Patrio.


Ibu Fatimah termenung dalam kamarnya. Ini seperti mimpi baginya. Bertemu dengan pria yang sangat dicintainya. Bisa melihat putri yang lahir dari rahimnya. Andai semua orang tahu, bahwa dia mengetahui setiap langkah dan perbuatan Patrio selama ini. Mungkin, tak akan pernah ada yang berani memaksanya untuk kembali bersama pria yang pernah menghancurkan hatinya itu.


Ibu Fatimah bersyukur, Patrio hilang ingatan. Wanita paruh baya ini tak akan mendengar lagi makian dari sang suami. Bahkan, tanpa orang lain tahu Patrio pernah meragukan anak yang di kandungnya. Maka, jika keadaanya seperti itu mana mungkin ada wanita yang mau bersama.


Selama ini Ibu Fatimah menggenggam lukanya sendiri. Yang ia mau hanyalah, melihat dengan kepalanya sendiri anak dan suaminya baik-baik saja. Dan dia bangga, meskipun dia hidup bertahun-tahun dalam kerangkeng keserakahan tetapi dia mampu menghancurkan musuhnya dengan caranya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2