
Tak lupa Deren melaporkan hasil kerjanya pada Joker. Agar Joker merasa lega dan bisa fokus pada rencananya di sana. Kopri melirik sekilas Bos Besarnya. Ada sedikit ganjalan dihati pria ini. Kopri sudah sangat lama mengenal Deren. Deren bukan pria yang gampang menceritakan kehidupan pribadinya, tetapi lain jika bersama Kopri.
Kopri ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting mengenai adek kandung si ketua gangster tampan ini. Melihat Bosnya selalu terasenyum membuat Kopri semakin berani.
"Bos, ada kabar sedikit buruk untukmu Bos!" ucap Kopri.
"Kabar buruk apa?" tanya Deren.
"Yunita ada masalah dengan kadungannya Bos," ucap Kopri lagi. Deren langsung menatap Kopri dan melirik Yoyok. Maklum Yoyok belum tahu kebenarannya. Deren pun mengacungkan ponselnya, pertanda menyuruh Kopri untuk mengetik saja.
Kopri pun paham, dia pun segera menginfokan apa yang dia tahu tentang adek kandung si pria kece ini.
"Kemarin saya dapet kabar dari asisten rumah tangga Oma Rose. Kalau nona pendarahan," tulis Kopri.
Deren tak membalas pesan itu. Dia terlihat gelisah dan gugup. Bagaimanapun Deren adalah seorang kakak. Dan kini merangkap menjadi orang tua untuk adek satu satunya itu. Mata Deren terlihat berkaca kaca. Deren mengigit kecil kuku-kukunya agar tak mengeluarkan air matanya. Andai saat ini tak ada masalah besar di depan matanya, pasti dia kan terbang ke Jakarta untuk melihat kondisi adek kandungnya.
"Infokan padaku terus keadaanya, Kopri," tulis Deren.
"Siap Bos," jawab Kopri.
"Apakah parah!" tulisnya lagi.
"Sepertinya begitu Bos, Oma Rose sampai pingsan berkali kali," balas Kopri. Deren diam, tak tahu harus membalas apa.
Pikiran Deren bertambah kalut, bagaimana tidak masalahnya bertambah, tentang Aisyah belum usai kini ada lagi. Adek kandungnya sedang berjuang melawan maut. Dan lebih menyesalnya dia tak bisa mendampinginya.
Deren memejamkan matanya membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada adek dan juga keponakannya. Deren juga menyesal kenapa Robet, suami Yunita tak memberi kabar ini padanya. Dianggap apa aku ini? tanya Deren dalam hati.
"Kenapa Robet tak memberi kabar padaku?" tulis Deren pada Kopri.
"Maafkan ane Bos, kemarin ane bilang dan cerita tentang keadaan Bos sekarang. Beliau tak mau menambah bebanmu Bos. Tapi ane rasa Bos perlu tahu. Bagaimanapun saat ini Bos adalah orang tua Yunita, yang berhak tahu tentangnya. Sekali lagi maaf Bos, sebaiknya kita jangan putus doa untuk keselamatan YN dan anaknya," balas Kopri dalam chatnya.
Perasaan Deren makin kalut, jangan sampai Yunita kenapa napa. Yunita adalah keluarga kandung satu satunya miliknya. Deren berjanji akan memberitahu Yunita jika dia sudah melahirkan nanti. Deren ingin memberitahu itu nanti sebagai kado ke dua untuk YN selain kelahiran buah hatinya. Semoga sempat ya Ak preman, yang sabar. Kembalikan fokusmu, pesan otor.
Mobil yang dikendarai Yoyok pun sampai selamat di kediaman rumah Deka.
__ADS_1
"Kalian tunggu di sini biar aku masuk dulu," ucap Deren. Kopri dan Yoyok pun memunggu di mobil sambil menjaga Hasan yang belum sadarkan diri.
"Kekuatan biusnya berapa lama Bang, kagak bangun bangun?" tanya Yoyok.
"Harusnya sih udah, coba ku perikas," jawab Kopri sambil menempelkan jari telunjuknya pada hidung Hasan. Spontan Hasan memukul tangan Kopri.
"Aku sudah bangun bodoh. Untuk apa kalian menculikku hah. Apa gunanya pria lumpuh sepertiku?" tanya Hasan sambil membuka matanya. Yoyok dan Kopri pun langsung sungkem (hormat) pada Pak Hasan.
"Maafkan kami Mertua Bos, kami hanya menuruti perintah," jawab Kopri, karena saat ini yang ada di samping Hasan adalah Kopri.
"Mertua Bos mertua bos. Siapa kalian!" tanya Hasan.
"Kami anak buah pria tampan yang pakek kaos coklat itu Mertua Bos," jawab Yoyok. Hasan pun melihat di balik jendela, melihat Deren dan Deka mengobrol.
"Siapa dia?" tanya Hasan.
"Pacar Nona Bos, Mertua Bos," jawab Kopri.
"Kalian ini bikin aku pusing saja, Mertua Bos, Nona Bos, Pacar Nona Bos. Sebut nama saja!" bentak Hasan diakhir kalimatnya. Astaga, ternyata mertua bos galak pisan oe matilah kau Yok, batin Yoyok.
"Oo ... Apa!!!" bentak Hasan. Tu kan, ngamuk. Udah pelan plus halus pun masih salah batin Yoyok ketawa sendiri. Kopri melirik adeknya yang menertawakannya.
"Maaf Mertua Bos, jangan galak galak," pinta Kopri. Hasan terlihat geram. Yoyok masih dalam tawanya. Ingin rasanya Kopri pukul kepala adek brengseknya.
"Kalian bisa menculikku, dan penampilan kalian seperti ini. Aku yakin kalian anggota preman," ucap Hasan.
"Iya Mertua Bos, anda benar hahahaha...," jawab Yoyok dan Plaaakkkk ...Kopri memukul kepala adeknya. Rasaya lega bisa melayangkan tangan yang sedari tadi ditahannya.
"Aduh Bang, sakit!" ucap Yoyok sambil mengelus kepalanya yang sakit.
"Maafkan kepolosan adek saya Mertua Bos. Kami memang preman, tapi kami preman di jalan kebenaran," jawab Kopri mencoba merebut hati Hasan.
"Ck ... preman di jalan kebenaran konon. Kalian pikir aku tak pernah terjun didunia seperti ini." gerutu Hasan. Kopri dan Yoyok saling menatap.
"Bang, sepertinya beliau adalah suhunya preman, kita mesti sungkem sekali lagi," ucap Yoyok. Kopri dan Yoyok pun saling melempar senyum.
__ADS_1
"Maaf Mertua Bos, kami sungkem sekai lagi," ucap Kopri sambil melipat kedua tangannya untuk memberi hormat pada Hasan. Yoyok pun mengikuti langkah abangnya.
"Heh ... kalau model preman kayak kalian ma, tak ada apa apanya buatku. Aku hanya merasa aneh saja. Untuk apa kalian menculik pria lumpuh yang sebentar lagi mati ini," ucap Hasan.
"Jangan ngomong gitu Mertua Bos, kawinkan dulu putri Mertua Bos dengan Bos Besar kami. Barulah Mertua Bos boleh mati," jawab Yoyok asal dan plaakkk .... kembali Kopri memukul kepala adeknya.
"Aduh Bang, sakit. Salahku dimana lagi?" tanya Yoyok polos.
"Dasar bocah kurang ajar, kau doakan Mertua Bos mati. Ah ... belum lagi Bos Besar dengar ini. Bisa bisa kau dilempar ke tambak bandeng milik Pak Deka hah. Mau kau jadi makanan bandeng hah, atau udang. Tinggal pilih saja, ngomong asal saja saja kau ini. Bikin malu abang ganteng kau saja," umpat Kopri kesal pada adeknya. Hasan hanya tertawa melihat kekonyolan kakak beradik ini.
Tak lama Deren pun masuk, melihat Hasan sudah bangun Deren pun memberi salam.
"Eh, Abah. Sudah bangun Bah, maaf ya Bah. Kami culik Abah," sapa Deren sambil mengambil tangan Hasan dan menciumnya.
"Hemm ..." jawab Hasan berwibawa.
Hasan masih belum mau bertanya alasan mereka menculiknya. Sementara ini dia hanya mengikuti alur.
"Ke rumah tambak Yok," perintah Deren.
"Baik Bos," jawab Yoyok menuruti perintah Bos Besarnya.
"Matilah kau Yok, siap siap jadi makanan bandeng hah," ucap Kopri menakut nakuti adeknya.
"Bang, jangan nakutin. Hih...dikroyok kawanan bandeng, mending Yoyok disuruh kawin Bang. Mertua Bos punya anak cewek kan. Hah, buat Yoyok aja Mertua Bos gimana. Yoyok tampan kan, dari pada dikasihkan bandeng, eman. ha ha ha...," jawab Yoyok mencoba mencari tempat aman. Sayangnya Deren naik darah dan Plaaakkk...Deren melayangkan pukulannya.
"Aduh, nggak Abang nggak Si Bos. Semua mainnya tangan," eluh Yoyok.
"Makanya jaga mulut kau, anak Abah yang cewek cuma atu, itu buatku. Awas berani macam macam. Ku congkel mata kau," gerutu Deren kesal.
"Maafkan kami bertiga ya Mertua Bos. Kami memang begini," ucap Kopri. Pak Hasan hanya tersenyum melihat kekonyolan ini. Dalam hatinya dia bersyukur, bisa melihat persahabatan yang tulus pada ketiga anak muda yang ada di depannya. Membuat Hasan mengingat masa mudanya.
Bersambung..
CA," Hay hay geng...makasih ya masih setia dengan si Aak...like dan komen kalian tetap hadiah terbaik. Makin banyak like dan komen, makin cepet Level si Aak naik. Makin rajin deh emak updatenya...salam sayang dari kalajengking tamvan🦂🤩. Happy reading😘."
__ADS_1