Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Selesai


__ADS_3

Deren membawa mobilnya dengan sangat hati-hati. Di sampingnya kini ada seorang wanita yang merupakan ketua geng juga. Kakinya memang lemah, akibat seringnya di ikat di ranjang dan jarang di beri makan. Tetapi kecerdasan otaknya tak di ragukan lagi. Sebelum berangkat dia meminta makan yang banyak, agar mampu mengangkat senjata. Itu kata di dalam permintaan Ibu Fatimah.


Deren mengikuti hampir semua yang di ucapkan Ibu mertuanya. Bahkan, diam-diam dia pun memperlajari pola pikir dan cara Ibu Fatimah memimpin pasukannya. Deren paham, dia juga cepat mengerti. Karena dia pun bukan anak baru di dunia yang telah ia tekuni ini.


Cuma, ini agak unik. Wanita ini memiliki cara berfikir yang berbeda dengannya. Dia lebih tenang dan penuh perhitungan. Bukan tak mengusai medan, tapi si ibu ini agaknya lebih suka membuat senang musuh baru menyerangnya tanpa ampun.


Deren merasa tak bebas bergerak. Semua harus pernuh perhitungan dan persetujuan dari wanita paruh baya di sampinya. Salah-salah nanti kepalanya bisa kena pukulan lagi.


Wanita yang dia bawa bukanlah wanita biasa. Dia adalah wanita yang harus Deren patuhi. Bukan hanya karena wanita ini adalah ibu kandung istrinya atau pun ibu mertuanya. Tetapi, jauh sebelum itu Deren mengenal wanita ini sebagai penyelamat keluarganya.


Deren mengagumi ibu paruh baya ini sejak beliau menolong ibunya melahirkan adek kandungnya. Kala itu ayahnya sedang bekerja di luar kota.


Dalam perjalanan menuju markas musuh, Deren mendapat panggilan dari nomer tak di kenal. Dia pun membiarkan ponselnya terus berdering. Membuat Ibu Fatimah geram.


"Anggkat panggilan itu, bodoh. Itu anak buahku!" ucap Ibu Fatimah. Deren hanya meliriknsekilas pada ibu mertuanya, matanya jeli sekali padahal Dia hanya melirik ponsel itu sekilas.


Deren pun memberikan ponselnya pada Ibu Mertuanya. "Silakan, Bi," ucap Deren.

__ADS_1


"Hem," jawab Ibu Fatimah. Dia pun segera menyambut panggilan itu dan berbicara pada anak buahnya. Ibu Fatimah malah lebih banyak diam dan mendengarkan anak buahnya berbicara.


"Pelankan mobilnya," perintah Ibu Fatimah pada Deren. Pria tampan ini pun menuruti perintah wanita paruh baya ini.


"Tepikan mobilnya. Pasukan mereka yang membawa para sahabatmu ada di belakang kita," ucap Ibu Fatimah. Deren kembali menurut. Ditepikannya mobil yang dikendarainya.


"Dengarkan aku baik-baik, setelah mobil yang membawa temanmu sampai di pertigaan itu. Nanti anak buahku akan menghadangnya dari depan. Setelah itu kita maju. Suruh temanmu masuk kedalam mobil, lalu kita kabur. Biar anak buahku yang eksekusi mereka. Mengerti!" ucap Ibu Fatimah memerintah Deren. Oo ... jadi maksud dia ngajak ke sink cuma buat jemput mereka. Oke baiklah, aku suka kerja begini, batin Deren.


Ibu Fatimah terus memantau pergerakan mereka dari ponsel milik Deren. Wanita ini ternyata pandai dan cerdas dalam hal seperti ini. Mungkin anak buahnya sudah memasag sesuatu di mobil milik bajingan itu. Sehingga dengan mudah wanita paruh baya ini melacak pergerakan mereka.


"Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Ibu Fatimah kesal. Karena dari tadi Deren terus memperhatikan dirinya.


"Kau tak perlu memikirkan itu. Bukankah kau juga pandai kalau cuma hal beginian saja," balas Ibu Fatimah.


"Kenapa, Bibi tak melakukannya dari dulu?" tanya Deren.


"Siapa bilang aku tak bergerak. Kamu pikir siapa yang melaporkan setiap kejadian pada soal bisnis mereka. Kau lihat, usaha Hariyanto hancur berantakan 'kan. Kau pikir karena siapa?" ucap Ibu Fatimah sambil tersenyum licik. Astaga, ternyata Ibu Fatimah dari dulu diam-diam sudah memiliki cara tersendiri untuk meruntuhkan musuh musuhnya.

__ADS_1


Tak berselang lama, mobil yang mereka nantikan pun tiba. Deren pun bersiap. Ibu Fatimah memakai penutup wajahnya dan juga menyiapkan pistolnya. Bersiap menembak ban mobil yang kini di tumpangi para bandit itu.


Dari arah depan, ada anak buah ibu Fatimah yang bersiap mengeksekusi mereka. Ibu Fatimah bertekat , pertempuran kali ini harus jadi yang terahir. Ibu Fatimah mau, semua harus selesai sekarang juga.


Tembakan yang diluncurkan Ibu Fatimah tepat pada sasaran. Mobil berwarna hitam itu langsung oleng seketika. Sang pengemudi tak mampu menguasai kendalinya. Mobil itu pun menabrak pohon besar yang ada di sebelah kiri jalan.


Brraaaakkkkk ....... bunyi hantaman tersengar begitu keras. Terlihat ada mengepul dari bodi depan mobil itu.


"Sekarang keluarlah, jemput teman-temanmu!" perintah ibu Fatimah setengah berteriak. Karena mobil yang ia tembak tadi terlihat mengeluarkan asap yang semakin pekat. Deren tak mau membuang waktu lagi. Ia pun langsung berlari keluar untuk menyelamatkan ketiga kawannya.


Dengan dibantu oleh anak buah Ibu Fatimah, Deren pun membuka paksa mobil itu. Tak ada waktu lagi untuk mereka. Percikan api membuat mereka gugup. Ditambah para penumpang mobil itu hanya beberapa yang masih sadar.


Deren berhasil mengeluarkan Kopri yang berlumuran darah, Joker masih sadar dan baik baik saja. Dia pun ikut keluar. Sayangnya Codot tak sadarkan diri. Dia berada di kursi penumpang bagian depan tadi. Diapit oleh sopir dan anak buah bandit . Kening Codot terlihat banyak terdapat pecahan kaca.


Mereka pun memasukan para sahabat-sahabat Deren ke mobil yang telab mereka sediakan. Di sisi lain ada ibu Fatimah yang siap meluncurkan tempakannya. Setelah dirasa anak buahnya dan menantunya ama, Ibu Fatimah pun meluncurkan tembakannya. Tepat mengeni tangki bahan bakar mobil itu.


Ledakan tak bisa dihindari lagi. Dan semuanya selesai.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2