
Deren, Kopri dan Yoyok terus berusaha menelusuri lorong yang mereka temui. Di sana hanya ada tembok-tembok tanpa pintu. Beberapa lukisan mahal terpampang di sana.
"Bang, kenapa tidak ada pintu atau semacam sel-sel penjara begitu?" tanya Yoyok pada Kopri. Pria muda ini terlihat oon.
"Ini semua pintu, hanya saja kita perlu kode untuk membukanya," jawab Kopri. Deren dan Kopri meraba setiap dinding tembok yang mereka lewati. Sesekali mereka juga mengetuk tembok itu. Deren dan Kopri pasti bisa membedakan itu tembok atau pintu meskipun rata berwujud tembok.
"Oooo...." jawab Yoyok, dia pun ikut ikutan mengetuk dan meraba.
"Kopri, sepertinya ini pintunya!" ucap Deren pelan.
Kopri pun mengetuk tembok itu memastikan kecurigaannya.
"Bos, benar!" jawab Kopri. Yoyok ikutan menempelkan telinganya. Disamping dia ingin belajar, dia juga ingin bisa membedakan. Bunyi tembok dan pintu ketika di ketuk memang berbeda ternyata. Yoyok bisa mengobati rasa penasaran yang dia alami.
"Yoyok, itu ada lukisan coba kamu geser. Siapa tahu pintu rahasianya ada disana. Ingat hati-hati takutnya disini banyak jebakan," ucap Deren, tak lupa si akang tampan juga memperingatkan anak buah kesayangannya ini tetap waspada.
"Siap,Bos!" jawab Yoyok.
Mereka pun berusaha mencari kunci rahasia agar bisa membuka pintu yang telah mereka temukan. Meraba setiap inci tembok itu. Menggesar apapun yang ada di sana.
Yoyok tampak serius menjalankan tugasnya. Kopri tak tinggal diam. Dia pun membantu adeknya, sedangkan Deren masih terlihat mempelajari keadaan
***
Disisi lain ...
Seorang pria terkapar tak berdaya duduk di kursi roda dan bersiap dimasukkan ke dalam salah satu rumah milik Mr. Zen. Ya ... kalian benar. Sebenarnya Mr. Zen sudah tahu bahwa Deren dan kawan-kawannya pasti akan datang untuk menyelamatkan pria tua ini.
Deren dan timnya hanya dijebak.
Mr. Zen yang terus memantau pergerakan Deren dan kawan-kawan. Dia tersenyum dan terus memandangi layar laptopnya. Hasrat untuk membuat
__ADS_1
"Mr, mereka sudah masuk ke dalam jebakan," ucap anak buah Mr. Zen melapor.
"Heemmm, keluarkan senjata kita saat mereka semua masuk ke dalam!" perintah Mr. Zen pada ank buahnya.
"Siap, Mr."
"Satu lagi, usahakan pria ini (menunjuk ke arah Deren di layar laptopnya) mati," perintahnya lagi. Terang saja pria jahat ini menginginkan Deren mati. Karena dia tahu bahwa Deren adalah kekasih Aisyah yang berarti adalah rivalnya.
"Siap. Mr."
"Heeeem, bagaimana keadaan si tua bangka (Patrio Guran) bodoh itu?" tanya Mr. Zen pada dokter yang pribadi Patrio yang kini ikut di sanderanya.
"Beliau ba-ba-baik Mr. Saya sudah menyuntikkan obat sesuai dosis yang anda minta," jawab Dokter itu, takut, suaranya terdengar gugup dan terbata-bata.
"Jangan sampai dia mati sebelum aku bisa menguasai seluruh hartanya. Mengerti! jika dia mati sebelum itu, maka kau tahu konsekuensi yang akan kau terima," ancam pria tak punya hati itu.
"Ba-baik Mr," jawabnya lagi.
***
Yoyok dan Kopri masih berusaha mencari kunci untuk membuka pintu yang mereka curigai. Mata Deren masih mempelajari setia sudut ruangan itu. Siapa tahu kunci itu memakai kode angka atau sejenisnya.
Mata Deren tak sengaja menangkap sebuah vas bunga, hanya itu benda yang belum di sentuh oleh anak buahnya. Deren pun segera menganggat vas bunga itu, benar saja pintu itu terbuka dengan sendirinya.
"Wah ... Bos hebat," puji Yoyok. Mereka bertiga hanya tersenyum.
Deren bukan orang yang ceroboh, dia pun tak mengembalikan vas itu. Anehnya kalau vas itu diangkat maka pintu utama yang ada diatas mereka tertutup. Dan pintu di depan merek terbuka.
"Itu magnetnya, sialan!" gerutu Deren sambil menunjukan simbol aneh yang ada di bawah vas itu.
Mereka tetap melanjutkan misi. Deren dan Kopri masuk kedalam ruangan yang bisa dikatakan sangat mewah. Sedangkan Yoyok berjaga di luar.
__ADS_1
"Di mana mereka menyekap ayahnya Aish. Kenapa tidak ada?" tanya Deren. Belum sempat Kopri menjawab, gumpalan asap keluar dari cerobong yang ada diatas mereka mengepul. Kopri langsung menarik Deren keluar sebelum pintu itu tertutup. Beruntungnya mereka masih bisa keluar. Ternyata vas bunga itu hanya tipuan, pintu-pintu ini dikendalikan oleh seseorang. Deren yakin itu.
"Brengsek mereka menjebak kita Kopri," ucap Deren.
"Mari kita keluar Bos," ajak Kopri. Yoyok tanggap dan langsung mengembalikan vas itu ke tempatnya. Sayangnya pintu utama tidak mau terbuka. Berarto apa yang di pikirkan Deren tidak meleset. Alhasil mereka terjebak di dalan ruangan itu dengan asap yang siap membunuh mereka.
Deren, Kopri dan juga Yoyok saling membantu menaiki tangga ruangan itu. Berusaha untuk naik. Asap terlihat makin pekat.
"Brengsek!" teriak Deren.
"Musuh kita kali ini lebih licik dari pada si tua bangka King Kobra, Bos," ucap Yoyok.
"Kamu benar, mungkinkah dia yang mempengaruhi Ayunda?" ucap Deren curiga.
"Saya rasa Bos, astaga ... Aisyah!" ucap Kopri agar keras sampai mengejutkan Deren.
"Aisyah ... ada apa dengan Aisyah hah!!" ucap Deren emosi. Deren memang tak bisa menahan emosinya ketika nama gadisnya diperhitungkan.
"Apa Bos lupa, saat di heli tadi. Bang Joker bilang kalau Mr. Zen ini mengincar Aisyah hah ... dan anda-lah target berikutnya," jawab Kopri mengingatkan perbincangan mereka saat dalam perjalanan menuju vila ini. Deren menatap tak percaya pada anak buahnya.
"Dasar bajingan, awas aja kalau dia berani menyentuh Aisyah-ku. Akan ku ledakkan kepalanya," gumam Deren
Asap semakin pekat, ketiga pria itu mulai merasakan sesak. Mereka pingsan.
***
Mr. Zen tertawa bahagia saat melihat tiga pria itu mulai kesusahan bernafas. Mereka tumbang satu persatu. Rasanya tak sia-sia dia memanfaatkan Ayunda selama ini. Dasar pria serakah.
"Segera cari tahu di mana pria bodoh itu menyembunyikan kekasihnya. Aku mau Aisyahku ...!" perintah Mr. Zen pada anak buahnya.
Perintahnya adalah titah bagi anak buahnya. Mereka tak berani bersuara apa lagi membantah. Kekejaman Mr. Zen tak diragukan lagi.
__ADS_1
Bersambung....