
"Kapan kita pergi jenguk baby Queen, Ak," ajak Aisyah.
"Pikir Aak, kita ke Singapura dulu aja, Dek. Kita temenin ayah berobat sembari bujuk ibu, biar mau nemenin ayah di sana," jawab Deren sesuai apa yang ia pikirkan.
"Bolehlah! duh, Aish juga nggak sabar pengen ketemu ayah. Pengen tahu keadaanya Ak, tapi juga nggak sabar pengen ketemu baby Queen." tambah Aisyah.
"Sabar sayang, ini Aak pesen tiket dulu," ucap Deren. Pria tampan ini kembali diam dan fokus dengan apa yang ia kerjakan. Aisyah tak mengajaknya bicara lagi kali ini. Dia hanya memperhatikan apa yang suaminya kerjakan. Tak dipungkiri bahwasannya Deren terlihat sangat tampan jika diam begini.
"Ak."
"Ya."
"Boleh nggak Aish cium, Aak." Deren tertawa pelan mendengar permintaan aneh sang istri. Bagaimana tidak? Sedari tadi bukanya dia cium-cium dan Deren hanya diam saja. Lalu kenapa sekarang minta izin.
"Bukannya dari tadi kamu cium-cium, Aak ya. Kok baru sekarang minta izinnya," jawab Deren. Bener juga sih, dari tadi dia kan yang cium-cium.
"Ini lain, Ak," balas Aisyah berdalih.
"Lain gimana?" Deren melirik manja istrinya.
Aisyah hanya tersenyum sambil mentap manja suaminya. Dagunya masih setia di pundak Deren. Pria tampan ini mengerti jika istrinya minta dimanja. Ia pun langsung membawa istrinya ke atas pangkuannya. Aisyah suka, dia pun tersenyum bahagia.
"Nah, suka sekarang?" tanya Deren, dengan nada meledek seperti biasa.
__ADS_1
"Suka," jawab Aisyah.
Mereka pun bercengkrama lagi sambil terus memdiakusikan langkah mana yang hendak mereka ambil dulu.
Aisyah merasa saat ini adalah saatvpaling bahagia dalam hidupnya. Maklum pengantin baru ini kan jarang mempunyai waktu bareng sepwrti ini. Sesekali mereka berciuman untuk membuktikan bahwa mereka berdua saling mencintai dan membutuhkan.
***
Keesokan harinya ...
Dengan bujuk rayu Aisyah akhirnya Ibu Fatimah mau ikut mereka ke Singapura. Aisyah sangat paham perasaan ibu kandungnya setelah mendengar bagaimana dulu Om Patrio meragukan dirinya.
Di dalam pesawat, sesekali Aisyah memperhatikan ibunya. Aisyah yakin jika di hati wanita itu masih ada ayahnya. Ibu Fatimah terlihat khawatir juga saat Aisyah menceritakan perjalanan hidup ayahnya selama hilang ingatan.
"Ibu, baik-baik saja, kan?" tanya Aisyah sambil menggenggam tangan ibunya.
"Maafin ayah ya, Bu," ucap Aisyah memohon. Ibu Fatimah hanya diam. Dia terlihat berfikir tapi Aisyah yakin ibunya adalah wanita baik dan pemaaf. Itu adalah keyakinan Aisyah. Aisyah percaya pada hatinya.
Pesawat yang mereka tumpangi mendarat sempurna di Bandara Internatioal Changi Singapura. Di sana salah satu orang utusan Robet sudah siap menjemput mereka dan mengantarkan mereka ke rumah sakit di mana Om Patrio Dirawat.
Aisyah membantu ibunya berjalan mendekati mobil sedangkan Deren membukakan pintu untuk mereka.
"Sabar ya, Dek," bisik Deren.
__ADS_1
"Iya, Ak. Semoga ibu bisa maafin ayah ya, Ak," balas Aisyah. Mereka pun masuk ke dalam mobil sesaat setelah melempar senyum.
Sesampainya di rumah sakit. Mereka langsung di antar ke ruangan di mana Om Patrio di rawat. Ibu Fatimah tertegun. Sepertinya wanita tak percaya dengan pemandanganbyangbada di depan matanya. Om Patrio terlihat menyedihkan. Dengan beberapa selang menempel di tubuhnya.
Wanita paruh baya ini terlihat bersedih. Tanpa ia sadari butiran-butiran bening keluar dari mata cantiknya.
"Bu," ucap Aisyah sambil memeluk ibunya.
"Sebenarnya ayahmu itu sakit apa?"
"Ada tumor di otak paman, Bi," jawab Deren pelan.
"Kenapa ini terjadi padanya?" tanya Ibu Fatimah. Suaranya terdengar menyayat hati seolah mengandung penyesalan yang mendalam.
"Maaf, Bi. Sebenarnya tumor yang bersarang di kepala paman sudah sangat besar. Dan tadi pagi beliau nge-drop, Bi. Dokter meminta kita untuk sabar dan mendoakan yang terbaik buat paman," ucap Deren. Sebenarnya Aisyah sudah tahu bagaimana keadaan sang ayah dari Deren tadi sebelum berangkat. Namun tetapnsaja, mendengar kabar itu kembali serasa seperti disayat juga batinnya. Rasanya amat sangat perih.
Aisyah belum siap kehilangan orang tua yang belum lama ini ia ketahui kebenarannya.
"Sabar, Sayang," bisik Deren. Ia pun mendekap sang istri agar Aisyah tetap kuat menghadapi kemungkinan terburuk yang akan mereka hadapi di kemudian hari.
kemungkinan Om Patrio bertahan hanya 40% setelah melakukan oprasi nanti. Tetapi melihat kondisi Om Patrio yanhg semakin tak stabil membuat tim dokter belum berani mengambil resiko. Mereka tetap memuunggu keadaan Om Patrio stabil terlebih dahulu.
Deren dan Aisyah hanya bisa pasrah pada tim dokter. Karena mereka lebih paham baik dan buruknya untuk Om Patrio.
__ADS_1
Melihat kegelisahan Ibu Fatimah. Deren berinisiatif meminta izin pada petugas medis di sana. Agar mengizinkan Ibu Fatimah masuk keruangan itu untuk menemui suaminya. Mau bagaimanapun Om Patrio masih suaminya. Iya kan?
Bersambung ...