Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Sampai Tak Bisa Berkata-kata


__ADS_3

Ibu Fatimah hanya diam dan menerima setiap perlakuan Deren padanya. Deren begitu baik pada wanita ini. Diambilnya selimut yang ada di tas yang biasa dia bawa kemanapun dia pergi. Selimut berbentuk kain Bali itu juga biasa di pakai Aisyah ketika berpergian bersamanya.


"Selimutnya harum," ucap Ibu Fatimah. Deren tersenyum.


"Itu milik Aisyah, Bi," jawab Deren dengan senyum tampannya. Wanita itu terlihat sangat terkejut. Dia sama sekali tak menyangka bakal mendengar seseorang menyebut nama putrinya.


"Aisyah?" tanyanya sedikit takut.


"Iya, Aisyah. Putri, Bibi," jawab Deren. Sungguh saat ini suaranya terdengar pelan. Suara itu serasa nyangkut dan tertahan di sana.


Ibu Fatimah memeluk erat selimut itu. Bahkan, dia juga mencium berkali-kali selimut itu dalam isak tangisnya. Perasaan mereka berdua saat ini campur aduk. Antara bahagia, sedih, senang dan entahlah. Mereka saling melempar senyum.


Ibu Fatimah bingung, tak tahu harus bertanya apa? Harus mulai bertanya darimana? Rasanya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di benaknya. Sampai tak bisa berkata-kata.


"Bibi, jangan nangis. Besok Aisyah terbang ke sini kok. Bibi, mau ketemu Aisyah?" tanya Deren menawarkan sesuatu yang mungkin Ibu Fatimah mau.

__ADS_1


"Mau," jawabnya. Orang ini tak gila, dia waras dan bisa mengerti apa yang aku ucapkan? lalu? kenapa keluarganya membiarkan wanita ini menjalani penderitaan yang tak pantas dia dapatkan? kembali pertanyaan itu muncul di benak Deren.


"Bibi, apakah saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Deren lembut.


"Tidak!" teriaknya spontan. Mata teduhnya sekerika melotot ke arah Deren.


"Baiklah, Bi. Kalau saya tak boleh bertanya. Tapi apakah? Bibi nggak mau ketemu Aisyah dan paman Patrio. Mereka ada di rumah saya lo, Bi!" ucap Deren mencoba memancing dengan kata-kata teduhnya. Agar Ibu Fatimah tak takut dan mengubah mood-nya. Serta, paling tidak bisa percaya padanya.


"Jangan mengancam, atau aku lompat!" ancam Ibu Fatimah tanpa takut. Deren tak menyangka jika wanita ini begitu berani. Pantas saja Aisyah punya sifat kekeh dan tanpa rasa takut. Ternyata kedua orang tuanya juga luar biasa beraninya.


"Eh ... jangan Bibi. Nanti kalau Bibi loncat saya bisa dicekik paman Patrio, Bi. Apakah Bibi nggak kasihan sama saya. Saya kan udah susah-susah bawa Bibi keluar dari sana," bujuk Deren lagi. Ibu Fatimah kembali menatap Deren penuh permusuhan.


Deren langsung membawa Ibu Fatimah ke tempat di mana Joker dan Kopri menyewa rumah. Di sana juga sudah ada Om Patrio yang belum tahu bawa Deren dan kawan-kawannya sedang berusaha menyatukan keluarga ini mereka yang sempat terpisah oleh orang-orang yang tidak punya hati itu.


Tak dipungkiri saat ini Deren resah, karena mobil yang tumpangi para sahabatnya belum kelihatan. Rasanya gatal sekali, ingin dia menyusul dan melihat sendiri. Apakah mereka berhasil? Atau mungkin sebaliknya.

__ADS_1


Mobil yang membawa Deren dan Ibu Fatimah pun ahirnya sampai di rumah yang telah Deren dan tim nya siapkan untuk tinggal. Selama berada di Palembng ini.


Ibu Fatimah Clingukan penuh kecurigaan. "Rumah siapa ini? aku tidak mau di sini? tanya nya sambil menepis tangan Deren yang hendak menggendongnya.


"Ini rumah paman Patrio, Bi. Bibi nggak mau ketemu beliau. Bener?" sepertinya Deren memang harus berusaha keras dan sabar menghadapi wanita ini.


Ibu Fatimah masih tak percaya, dia beneran enggan keluar dari mobil. Mungkin dia takut disekap lagi. Mungkin!.


"Saya nggak bohong, Bi. Serius di dalam ada paman Patrio yang nungguin, Bibi. Turun yuk," bujuk Deren lagi. Astaga pria tampan ini harus ektra mengeluarkan kesabarannya. Ngadepin Aisyah dan Ibu nya ternyata beda tipis caranya. Deren tersenyum dalam hati. Rindu juga dia dengan wanita manja itu.


"Kita turun yuk. Paman Patrio udah nungguin Bibi di dalam," ajak Deren membujuk sang ibu mertua lagi.


Ibu Fatimah pun menyambut tangan kekar Deren, meskipun katakutan dan keraguan melanda pikirannya.


"Selimut ini milikku," ucap Ibu Fatimah saat Deren membawanya di belakang punggung.

__ADS_1


"Iya, Bi. Ambil aja. Nanti saya bilang sama neng Aish," jawab Deren sambil tersenyum menahan tawa. Deren memang iseng, sangat iseng. Tapi beginilah dia, pria sangar berhati malaikat jika berhadapan dengan orang orang baik dan ia sayangi.


Bersambung...


__ADS_2