Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Menyembunyikan Fakta Demi Perasaan Seseorang


__ADS_3

Deren masih menunggu Aisyah bermanja-manja dengan ayah kandungnya. Meski jujur, Deren tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Kenapa kenyataan ini mempermainkannya? kenapa wanita yang dicintainya harus putri dari pria itu?. Pria yang menjadi sahabat sekaligus musuh orang tuanya. Deren masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Jujur saja orang ini adalah orang yang paling Deren cari selama ini. Pria yang telah menyimpan rahasia besar keluarganya dan yang jelas dialah sumber dari mala petaka yang menimpa keluarganya 25 tahun yang lalu.


Perasaan Deren campur aduk, bagaimana tidak? pria yang ingin diintrogasinya ini malah hilang ingatan. Lalu bagaimana dia bisa mencari tahu? siapa orang yang memiliki dendam pada keluarganya?. Siapa yang merencanakan kehancuran keluarganya?. Menurutnya hanya Patrio -lah yang bisa menjawab semuanya.


Deren tak menyangka nama yang disebut dan dimaksud oleh para perampok itu adalah pria yang kini ada di depannya. Sakitnya lagi pria ini adalah ayah dari kekasihnya.


Deren mengepalkan tangannya. Kenangan masa lalunya kembali terlintas di benaknya. Ingatan di mana para perampok itu masuk dan mengobrak abrik isi rumahnya. Mereka tertawa dan memukulnya tanpa belas kasihan. Hingga dia tergeletak tak berdaya.


Deren juga merasakan hancur sehancur hancurnya mana kala dia melihat dengan jelas, adek bayinya dibawa oleh orang-orang bangsat itu. Deren kecewa karena dia tak mampu mencegahnya. Deren sungguh tak berdaya saat itu.


Tak cukup sampai di situ, dia juga harus menyaksikan ibunya depresi. Ayahnya menjadi stres. Bahkan, kakak kandungnya membencinya sampai hampir setiap hari dia dihajar karena kesalahan dan kebodohannya. Setiap hari Deren merutuki dirinya sendiri. Ketidakberdayaannya adalah kesalahan paling fatal yang pernah dia lakukan.


Sebelum para pria jahanam itu pergi. Deren masih mendengar jelas obrolan para preman yang menghancurkan rumahnya. Mereka menyebut nama sahabat ayahnya itu. Deren sangat yakin bahwa yang mereka maksud adalah Patrio Guran yang ini.


Mengingat pria ini sering datang kerumahnya. Deren yakin kalau Patrio tahu segalanya, dulu. Keyakinan Deren bertambah mana kala dia sering mrlihat pria ini datang dan bersua dengan mendiang ayahnya. Dan juga, pria tua ini memiliki nama yang sama dengan nama yang disebut oleh para perampok jahanam itu. Hanya saja saat itu Deren masih belum berfikir sampai sana.


Deren kembali melirik pria yang terlihat gugup di samping Patrio Guran. Kecurigaannya bertambah mana kala pria itu buru-buru berpamitan pergi. Sudah jelas bahwa ini pasti ada apa-apanya. Beruntungnya Patrio tak mengizinkan dia pergi. Hingga mempermudah Deren untuk mengawasi pria yang mencurigakan ini.


Lamunan Deren dikejutkan oleh suara Aisyah yang menyapanya.

__ADS_1


"Aak ... kenapa Aak begong?" tanya Aisyah mengagetkan Deren.


"Eh ... iya maaf, Aak hanya senang ahirnya kamu bisa bertemu dengan ayahmu," ucap Deren berusaha membawa dirinya dengan baik. Menahan kekesalan dan emosi yang siap meledak.


"Sini Aish kenalin sama ayahnya Aish," ajak Aisyah sambil mengandeng Deren. Pria ini hanya menurut dia pun mengikuti langkah sang kekasih untuk mendekat pada pria yang berhasil mengubah mood-nya hari ini.


"Yah ... kenalin ini Mas Deren, teman dekat Aish," ucap Aisyah. Patrio tersenyum, Deren pun sama.


Deren pun mengulurkan tangannya sebagai tanda dia siap memperkenalkan diri. "Deren Manopo Om, putra mendiang Jevan Raharjo dan Rosalinda," ucap Deren memperkenalkan diri. Berharap Patrio dan pria tua ini akan mengingat siapa dirinya, lewat nama orang tua yang dia sebut barusan.


"Ooo, oke. Terima kasih sudah menjaga putriku dengan baik selama ini. Om tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa. Om juga sangat, sangat menghargai perjuangan kalian. Bagaimana cara Om membalas budi baikmu anak muda?" ucap Patrio sambil menepuk pundak Deren. Deka pun tanggap dia pun menjawab ucapan Patrio dengan candaannya.


"Kalau mereka siap, saat ini juga, Om kawinkan mereka. Hahaahaha," ucap Patrio sambil terkekeh. Kembali Deren dan Aisyah tak bisa memprediksi ini, ini diluar dugaan mereka.


"Kalau Om serius dan merestui, saat ini juga saya panggilkan pengulu untuk menikahkan mereka. Kasihan kawan saya Om, udah jadi bujang lapuk ni. kawan-kawannya yang lain udah pada punya anak. Dia nyicip surga dunia aja belum hahahah," ucap Deka. Pria keturunan Jawa Prancis terkesan konyol pada setiap ucapannya. Entah apa maksudnya berkata seperti itu. Yang jelas fakta ini membuat Deren sangat malu.


"Lah, boleh lah. Kau panggil saja penghulu kemari. Masalah surat-surat nya kau batu mereka urus. Bisa kan? kita nikahkan saja mereka. Mengingat situasi yang akan kita hadapi kedepannya, takutnya aku nggak bisa lagi jadi wali dan menyaksikan pernikahan mereka?" ucap Patrio langsung menyetujui usul Deka.


"Jangan ngomong begitu Om, emangnya Om mau kemana?" tanya Deren.


"Kalian kan tahu, banyak yang mengincar nyawaku. Ditambah aku juga harus mempertanggungjawabkan perbuatanku dimasa lalu mungkin!" jawab Patrio. Jawaban Patrio ini semakin memperjelas Deren tentang kecurigaannya. Deren berharap pria ini segera mengingat masa lalunya. Dan bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya.

__ADS_1


Deren kembali melirik pria aneh di samping Patrio. Gelagatnya semakin mencurigakan, gugup dan gemetar seolah menyembunyikan kebohongan. Awas saja kau jika terlibat dalam hancurnya keluargaku, ancam Deren dalam hati.


Deren tak bisa menolak keputusan Patrio dan Deka. Meskipun jujur, ada perasaan mengganjal dihatinya. Dia juga tak mungkin membuat Aisyah kecewa. Karena inilah yang diimpikan gadis itu, gadis yang sangat dicintainya.


"Gimana Bro, lo siap nggak nikah sekarang?" tanya Deren.


"Siap Bang. Kenapa enggak!" jawab Deren setengah hati. Tumben sekali Deka tak bisa membaca raut wajah Deren. Biasanya dia paling peka dan pandai dalam menilai seseorang dari bahasa tubuhnya.


"Aisyah gimana? kamu oke nggak?" tanya Deka pada mempelai wanita. Aisyah tersenyum malu sambil menyembunyikan wajahnya di dada ayahandanya.


"Insya Allah Bang. Aish siap!" jawab Aisyah malu-malu.


"Oke kalau kalian siap, persiapkan dirimu. Kita laksanakan ijab qobulnya di mushola panti dekat rumah saya aja, gimana Om?" tanya Deka memberi usul dan meminta pertimbangan dari sang wali perempuan.


"Tak masalah, mereka sudah siap ini!" ucap Patrio.


Deren dan Aisyah saling melirik malu. Mereka tak menyangka jalan menuju pelaminan yang mereka impikan sudah nampak di depan mata. Bahkan, mereka pun masih tak percaya, doa mereka dijawab kilat oleh sang pemberi jodoh. Sayangnya, kebahagiaan Aisyah berbanding terbalik dengan apa yang Deren rasakan kali ini. Bukan karena cintanya, tapi karena dia belum bisa mendapatkan jawaban dan kejelasan akan apa yang sesungguhnya terjadi pada keluarganya.


Bersambung...


Like dan komen kalian selalu emak nantibya gaes...😘

__ADS_1


__ADS_2