Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Maafkan Abang


__ADS_3

Deren masih saja tak mendapat sambutan baik dari Yunita. apa lagi perlakuan formal seperti biasa dari Yunita. Adek kandungnya itu terlihat sangat marah padanya.


"Mi, kok Bosnya nggak disapa dari tadi?" tanya Robet pelan. Bukannya menjawab Yunita malah menatap penuh amarah pada Deren. Mulut wanita itu tertutup rapat. Ia hanya menganggukkan kepalanya pada Deren pertanda ia hormat.


Robet tak ingin terlalu memaksa istrinya. Mungkin Yunita memiliki pimikiran lain.


Buktinya bukan mulut yang berbicara kali ini, tetapi pandangan penuh kekecewaan terlihat jelas di sana. Yunita marah pada Deren, sepertinya. Mata indah itu terlihat berkaca-kaca. Mengisaratkan seolah Yunita sedang menahan sesuatu.


"Mi," panggil Robet. Tentu saja panggilan ini membuat Yunita sedikit terkejut.


"Apa?" tanya Yunita ketus.


"Mami kenapa sih? Dari tadi judes bener. Sama tamu kok judes gitu," tegur Robet lagi. Kali ini Yunita enggan melanjutkan obrolan mereka. Dia malah menyerahkan putrinya pada Robet. Kemudian dia pergi tanpa pamit.


"Mi!" panggil Robet. Yunita tak menghiraukannya. Ia malah berlari ke teras samping rumah dan menangis di sana.


"Sudahlah, Bet. Jangan dipaksa. Mungkin dia butuh waktu menyendiri," cegah Deren. Robet hanya kembali duduk dan menuruti apa yang Deren katakan.


Tanpa menghiraukan Yunita yang ngambek tanpa alasan itu, mereka pun melanjutkan perbincangan hangat mereka ala keluarga yang lama tak bertemu.


"Boleh saya gendong baby Queen-nya?" tanya Aisyah.


"Oh, silakan, Mbak. Maminya biasa memangginya Anaya tapi kalau aunty mau memanggilnya Queen juga nggak apa-apa," ucap Robet sambil tersenyum dan menyerahkan putrinya pada Aisyah.


Aisyah menerima baby menggemaskan itu dengan senang hati. "Aduh, Uncle, dia cute sekali. Lihat bibirnya. Uh ... Budhe gemes, dek," ucap Aisyah.


"Uncle, Budhe lagi. Astaga!" ucap Deren sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Aisyah tak peduli menurutnya panggilan itu sangat manis.


"Yo biarin to, kan manis Uncle, Budhe, romantis kan beib," canda Aisyah sambil mencolek dagu suaminya. Deren hanya tersenyum dan terus memainkan pipi gembul baby Anaya.


Robet yang melihat kemesraan mereka jadi iri sekaligus tak menyangka. Deren yang terkenal kaku dan tegas itu biaa begitu romantis bersama wanita yang dicintainya. Cinta, Cinta, kamu memang luar biasa, batin Robet.


Robet membiarkan baby Anaya bermain dengan paman dan bibinya dan dia pun pamit untuk menyusul istrinya yang sedang tak nyaman hati itu.


"Mami kenapa to?" tanya Robet pelan. Yunita menghentikan tangisannya dan memeluk suaminya tanpa sebab.


"Cerita sama, Papi. Barang kali Papi bisa bantu Mami keluar dari kesesahan Mami heem," bujuk Robet.


"Mami kesel aja, Pi," jawab Yunita.


"Kesel kenapa?" Robet masih mencari kebenaran dari teka-teki yang diberikan Yunita padanya.


"Nggak tahu lah, Pi. Mami kesel aja," jawab Yunita masih belum mau mengakui apa yang ia pikirkan. Robet juga tak mau terlalu memaksa. Karena sejatinya Yunita bukan wanita yang bisa dipaksa. Biasanya ia akan bercerita sendiri tanpa diminta. Robet hanya perlu bersabar sedikit lagi.


***


Pasangan pengantin baru ini sangat menikmati perannya sebagai Uncle dan Aunty bagi bay Anaya. Bahkan, Anaya sudah mendapatkan hadiah berupa gelang cantik dari Aisyah. Yang dibelinya di Singapura beberapa hari yang lalu.


"Gelangnya pas, Ak. Uh ... manisnya," ucap Aisyah, kembali baby Anaya menjadi sasaran betapa gemesnya Aisyah.


"Kamu suka, Dek?" tanya Deren.


"Suka banget, Ak. Dia manis sekali," jawab Aisyah.

__ADS_1


"Gimana kalau kita culik dia? Mumpung emak bapaknya lengah!" ucap Deren memberi ide konyolnya.


"Wah, boleh juga tu, Ak. Ide yang brilian!" seru Aisyah. Tak sengaja rencana konyol mereka terciduk Robet dan Yunita.


"Enak aja main culik, bikin sendiri dong," cegah Robet. Aisyah dan Deren tertawa. "Kita terciduk, Dek. Gagal deh," ucap Deren.


Aisyah tertawa dan memukul gemas lengan suaminya. Robet kembali duduk di tempatnya semula sedangkan Yunita duduk disampingnya seperti tadi. Asisten rumah tangga di rumah itu juga membawakan jamuan untuk tamu mereka atas perintah sang majikan.


"Diminum, Bro. Mbak silakan dicicipi," ucap Robet mempersilakan tamuny untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Kedua tamu itu pun tak menolak. Dengan senang hati mereka pun menikmati hidangan yang disediakan oleh pemilik rumah.


"Nginep sini ya, Bro?" ucap Robet menawarkan.


"Ane ma, ngikut keputusan ibu ratu aja," jawab Deren.


"Aish mau nginep, Ak. Masih mau main ama ponakan Budhe yang menggemaskan ini. Bolekkan, Dek?" tanya Aisyah spontan pada Yunita. Yunita kembali menatap kesal pada Deren. Bagaimana tidak? roman-romannya hanya dirinyalah yang tak tahu apa-apa. Tentu saj keadaan ini membuatnya semakin terlihat bodoh.


"Tentu saja, Mbak. Silakan saja." Yunita menjawab permintaan Aisyah dengan senang hati.


Di sinilah, Deren merasa bahwa Yunita mengetahui sesuatu. Dia pun segera mengirim pesan chat pada Robet.


"Gelagat istri lo mencurigakan, Bro. Mungkinkah dia sudah mengetahui sesuatu?" tanya Deren.


"Ane nggak ada kasih tahu apapun, Bro. Demi Tuhan!" balas Robet.


"Tapi ane yakin, Nita sudah mengetahui sesuatum Dia terlihat marah padaku," tulis Deren lagi.


"Entahlah, sebaiknya kalian bicarakan ini secara pribadi, Bro. Lu kan paham bener Nita nggak suka diboongin," balas Robet.


Dere tak membalas lagi tapi hatinya bertekat akan jujur pada Yunita. Dia pun memilih menyimpan ponselnya dan tersenyum pada Robet. Tanda menyetujui saran itu.


***


Sesuai saran Robet dan Aisyah, Deren berusaha menguatkan mentalnya untuk jujur pada Yunita tentang siapa sebenarnya dirinya.


Sampai tengah malah, Deren masih belum mampu memejamkan matanya. Pikirannya melayang, mengajaknya bekerja untuk menyusun kata-kata agar tak melukai adik kandungnya itu.


Deren haus, dia pun memutuskan untuk keluar kamar mencari minum. Tanpa disengaja ia melihat Yunita ada di dapur.


Deren tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia pun langsung mendekati Yunita.


"Hay," sapa Deren. Yunita diam, karena dia tahu bahwa itu suara abangnya.


"Kok nggak jawab," tambah Deren. Menahan emosi dan berusaha mengerti Yunita.


"Habis saya harus ngomong apa, Bos?" balas Yunita, nada suaranya terdengar kesal.


"Apa kamu marah padaku?" tanya Deren.


"Nggak, ngapain saya marah," jawab Yunita, ketus lagi. Lagi-lagi ketus.


"Di mana sopan santunmu Yunita Mauren?" tanya Deren tegas.


"Sopan santun macam apa yang anda tuntut dari saya, Bapak Deren Manopo yang terhormat. Pria pembohong yang menjengkelkan!" balas Yunita tak mau kalah. Matanya nanar, pandangannya mulai buyar. Karena mata indah itu lagi-lagi oenuh dengan air mata.

__ADS_1


Entah mengapa tetesan air mata Yunita juga mampu membuat Deren merasa sakit di sanubarinya.


"Maafin, Abang, Dek," ucap Deren pelan. Berusaha mengambil hati adeknya.


"Untuk apa anda minta maaf? anda kelewat jahat, Bos," jawab Yunita. Suara tangisannya mulai keluar.


"Maafin, Abang, Dek. Maaf!" ucap Deren berusaha menenagkan Yunita yang mulai mengeluarkan amarahnya padanya. Deren berjalan mendekat dan meraih tubuh adeknya serta membawanya kedalam pelukannya.


"Maafin, Abang, Sayang. Abang sama sekali nggak ada niat buat boongin kamu," ucap Deren. Yunita tak menolak pelukan abangnya. Hanya saja dia juga tak membalas pelukan itu.


"Jangan peluk-peluk." Kini Yunita mulai meronta.


"Asal janji jangan marah lagi. Kita bicarakan ini baik-baik," pinta Deren memberi syarat. Yunita mengangguk.


Mereka pun duduk di meja makan dengan tenang.


"Sejak kapan kamu tahu tentang kita?" tanya Deren.


"Itu nggak penting," jawab Yunita ketus.


"Inikah alasan kamu marah pada Bos tampanmu ini?" tanya Derem dengan nada menggoda.


Yunita hanya meliriknya sekilas dan tak menjawab sepatah kata pun.


"Kok diam, mau aku suruh push up kamu?" ancam Deren. Yunita kembali melirik kakak kandungnya. Ancaman itu mengingatkannya pada zaman dirinya baru bergabung di tim Deren sebagai pasukan hitam. Atau lebih tepatnya pengemban tugas rahasia dari orang-orang rahasia.


"Saya bukan anak buah anda lagi, untuk apa saya takut," balas Yunita.


"Nggak sopan kamu," lagi-lagi Deren menangkas sanggahan Yunita.


"Lah, emang iya kan? buktinya sekarang saya udah ga terima gaji dari Bos lagi. Itu artinya apa?" jawab Yunita tak mau kalah.


"Okelah, okelah. Abang enggan berdebat denganmu. Maaf jika Abang telat jujur sama kamu. Abang minta maaf," ucap Deren. Yunita agaknya juga enggan berlama-lama duduk bersama Deren. Rasa sesak di dada tiba-tiba menjalar begitu saja. Ingatan akan masa kecilnya yang dihujat sebagai anak pungut tiba-tiba saja terlintas.


"Kenapa nangis?" tanya Deren.


"Abang jahat!" jawab Yunita sedikit keras.


"Maaf."


"Kenapa Abang nggak jemput Nita? Kenapa Abang datangnya lama? Kenapa Abang baru sekarang datang sama Nita? Kenapa, Bang?" tanya Yunita kesal. Andai dia tahu punya abang sekeren ini, mungkin dulu dengan bangganya dia akan menghajar orang-orang yang meledeknya sebagai anak pungut.


Jujur Deren bingung dengan pertanyaan adeknya. Bingung dengan apa yang di maksud Yunita beryanya seperti itu.


Wanita cantik ini terlihat berusaha menahan tangisannya. Seperti dulu, dulu sekali. Deren jadi ingat masa-masa mereka berdiri sebagai agen rahasia.


"Maafin, Abang ya, Dek," pinta Deren selembut mungkin.


"Tahu ah," jawab Yunita ketus.


Deren sedikit mengerti, butuh waktu buatnya maupun Yunita untuk mengsinkronkan apa yang terjadi pada mereka saat ini. Dan Deren tak akan memaksa.


Bersambung ....

__ADS_1


Semoga terhibur🤗🤗🤗


__ADS_2