
Semua sudah tertidur sesuai yang Deren perintahkan. Mengistirahatkan raga mereka, dan mempersiapkan mental mereka untuk melakukan penyerangan di markas Obor Merah besok malam.
Deren terlihat kalut, tak sabar rasanya dia menunggu berjalananya waktu. Rasanya memikirkan Aisyah dalam gengaman pria jahanam itu membuatnya semakin tersiksa.
"Tunggu Aak ya dek," gumam Deren dalam lamunannya. Deren duduk termenung di kursi kebesarannya. Menatap penuh kerinduan pada foto Aisyah yang ada di layar ponselnya.
Aisyah tampak sangat manis di sana, membuat jiwa Deren meronta rindu. Kadang Deren heran dengan dirinya sendiri, kenapa dia sangat perduli dengan gadis yang belum lama dikenalnya ini. Tapi sungguh Aisyah memang mampu menggalihkan dunianya.
***
Berbeda dengan anak buah Deren yang lain, yang hanya menuruti perintah atasanya. Di sini ada Joker yang memiliki kepentingan pribadi pada superstar milik Obor Merah.
Dendam pribadi itu membuatnya semakin bersemangat membatu Deren. Agar dia sendiri bisa dan mampu melumpuhkan pimpinan Obor Merah yang dianggapnya telah menghancurkan keluarganya.
Joker mengutak atik ponselnya, tak sengaja dia menangkap signal keberadaan Aisyah. Deren bisa saja melupakan ini. Tapi tidak dengan Joker.
Joker tampak bersemangat, tanpa melaporkan keadaan ini pada Deren, Joker pun mengambil keputusan sendiri. Joker mengambil senjata dan jaketnya. Beruntung sekali motor kebanggaanya ada di perkebunan ini. Semangat juang itu tiba tiba meronta dalam dirinya.
Joker sangat yakin jika saat ini Aisyah sedang bersama pemimpin besar Obor Merah. Joker lebih bersemangat mana kala titik signal yang menunjukan keberadaan Aisyah itu tak jauh dari tempatnya berpijak.
Hanya sekitar sepuluh menit dia berkendara. Mata Joker terbelalak tak percaya bahwa signal itu membawanya kesebuah rumah sakit ternama di kota itu. Joker langsung memarkirkan kendaraanya dan mulai mencari keberadaan nyata titik merah yang ada ponselnya.
Titik itu membawanya ke sebuah ruangan yang terbilang jarang bisa dijamah oleh orang biasa sepertinya.
Jangan sebut Joker kalau tak pandai bersiasat. Dia pun mencari celah, membius salah satu anak buah Obor Merah dan merebut seragamnya.
Joker sudah berhasil merubah penampilannya. Bersiap mengikuti alur yang ada di depan matanya. Keberuntungan sedang berpihak pada Joker rupanya. Penyamarannya masih aman terkendali. Belum ada satupun yang curiga padanya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama bagi Joker untuk bertemu dengan musuh bebuyutannya. Pria yang ditunggunya pun keluar dari sebuah ruangan bersama gadis yang jadi target sahabatnya.
Joker tak mau gegabah, ditambah dia belum melihat jelas wajah sang pemimpin. Dia harus memastikan dulu pria yang dimaksud itu benar pria ini atau tidak. Joker selalu bertindak penuh perhitungan.
Penyamaran yang dilakukan Joker berjalan dengan sempurna. Nyatanya saat ini dia sudah berada di dalam satu heli bersama dengan pemimpin Obor Merah dan Aiysah. Bahkan dia mendengar jelas obrolan mereka.
"Kau ingat pesan Om tadi, awas lupa!" ucap Patrio mengingatkan Aisyah.
"Iya Om, Aish ingat Ya Tuhan gitu aja diungkit terus. Yang penting Om ingat syarat yang Aish ajukan tadi," balas Aisyah berani. Keanehan muncul di sini. Aisyah terlihat bukan seperti tawanan atau pun seorang sandra. Apa lagi Joker juga mendengar pemimpin Obor Merah ini terkekeh olah jawaban Aisyah.
Aisyah terlihat sangat santai. Bahkan tak ada ketakutan sedikitpun di sana.
"Kau tahu siapa yang ada di rumah kita. Jika dia tanya kau jawab sesuai yang Om ajarkan. Kau mengerti Aisyah Nur binti Patrio Wibisono hah," canda Patrio. Candaan Patrio kembali membuat telinga Joker gatal. Keingintahuan hubungan Aisyah dan pemimpin ini sungguh menggelitik pikirannya.
"Iya Om, iya ... Ya Tuhan ingatkan saja terus," balas Aisyah ketus. Patrio kembali tertawa mendengar ucapan ketus putrinya. Patrio pun mengelus kepala Aisyah, anehnya Aisyah tak menolak hanya matanya saja yang terlihat marah.
Aisyah tak merespon, lagi lagi kebingungan Joker rasakan.
"Kalau Om penasaran ya cari lah," jawab Aisyah ketus.
"Dosa lo judes judes gitu," goda Patrio.Patrio terlihat lain di sini, kewibawaanya dan cerita sangar tentangnya luntur sudah bagi Jokerm
Walaupun masker dan kacamata hitamnya masih menempel di wajahnya tapi suara candaan dan godaanya untuk Aisyah terdegar jelas.
Aisyah terlihat berani dan cuek menjawab setiap kata yang diucapkan oleh Patrio. Kadang kadang Aisyah juga tersenyum seolah mereka memiliki hubungan dekat.
Joker seperti seseorang yang kehilangan kepercayaan. Patrio Guran yang dia kenal bukan seperti ini pembawaannya. Mungkinkah dia salah orang hah. Mungkinkah orang yang dia kira Patrio Guran bukan yang ini.
__ADS_1
"Mati aku jika aku salah, tapi apa ini..." batin Joker bergemuruh tak percaya. Berusaha tenang dan mengendalikan emosi adalah cara paling baik untuk saat ini. Rasa keingintahuanya seketika kembali bangkit mana kala Aisyah tertawa saat Patrio mengeluarkan candaan demi candaanya.
"Hubungan seperti apa yang dimiliki mereka, kenapa mereka terlihat sangat akrab. Seperti? ayah dan anak, seperti? suami istri? Ah.. tidak tidak mereka tak seperti suami istri. Bukankah tadi Patrio menyebut bahwa Aisyah Nur binti Patrio Wibisono. Mungkinkah Wibisono adalah nama aslinya," batin Joker gejolak lagi. Pertanyaan demi pertanyaan pun berputar di otaknya.
Joker kembali berfikir keras, mengingat lagi cerita demi cerita yang dia simpan selama ini.
Mendengar nama, mendengar cerita tanpa melihat wajah ibarat bercermin di air keruh. Perasaan inilah yang kini Joker rasakan.
Kalau benar pria ini yang menghancurkan keluarganya, lalu apa ini. Pria ini tidak bertingkah arogant sama sekali. Siapa pria ini sebenarnya.
"Ya Tuhan, berilah aku petunjukmu. Jangan biarkan aku salah langkah Tuhan," ucap Joker dalam hati.
Heli yang membawa mereka dari rumah sakit ke Istana Obor Merah pun mendarat dengan selamat. Joker masih bersikap seperti ajudan pada umumnya. Bahkan dia diperintahkan mengawal Aisyah sampai ke kamarnya.
Lagi lagi pertanyaan demi pertanyaan mengganggu pikiran Joker. Bagaimana tidak Aisyah ditempatkan di kamar yang boleh dibilang mewah. Tak ada sedikit pun kesan bahwa Aisyah seorang tahanan.
Joker telah bebas tugas, tugas menjaga keamanan telah berganti pasukan. Joker pun mengikuti salah satu penjaga di kamar khusus mereka. Peraturan di sini sedikit aneh. Mereka di larang berbicara satu sama lain. Berani berbicara berarti berani mati.
Peraturan ini malah membantu Joker. Penyamarannya boleh dikatakan aman terkendali. Tanpa mendapat kecurigaan dari pihak manapun.
Joker tak mau tinggal diam, dia sudah masuk kekandang impiannya bukan. Saatnya dia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan Joker berharap dia akan mendapatkan jawaban itu dari Aisyah. Malam ini juga.
Semoga berhasil ya Bang...
Bersambung...
Ca," Yang penisirin dengan sosok Bang Joker ini Emak bawain. Menurut Emak aja ini, kalau kurang sreg ya bayangin ndiri ya🦂🤩,"
__ADS_1