Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Kecurigaan Aisyah


__ADS_3

Wanita paruh baya itu menatap nanar langit-langit kamarnya. Kejadian demi kejadian yang telah ia lewati kini seperti sebuah film di depan matanya. Semua melintas jelas dengan sendirinya.


Ibu Fatimah mengingat kembali, bagaimana dulu Patrio hendak mengembalikannya pada orang tuanya. Saat tahu dirinya hamil. Dan Ibu Fatimah menyanggupi keinginan Patrio itu dengan syarat menunggu bayi yang ia kandung terlahir dulu ke dunia. Perih bukan perasaannya waktu itu.


Bahkan, Om Patrio juga sudah menyiapkan surat cerai untuk Ibu Fatimah. Bagaimana tak hancur perasaan Ibu Fatimah? Cinta tulusnya dibalas dengan kecurigaan yang tak beralasan.


Memang ada kesalahpahaman antara mereka, dan Ibu Fatimah sudah menjelaskannya. Sayangnya, Om Patrio tak semudah itu percaya. Ibu Fatimah putus asa, akhirnya ia pun menyetujui permintaan Om Patrio untuk berpisah.


Ternyata,Tuhan punya jalan lain untuk memisahkan mereka. Bukan ketukan palu dari hakim Melainkan diambilnya ingatan Patrio, dan dijauhkannya raga mereka.


Ibu Fatimah bukan wanita bodoh yang menyerah begitu saja. Dengan dibantu oleh orang-orang kepercayaannya beliau pun mencari tahu keberadaan sang suami. Tapi sayang, setelah ia menemukannya Ibu Fatimah mendapati kenyataan yang lebih pahit. Om Patrio menikah dengan anak dari pria yang mengincarnya untuk dijadikan istri.


Hancurnya perasaanya tak bisa ia tahan lagi. Mana kala orang tuanya juga termakan oleh bujuk rayu pria jahanam itu. Untuk menjadikannya selir dan sebelum itu terjadi, Ibu Fatimah memilih menjadi wanita gila dan bisa menyerang siapa saja yang mendekatinya.


Wanita paruh baya ini mengusap air matanya dengan kasar. "Kau sudah terbiasa sendiri Fatimah. Untuk apa sedih, tanpa dia kamu bisa 'kan?" ucap Ibu Fatimah menguatkan diri sendiri.


"Persetan dengan cinta yang masih ada ini, aku tak akan pernah mengulangnya lagi Patrio Guran. Kamu dan aku tak akan pernah bisa bersama lagi. Dalam ikatan apapun, maka jangan pernah bermimpi," ucapnya penuh amarah.


Ibu Fatimah enggan berkompromi dengan kata maaf rupanya. Mungkin saat ini hatinya yang telah rapuh itu sudah membeku. Meski dia tahu, bahwa umur Om Patrio tak lama lagi, tetap saja tak bisa mengerakkan hatinya. Wanita paruh baya ini tetap kekeh tak ingin kembali pada Patrio. ia enggan untuk memupuk cinta yang masih tersisa itu. Bu Fatimah memilih menjaga hatinya dari luka yang mungkin akan menganga lagi.


***


Deren sudah selesai membersihkan diri, menunaikan kewajibannya sebagai muslim dan kini saatnya menganggu istri yang dia rindukan. Wanita cantik ini terlihat menggemaskan ketika terlelap. Deren suka melihatnya, dia berharap bisa memiliki anak dari wanita yang kini memiliki hatinya ini.


Pria tampan ini pun sepertinya sudah tak sabar, ia pun naik ke ranjang dimana istrinya berada. Ada perasaan nyaman saat menatap wajah ayu yang telah terlelap itu. "Dasar tukang tidur," ucap Deren. Dengan lembutnya ia pun mengecup kening pemilik hatinya. Mengelus rambut panjang sang istri. Jari jemarinya juga tak kuasa menahan hasrat untuk tidak menyentuh wajah ayu itu.

__ADS_1


Dengan cinta yang kini telah menguasai sanubarinya, Pria tampan ini pun memangut bibir Aisyah agar wanita tukang tidur ini bangun dan menyapanya. Deren melepaskan pangutannya mana kala Aisyah mulai mengeliat dan merasakan tidurnya terusik.


Pelan tapi pasti, wanita cantik itupun membuka matanya. Dengan santainya Deren tersenyum tanpa dosa. Aisyah menyambut senyuman itu dengan kebahagiaan tak terhingga. Bahagia sekali rasanya, Aisyah langsung menarik sang suami masuk ke dalam pelukannya. Menciumi wajah suaminya tanpa ampun. Deren hanya diam dan membiarkan sang istri melakukan apapun yang ia mau. Sudahlah, dari pada nangis nanti.


"Aak, boong," ucapnya sambil menahan tangisnya.


"Loh, boong gimana? kan Aak udah bilang, kalau urusannya selesai Aak pasti cepet balik," ucap Deren.


"Tapi, tadi siang Aak bilang belum bisa balik," sangkal Aisyah. Deren tertawa pelan.


"Tu, kan! ngledek," ucap Aisyah manja. Deren makin gemas, dikecupnya bibir merah muda milik istrinya itu. Aisyah tak menolak, dia malah menyukainya.


"Siapa bilang Aak ngledek? Kamu mau tahu nggak Aak dateng sama siapa?" tanya Deren.


"Sama siapa, Ak? Apakah sama ayah dan ibu?" Aisyah malah balik bertanya. Wanita ini begitu antusias, dia terlihat girang dan bersemangat.


"Ayah nggak bisa pulang sekarang, Dek. Beliau masih dalam pemulihan," ucap Deren berbohong. Padahal, saat ini Om Patrio saat ini sudah berada di Negeri Jiran untuk memeriksakan lebih lanjut pasal sakit yang dideritanya.


"Ooh, padahal Aish udah kangen banget sama ayah Ak, apakah ibu menemani ayah juga?"


"Nggak, Dek. Ibu ingin ketemu kamu. Jadi ikut pulang kesini," jawab Deren.


Mendengar Ibunya tak menemani sang ayah membuat Aisyah merasa aneh. Sedih, dan tak mengerti. Pasalnya saat ini ayahnya sedang membutuhkan seseorang yang mungkin mencintainya. Lalu? mengapa ibunya tak mau menemani sang ayah.


Deren tahu jika istrinya ini sangat peka dengan masalah. Terlihat dari raut wajahnya yang sedih itu, pria ini menilai jika Aisyah pasti curiga. Tapi, dia merasa tak ada kuasa untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara ayah dan ibu mereka.

__ADS_1


"Kok diem, nggak seneng ya Aak pulang?" tanya Deren.


"Seneng, Ak. Tapi Aish hanya sedih," jawab Aisyah sembari memainkan kancing piama suaminya.


"Kalau senang kok cemberut gitu, apa yang kamu pikirkan istriku?"


"Aish merasa aneh aja sama ibu. Harusnya ibu saat ini nemenin ayah. Bukan malah ikut Aak kesini," jawab Aisyah jujur.


Apa yang di takutkan Deren benar adanya. Istrinya pasti curiga dengan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.


"Nggak ada masalah apa-apa sama mereka, Dek. Kamu nggak usah khawatir. Semua pasti baik-baik saja. Di sana ayah nggak sendiri kok. Anak buah ibu jagain mereka kok," jawab Deren mencoba menepis apa yang istrinya curigai.


"Baiklah Ak, Aish percaya sama Aak," jawab Aisyah.


Deren tersenyum dan mengecup lembut kening sang istri. Kalau boleh jujur, kecupan itu sungguh sangat Aisyah rindukan.


Cintanya pada sang suami dan kejujuran mereka tempo hari telah membuat semuanya terasa samgat indah.


"Ibu udah tidur belum ya, Ak?" tanya Aisyah, saat ini hati wanita ini memang sangat merindukan ibunya dan ingin segera bertemu. Tetapi hari sudah sangat malam untuk bertemu.


"Ibu tadi ke sini, Dek. Dia udah nyiumin kamu juga. Aak sampek iri. Aak aja belum, ibu udah ngabisin semuanya," ucap Deren dengan nada bercandanya.


"Benarkah? Ibu tadi ke sini Ak?" tanya Aisyah antusias. Tersenyum penuh kebahagiaan.


"He em, kamu sih. Tidurnya kayak kebo."

__ADS_1


"Aak, Aish nggak seperti itu," balas Aisyah manja, dipukulnya dada sang suami dengan gemas. Deren enggan meladeni kemanjaan itu berlama-lama. Sepertinya pria tampan ini memiliki niat tersendiri pada istrinya.


Bersambung....


__ADS_2