
Kejujuran dan keterbukaan dalam sebuah hubungan sangatlah penting.....
"Aish, akan cerita sama Aak. Tapi Aak jangan marah ya," pinta Aisyah. Permintaan Aisyah ini sangat aneh menurut Deren. Mengingat dia tak pernah marah kan pada wanita cantik ini. Deren tersenyum sambil menatap wajah ayu itu.
"Kok, Aak senyum. Ada yang aneh ya? kerudung Aish miring atau krim wajah Aish nggak rata?" tanya Aisyah lugu. Deren malah tertawa mendengar pertanyaan aneh itu. Ya Tuhan, andai kami sudah halal. Pasti sudah ku makan kamu, Dek. Batin Deren.
"Loh kok malah ketawa, apanya yang lucu, Ak?" tanya Aisyah lagi.
"Enggak, nggak ada apa apa? kamu cantik. Hijabnya nggak miring kok, krim wajahnya juga rata. Hanya bibinya saja yang ...!" Deren menghentikan ucapannya. Sengaja, biar Aisyah penasaran.
Aisyah mengusap-usap bibirnya. Takut kalau ada makanan menempel di sama. Secara barusan dia makan, pas masih ada Arumi. Deren terus saja tersenyum, gadisnya ini memang selalu lugu dan menggemaskan baginya.
"Udah, udah bersih bibirnya. Jangan diusap-usap terus. Bikin!!!" ucap Deren lagi, memancing keluguan Aisyah.
"Bikin apa, Ak? bibir Aish kenapa? masih bengkak kah?" tanya Aisyah bertubi-tubi. Deren tak tahan lagi, dia pun meraih kepala Aisyah dan mengecup keningnya gemas.
"Udah diam, jangan tanya lagi," ucap Deren. Aisyah hanya melongo, berusaha menerjemahkan apa yang kekasihnya katakan.
Lama-lama Aisyah pun paham. Dia tahu sekarang, apa maksud dan tujuan Deren membuat teka-teki panjang lebar dari tadi.
"Aak nakal!" ucap Aisyah sambil memukul lengan kekar Deren. Tawa menghiasi ruang itu. Aisyah menutup mulutnya dengan jari-jari manisnya.
"Nakal gimana? kan kamu juga yang ngajarin Aak waktu itu kan?" ucap Deren. Kali ini dia memang berniat membuat kekasihnya menyerah padanya.
"Ya suasananya kan lain Ak. Aish pikir, Aish nggak akan ketemu Aak lagi," jawab Aisyah jujur. Sesuai apa yang dia pikirkan saat itu.
Deren memegang kedua tangan Aisyah dan menciumnya. Pria ini terlihat sangat mencintainya memang. Dan kini Aisyah percaya bahwa yang dikatakan Arumi kemarin memang benar.
"Aak tampan," puji Aisyah sambil tersenyum manis di depan Deren.
"Kamu juga cantik, Dek," balas Deren.
Mereka saling tersipu malu. Tangan Deren masih memegang tangan gadis itu. Bahkan, Deren memainkan jemari Aisyah.
Aisyah hanya memperhatikan apa yang kekasihnya lakukan. Deren terlihat sangat lugu jika diam begitu. Cute sekali, gemas rasanya. Entahlah ... yang jelas, jika lagi bareng begini rasanya sangat indah. Aisyah berharap hari ini jangan cepat berahir. Dia ingin hari ini Deren tak pergi kemanapun. Aishyah ingin Deren terus bersamanya. Apakah aku serakah? tanya Aisyah dalam hati.
"Aak, Aish boleh nanya nggak?" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Tanya aja, bukankah itu memang hobi kamu nanya-nanya soal Aak," jawab Deren. Duh ... si Aak bikin adek malu aja. Aisyah tersenyum malu, Deren selalu bisa membuatnya salah tingkah sekarang.
"Loh, kok malah senyum-senyum, apanya yang lucu?" tanya Deren.
"Nggak ada, eeehheeemmm ... oke. Nggak jadi deh!"
ucap Aisyah malu.
"Lah ... !"
"Lihat muka cute Aak, bikin Aish lupa mau nanya apa?" jawab Aisyah, senyum masih menghiasi bibir cantik itu. Deren pun mencolek manja hidung mancung Aisyah.
"Kirain mau nanya berapa hari Aak nggak mandi!" ucap Deren. Senyum berhenti seketika dari bibir Aisyah. Gadis ini memang paling tak suka jika Deren. tak mandi.
"Emang berapa hari Aak nggak mandi?" tanya Aisyah ketus. Tu kan, aku bilang juga apa, soal mandi aja udah bisa bikin dia emosi, ucap Deren dalam hati.
Deren tak menjawab, dia malah tersenyum meledek.
"Aak, dih. Ditanya bukanya jawab, malah senyum ngeselin gitu," ucap Aisyah kesal.
"Kamu tu lo, cepet amat badmood, jelek tahu. Lihat ni keningnya berkerut (Deren mengelus kening Aisyah) cepet tua nanti. Belum juga jadi ibu-ibu udah keriput," ledek Deren.
"Aak udah tahu itu, dasar crewet. Aak udah mandi juga, tadi Aak minta si Yoyok anterin baju ganti. Ni kalau nggak percaya, cium aja ni haa ... gemas Aak," ucap Deren sambil mendekap gemas Aisyah. Aisyah tertawa tak percaya, ternyata Deren sudah mulai paham tentangnya.
"Ampun Aak premanku. Aak lucu!" jawab Aisyah sambil menutup mulutnya. Takut Deren kelepasan dan mengecupnya.
"Udah ah Ak, becanda mulu. Kapan ngomong seriusnya?" tanya Aisyah sambil mendorong tubuh Deren agar menjauh darinya. Deren melirik sekilas pasa kekasihnya. Siapa suruh bikin Aak pengen makan kamu, batin Deren.
"Ya udah kamu cerita sekarang, Aak dengerin!" jawab Deren.
"Baiklah ... Aak udah pernah ketemu abahnya Aish belum?" tanya Aisyah.
"Udah!"
"Apakah abah cerita siapa ayah Aish sebenarnya?" tanya Aisyah lagi. Deren menatap Aisyah, tak percaya Aisyah. Pertanyaan Aisyah sungguh aneh baginya.
"Kok kamu nanyanya begitu? abah nggak ada bilang apa-apa tu. Beliau hanya nanya, apakah Aak dekat sama kamu? gitu aja tanyanya," jawab Deren jujur apa adanya.
__ADS_1
"Sebenarnya ... (Aisyah menatap mata Deren. Begitupun sebaliknya), sebenarnya ...!" ucap Aisyah terbata-bata. Jujur dia ragu, takut Deren marah dan tak bisa menerimanya.
"Sebenarnya apa?" tanya Deren.
"Aak janji jangan marah!" pinta Aisyah.
"Itu terus yang dibilang, emang Aak pernah marahin kamu?" tanya Deren. Aisyah makin gugup dan takut.
Prediksi itu Deren dapat dari tatapan mata Aisyah yang teduh itu.
"Jangan takut Dek. Aak nggak akan nyalahin atau marahin kamu kok. Sebenarnya kamu anak siapa? ... Aak ngerti sayang, percayalah!. Karena sejatinya kita nggak bisa milih kan. Kita dibuat dan dilahirkan oleh siapa," ucap Deren memberi semangat pada Aisyah agar hatinya kuat. Dan siap untuk jujur tentunya.
"Makasih ya Ak. Aak begitu baik pada Aisyah. Sebenarnya Aisyah adalah anak kandung Om Patrio, Ak. Pemimpin Obor Merah yang terkenal kejam itu," jawab Aisyah. Deren diam, shock pasti. Tapi Deren berusaha mengerti. Tak mudah bagi Aisyah untuk mengatakan ini, dan Deren harus menghargai itu.
"Kok Aak diam. Aak, marah?" tanya Aisyah.
"Ah, enggak. Aak hanya bingung. Dari mana kamu tahu itu?" tanya Deren, ini sudah terbuka setengah, bukan? tak ada waktu lagi untuk mundur atau menutupi kenyataan ini. Toh lambat laun, Deren pasti tahu. Entah itu langsung darinya atau dari orang lain.
"Om Patrio adalah sahabat abah waktu muda. Bahkan, Aisyah sering melihatnya di foto," jawab Aisyah.
"Lalu?"
"Pas Aisyah dibawa menghadap Om Patrio, Aish langsung mengenalinya, karena sering melihat fotonya bersama abah. Beliau pun awalnya terkejut saat Aish menyabut namanya!" jawab Aisyah meneruskan ceritanya.
"Oke, lalu bagaimana tanggapan beliau setelah tahu kamu mengenalinya?" tanya Deren.
"Dia nanya lah Ak pastinya. Lalu Aish sebut nama abah, Aish pikir dengan menyebut nama abah bisa membuat si om ingat. Sayangnya Aish salah, beliau saat ini hilang ingatan Ak," jawab Aisyah.
"Hilang ingatan? jangan bilang kalau hilangnya ingatan ayahmu dimanfaatkan oleh wanita ular dan kesatuan King Kobra?" Deren mengungkapkan kecurigaannya. Ah tidak, lebih tepatnya prediksinya. Begitulah!.
"Aak benar, ayahku dimanfaatkan oleh mereka. Untuk lebih jelaskan kenapa dan bagaimana prosesnya Aish nggak tahu. Yang jelas kakek Aish, yang dari Ibu ikut andil dalam hal ini," ucap Aisyah. Deren makin tak habis pikir. Jiwa detektifnya langsung meronta dan touring dengan sendirinya.
"Apa ibumu masih hidup?" tanya Deren lagi, barang kali Aisyah juga membutuhkannya untuk menemukan sang ibu.
"Aish nggak tahu Ak. Aish belum ketemu sama abah. Aish juga pengen nanya. Soalnya Om Patrio benar-benar nggak ingat apapun tentang kejadian sebelum beliau kecelakaan," jawab Aisyah jujur.
Tanpa disuruh Deren pun langsung membawa Aisyah kedalam pelukannya. Membayangkan betapa rumitnya alur kehidupan gadis ini. Diusianya sekarang dia baru mengetahui jati dirinya. Belum lagi dia harus berjuang mencari ibunya nanti.
__ADS_1
Bersambung...
Like dan komen kalian tetap hadiah terbaik buat Aaknya gengsππππ