
Deren enggan bermain kucing-kucingan dengan keluarga kandung sang istri. Kali ini dia akan langsung datang ke kediaman ibu mertuanya dan meminta pada sang kakek untuk melepaskan ibu dari istrinya ini.
Deren tak perduli meskipun nanti beliau marah dan akan menembak kepalanya. Yang terpenting saat ini hanyalah menyatukan cinta antara ayah mertuanya dan ibu mertuanya.
Dengan di tememani Joker dan Kopri serta Codot yang telah menunggunya di mobil. Deren bersiap keluar dari apartemen yang di sewanya. Pria tampan ini terlihat sudah wangi, dan keren tentunya.
Kasak kusuk terdengar di mobil yang akan dia naiki. Para anak buahnya terlihat bahagia saat melihat sang big bos sedang mengobrol via telepon dengan seseorang di lobi apartemen itu.
"Bose awak dewe keren sak iki yo ( bos kita keren sekarang ya)," ucap Codot.
"Loh yo jelas, wis ora joko cok (ya jelas kan udah nggak perjaka)," balas Kopri.
"Uripe ketok e manis sak iki heheheh (hidupnya terlihat indah sekarang)," tambah Codot.
"Kalau itu sudah nggak diragukan, hahaha," balas Joker.
"Bentar lagi perut dia bakalan kayak kita!" tambah Kopri.
"Kenapa ?" tanya Codot bingung.
"Bapak-bapak hamil tujuh bulan hahahaha," jawab Kopri lagi. Mereka bertiga pun tertawa menertawakan fisik mereka saat ini.
"Jenenge wong ke mung sawang sinawang Dot, koyo awak dewe ki ketok e yo penak. Padahal kerjoane awak dewe iki lo setor nyowo ( Namanya hidup itu hanya saling melihat Dot, seperti kita ini, kelihatannya enak. Padahal pekerjaan kita ini taruhannya nyawa)," balas Joker. Mereka pun saling tersenyum.
Memang, terkadang juga ada sedikit ketakutan di hati ketiga anak buah Deren. Tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah pekerjaan yang sudah mereka pilih bukan. Pasrah dan saling menjaga adalah dua hal yang harus tetap mereka pegang untuk saat ini.
Deren masuk ke dalam mobil dan menyapa mereka.
__ADS_1
"Gimana, semua siap?" tanya Deren pada mereka bertiga.
"Siap, Bos!" jawab Mereka serempak.
Kopri pun langsung mengijak pedal gas nya menuju kediaman orang tua Ibu Fatimah. Deren diam, sepertinya dia resah. Joker pun bertanya," Kenapa, Bro? Kamu takut?" .
"Takut kenapa, Bang?"
"Takut ketemu sama kakek kandung binimu mungkin."
"Nggak, Bang. Bukan itu yang ane takutkan. Ane cuma bingung nyari dokter buat ayah," jawab Deren jujur.
"Coba nanya bos Deka. Dia kan banyak kenalan," ucap Joker memberi usul. Tak menunggu waktu lagi, Deren pun langsung merogoh ponselnya dan mengirim pesan teks pada Deka. Siapa tahu Deka punya kenalan dokter specialis bedah.
"Bos, kayaknya runtuhnya kesatuan King Kobra berpengaruh besar terhadap bisnis keluarga Ibu Fatimah deh," ucap Kopri.
"Kasihan sekali tuan Patrio dan Ibu Fatimah ya, Bos. Mereka saling mencintai, tapi tak merasakan manisnya cinta," ucap Codot. Joker yang mendengar ucapan melankolis rekannya jadi gemas. Seketika dia pun memukul kepala Codot.
"Aduh Bang, sakit!" ucap Codot sedikit berteriak.
"Preman ngomong cinta, cinta. Isin karo manuk (malu sama burung)," celetuk Joker gemas. Deren dan Kopri hanya tersenyum.
"Loh yo, biar preman juga punya hati, Bang. Coba lihat, Bos tampan kita. Setelah kenal cinta jadi ganteng, wangi wangi koyo ngono (wangi kayak gitu)," jawab Codot jujur, sesuai realita yang ada.
Deren tak mau ambil pusing ucapan anak buahnya. Dia malah sibuk chating dengan istri cantiknya.
Beruntungnya, dalam perjalanan yang mereka tembuh tak ada sedikitpun kendala. Mereka sampai dengan selamat di tempat tujuan.
__ADS_1
"Ini rumahnya?" tanya Deren.
"Benar, Bos. Menurut info, Ibu Fatimah sudah dipindahkan ke rumah sakit jiwa beberapa jam yang lalu," ucap Kopri.
"Kenapa lo nggak ngomong dari tadi, Pri. Ngapain kita susah-susah kemari. Kalau orang yang kita cari ada di tempat lain," ucap Deren kesal.
"Lah, Bos bilang mau ketemu kakek nenek dulu," jawab Kopri.
"Astaga, Pri. Kamu ini kenapa? Kalau ibu nggak ada di mari, la ngapain kita kesini. Persetan ama mereka, ayo putar balik!" balas Deren dengan nada tinggi seperti biasa. Matilah kau Kopri, bos tampanmu marah.
"Tunggu, Bro," cegah Joker. Terlihat, Joker sedang memperhatikan sesuatu.
"Apaan, Bang?" tanya Deren sambil ikutan memperhatikan apa yang sahabatnya perhatikan.
"Kenapa banyak banget polisi?" tanya Joker.
"Benar, Bang. Ada apaan kira-kira?" balas Deren.
"Sebaiknya kita menjauh dulu. Takutnya kita kena sasaran nanti," tambah Joker. Kopri pun kembali mengijak pedal gasnya dan melajukan kendaraanya lagi.
"Kita langsung ke rumah sakit jiwa aja, Pri. Ane takut ibu diapa-apain sama mereka," ucap Deren khawatir. Kopri pun mengikuti perintah Deren. Mengarahkan mobil yang dia bawa menuju rumah sakit yang orang kepercayaannya infokan.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di rumah sakit yang mereka curigai sebagai tempat di mana ibu Fatimah kini di rawat. Di sana juga ada orang kepercayaan Kopri yang berjaga.
Kopri duluan turun, dan meminta anak buahnya untuk menginfokan padanya, apakah benar Ibu Fatimah ada di dalam. Dan kali ini, mereka benar. Ibu Fatimah berada di dalam, sayangnya tak mudah bagi mereka untuk bertemu dengan wanita itu. Karena pihak keluarga tak mengizinkan siapapun menemui ibu Fatimah tanpa persentujuan mereka.
Deren tak kurang akal. Dia pun pura- pura deprresi dan butuh perawatan. Dia pun meminta anak buahnya untuk mendaftarkan diri sebagai pasien. Ini memang tak mudah, tapi Deren harus tetap menepati janjinya pada sang istri, bukan? Bahwa dia harus membawa ibu dan ayahnya kehadapannya.
__ADS_1
Bersambung...