
Aisyah sudah selesai dengan ritual mandinya, memakai handuk serta mengeringkan rambutnya. Selesai dengan itu, gadis cantik ini pun bersia memakai baju. Betapa terkejutnya dia, saat membuka paperbag warna ungu itu. Aisyah kesal, baju yang di siapkan Arti untuknya terkesan kurang bahan, tipis dan tembus pandang, bukan lagi! namanya juga ligerly.
"Ya Allah, mbak Arti. Baju apaan yang dia kasih ke aku," ucap Aisyah sambil membuka baju tidur tipis berwarna pink itu. Aisyah mengerutu sendiri di kamar mandi, dia pun ingat bahwa di dalam kamar ada Deren, suaminya. Siapa tahu si babang tampan bisa membatu masalahnya, ye kan!!!😂
Aisyah pun membuka pintu kamar mandi dan melongokkan kepalanya. Memanggil Deren yang masih duduk termenung di sisi ranjang.
"Aak, sini deh," pinta Aisyah dengan muka seriusnya. Agaknya gadis ini lupa kalau dia belum memakai baju lengkap, hanya memakai handuk saja. Deren pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Aisyah.
"Ada apaan, Dek?" tanya Deren.
"Sini Aak masuk," ajak Aisyah sambil menarik tangan Deren.
Deren menurut, dia pun ikut masuk ke dalam kamar mandi. Mata Deren ternoda, istri cantiknya hanya mengenakan handuk. Astaga, pria ini jadi gagal fokus. Mata itu langsung tertuju pada pandangan indah di depan matanya. Uwooow ... ini amazing, pengalaman baru. Deren terpesona!.
"Ada apaan?" tanya Deren lagi, sambil menghela napas dalam-dalam. Berusaha mengembalikan pikiran positifnya. Aisyah pun memberikan bajunya berbahan tipis dan transparan itu ke tangan suaminya.
"Apaan ini?" agaknya Deren masih belum mengerti apa yang istrinya mau.
"Coba Aak lihat, masak mbak Arti kasih bajunya beginian?" ucap Aisyah kesal. Deren pun membuka baju itu. Senyum mengembang di wajah tampan itu, membuat Aisyah semakin kesal.
"Kenapa Aak, tersenyum?" Aisyah terlihat makin kesal.
"Emangnya apa yang salah dengan ini?" tanya Deren, pria tampan ini malah membuka baju itu tanpa malu.
"Nggak salah gimana sih Ak? Coba Aak lihat. Lengannya aja nggak ada. Dada Aish pasti kelihatan. Terus pendek banget. Kan Aish pekeknya depan Aak. Malu lah, Aak kan cowok. Lagian Aish nggak pernah pakek baju beginian, Ak!" jawab Aisyah semakin kesal. Astaga istriku, lalu apa bedanya dengan keadaanmu yang sekarang, saat ini kamu malah hampir telanjang, batin Deren lucu.
"Nggak apa-apa, Dek. Ini cantik kok, imut. Sesuai sama karakter kamu. Lagian cuma buat tidur kan. Pakek selimut aja nanti kalau malu," ucap Deren memberi saran.
"Nggak mau, Aak. Aish malu!" jawabnya ngotot.
"Ooo, ya udah. Sekarang kamu maunya gimana?" tanya Deren mengalah. Ternyata pria ini memang lebih suka bermain dengan pikirannya. Ketimbang berdebat dengan wanita lugu setengah oon ini.
"Pinjamin Aish baju Aak," pintanya.
__ADS_1
"Ya udah, mau Aak bawa kemari tasnya atau kamu yang keluar?" tanya Deren.
"Aish tunggu sini aja. Kan malu kalau keluar," jawab Aisyah. Ini lagi jawabannya super nggak masuk akal, dia mau malu sama siapa? di sini cuma ada aku , suaminya. Ya Tuhan mimpi apa aku punya istri oon begini, batin Deren.
Deren pun membuka pintu kamar mandi dan keluar. Astaga, Deren tertawa mengingat kejadian aneh di kamar mandi tadi. "Ya Tuhan, dia bodoh sekali," gumam Deren.
"Aak, cepetan. Dingin," ucap Aisyah kembali melongokkan kepalanya di pintu.
"Oh, iya bentar. Lupa Aak!" jawab Deren gugup. Pria tampan ini pun langsung mengambil tasnya dan membawanya masuk ke kamar mandi.
"Nah, buka aja. Pilih mana yang mau kamu pakek," ucap Deren. Aisyah pun menerima tas baju itu. Memilih mana yang hendak dia pakai. Tanpa sengaja, tangan Aisyah menemukan sesuatu yang aneh menurutnya.
"Aak ini apa?" tanya Aisyah sambil mengangkat celana dalam berwarna abu-abu itu.
"Celana dalem, Aak. Kenapa emang?" jawab Deren dengan muka datarnya.
"Oh, nggak. Nggak apa-apa!" jawab Aisyah tersipu malu. Deren pun tersenyum, ingin dia cup aja rasanya itu bibir imut. Istrinya ini memang menggemaskan.
"Astaga, kenapa otakku jadi mesum gini, sih?" tanya Deren pada dirinya sendiri.
"Eh, ngapain Aak masih di sini. Keluar sana!" ucap Aisyah. Spontan Deren pun terkejut. Lucu, aneh dan tak tau lah.
"Oh, sori. Maaf, maaf. Lupa Aak," jawab Deren mengalah. Padahal dalam hatinya dia menertawakan gadis aneh ini.
"Ah ... sudahlah, semoga saja ke oonannya hanya di tunjukan padaku," ucap Deren, sambil mengelus tengkuknya. Jujur saja sih, Deren tak habis pikir. Ini gadis sungguh aneh baginya. Keluguan Aisyah selalu membuatnya ingin tertawa.
Deren kembali duduk di sisi ranjang. Memikirkan kembali syarat yang diberikan Aisyah padanya. Mungkinkah dia mampu? Sedangkan tadi aja pikiran mesumnya datang. "Ya Tuhan, kuatkan aku," guman Deren takut sambil menutup mukanya, kalut.
Lamunan Deren buyar seketika mana kala, Aisyah keluar dari kamar mandi dan menyapanya.
"Aak, nggak mandi?" tanya Aisyah. Deren pun menoleh.
"Ini mau mandi," jawab Deren.
__ADS_1
"Bajunya udah Aish siapin ya. Handuknya juga sudah," ucap Aisyah.
"Oke, makasih ya."
"Sama-sama, Aak mau makan lagi nggak?" tanya Aisyah.
"Nggak, Dek," jawabnya. Kalau makan kamu mau Aak, jawab Deren dalam hati. Dasar, otakmu Aak, Aak. Dih! Deren merutuki dirinya sendiri.
"Baiklah, mandi sana," ucap Aisyah sambil menarik tangan suaminya. Bukannya nurut pria ini malah mendekap tubuh sang istri. Tubuh kecil ini hampir oleng, untung tenaga Deren kuat dan mampu menahannya.
Aisyah menatap heran pada suaminya. "Aak, mau ngapain?" tanya Aisyah takut.
Deren diam, pikirannya kalut. Antara mau dan takut.
"Aak, mau ngapain kata Aish?" desak Aisyah.
"Enggak, Aak nggak mau ngapa-ngapain. Emang? nggak boleh ya peluk istri. Kan kita udah sah, Dek," jawab Deren sesuai kenyataan.
"Tapi Aak 'kan udah janji," ucap Aisyah sambil memanyunkan bibirnya. Duh tu bibir, aku rindu. Kangen banget sama itu bibir, gumam Deren dalam hati.
"Emang? Aak janji apaan?" pancing Deren.
"Kan Aak nggak akan nuntut hak Aak sebelum menemukan ibu 'kan," ucap Aisyah mengingatkan. Gadis aneh ini menatap takut pada pria yang mendekapnya.
"Soal itu bisa kita bicarakan nanti. Yang penting kamu mau memaafkan keluargaku dulu. Sebenarnya yang otaknya mesum itu aku apa kamu?" jawab Deren, ternyata pria ini sungguh pandai memutar balikkan fakta.
"Ya ... Aish nggak mesum Aak. Aish cuma takut," jawab Aisyah melemah. Suaranya terdengar pelan. Malu! seperti baru pertama merasakan cinta saja. Wajahnya memerah mana kala Deren mengecup keningnya.
"Aak, udah janji 'kan! untuk mengambil hak Aak kalau kamu siap. Aak bukan pria pemaksa istriku," ucap Deren. Hati Aisyah kembali tersentuh oleh kebaikan hati Deren. Pria ini begitu serius menjaga perasaanya.
Saat ini, detik ini. Sebenarnya! Yang Aisyah rasakan adalah dia pun, ingin memiliki suaminya. Ingin dimiliki oleh Deren. Tapi malu, dia sudah terlanjur menolaknya lagi. Aisyah bimbang dengan perasaannya. Antara malu dan mau.
Bersambung....
__ADS_1