Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Titah Ibu Ratu


__ADS_3

Deren meminta izin pada Om Patrio dan Ibu Fatimah untuk menyusul sahabat-sahabatnya yang kini ditawan oleh anak buah Zen. Atau mungkin orang suruhan Hariyanto. Entahlah, yang jelas mereka adalah orang-orang yang bertanggung jawab menjaga Ibu Fatimah agar tak kabur.


"Aku sudah bilang, kau ini bodoh dan tolol. Jika tadi kau nurut padaku maka kawan-kawan kau tak akan seperti ini," ucap Ibu Fatimah geram.


"Tenang saja, Bi. Saya akan berusaha sebaik mungkin membebaskan kawan-kawan saya," jawab Deren. Ibu Fatimah menatap kesal ke arah Deren. Sedangkan Om Patrio malah tersenyum lucu, Deren tahu kalau ayah mertuanya menertawakannya dalam hati, karena terlihat takut pada Ibu Fatimah.


"Berikan ponselmu padaku," pinta Ibu Fatimah.


Deren memberikan ponselnya, Ibu Fatimah pun menerima ponsel itu dan mulai mengetik nomer yang mungkin dia sudah hafalkan di luar kepala.


Deren dan Om Patrio hanya diam, menunggu keputusan sang ibu ratu. Sepertinya Ibu Fatimah tak bisa diremehkan. Terbukti dia bisa menyusun strategi perang tanpa Om Patrio dan Deren sangka. Benarkah? actingnya pura-pura gila hanya tak-tiknya untuk meruntuhkan musuh. Dan kini saatnya, ini sungguh di luar dugaan siapapun.


Ibu Fatimah seperti sangat serius berbicara pada orang-orang kepercayaannya. Entahlah ... yang jelas saat ini dia seperti seorang ratu, tak terlihat sangat lemah sama sekali. Lalu apa alasan dia selama ini tetap pasrah menjadi tawanan orang-orang jahanam itu.


"Kau tak usah ke sana, aku sudah meminta bantuan pada kawanan ayahku. Mereka segera meluncur ke tempat mereka menyekap teman-temanmu," ucap Ibu Fatimah memberi perintah.


"Baik, Bi. Maaf Bi, bagaimana bisa Bibi melakukan ini semua? apakah ? " jawab Deren sambil bertanya penasaran.

__ADS_1


"Kau tak usah banyak tanya. Yang mereka incar sebenarnya adalah aku. Ini tak ada hubungannya sama sekali dengan kalian. Maka setelah ini kemvalilah ke Jawa dan jangan pernah kembali lagi ke sini. Kalian paham!" jawab Ibu Fatimah tegas. Banyak sekali pertanyaan dalam benak Deren dan Om patrio, tapi mereka bisa apa? Ibu Fatimah seolah membungkus rapi apa yang ia pikirkan.


"Sebaiknya batalkan keberangkatan putriku kemari. Karena di sini jauh lebih bahaya untuktnya. Sebaiknya kau bawa pulang saja pria bodoh ini," ucap Ibu Fatimah lagi. Mewanti-wanti pada Deren agar mengerti jalan pikirannya dan meminta dia untuk membawa Patrio pulang ke Jawa.


"Baik, Bi," jawab Deren lagi. Patuh tak berani protes. Jika sekali saja dia berani bertanya maka pukulan akan melayang di kepalanya.


"Dosa lo ngatain suaminya bodoh," saut Om Patrio di sela-sela perbincangan serius mereka.


"Siapa yang Bapak maksud suami, lalu suami dari siapa?" tanya Ibu Fatimah kesal. Om Patrio hanya tersenyum dan membalas pertanyaann itu dengan candaannya.


"Bapak lah suami Ibu," jawab Om Patrio dengan senyuman tanpa dosa.


"Jangan begitu lah, Bu. Kita nikah lagi yuk," goda Om Patrio lagi.


"Jangan mimpi!" tolak Bu Fatimah tegas. Di sisi lain ada Deren yang menahan tawa karena tanpa ia sengaja telah menjadi saksi pertengkaran dua insan yang menggemaskan itu.


"Eh ... kau, mantu kurang ajar. Diam kau jangan ketawa. Keluar kau dari sini! jangan ikut campur urusan orang tua," ucap Om Patrio sambil menunjuk ke arah. Deren tak perduli, dia tetap diam di tempat karena Ibu Fatimah pun mengancamnya.

__ADS_1


"Kalau kau berani keluar dari kamar ini. Jangan harap teman-teman kau selamat," ancamnya. Deren tak berdaya, di sisi lain dia tak nyaman dengan Om Patrio. Di lain sisi dia pun tak mau kehilangan sahabat-sahabatnya.


"Ampun, Bi!" jawab Deren. Patrio pun melotot padanya. Dia tak menyangka bahwa harga diri yang ia junjung selama ini kalah oleh seorang wanita yang tanpa ia sadari juga pernah memporak-porandakan hatinya.


"Kau dengarkan aku, nanti malam teman-temanmu akan di bawa ke tempat eksekusi oleh pasukan biadap itu. Dan ... kita akan mencegat mereka sebelum mereka sampai ke tempat tujuan. Satu lagi, yang perlu kau ingat. Pria yang berkepala botak adalah bagianku. Biarkan aku sendiri yang menghabisinya dengan caraku, sama seperti dia menghabisi orang tuaku," ucap Ibu Fatimah tak mau kehilangan kesempatan yang sudah lama dia tunggu.


"Bagaimana, Bibi tahu jika pria incaran Bibi akan hadir di sana. Lalu? bagaimana caranya Bibi akan menghabisinya, maaf dengan keadaan Bibi Yang seperti ini tentunya?" tanya Deren menyesuaikan keadaan yang memang kini dialami oleh Ibu Fatimah. Agaknya Ibu Fatimah tersinggung dengan apa yang Deren pikirkan tentangnya. Dia merasa Deren sangat berani meremehkannya.


"Sini kau!" pinta Ibu Fatimah, meminta Deren mendekat padanya. Kini giliran Om Patrio menertawakannya.


"Saya, Bi," jawab Deren sambil mendekati Ibu mertuanya.


"Apa kau pikir aku tak bisa menembak?" tanya Ibu Fatimah.


"Maaf, Bi. Hanya saja!" jawab Deren gugup.


"Asal kau tahu, jika aku mau kepala para bajingan yang menawanku juga bisa aku ledakkan. Kau pikir kenapa aku tak melakukannya ha? Itu karena aku menunggu saat yang tepat. Aku ingin pasukan mereka hancur seakar-akarnya. Anak buahku sedang memasang bahan peledak di markas mereka. Apakah kau tak ingin tahu kenapa aku tak meledakkannya sekarang? Aku memikirkan teman-temanmu bodoh. Kalian malah menggagalkan rencanaku, dasar bodoh," ucap Ibu Fatimah kesal. Kini Deren paham, kenapa dari tadi dia minta di kembalikan kerumah sakit jiwa itu. Maksud dia adalah, agar para bajingan itu mau melepaskan Joker dan kawan kawan. Sedangkan dia bisa mengantur dengan bebas anak buahnya.

__ADS_1


Semua gagal total, beruntungnya Ibu Fatimah masih memiliki orang-orang yang setia pada keluarganya. Sehingga mudah baginya untuk mengatur strategi baru.


Bersambung...


__ADS_2