
Deren dibawa ke rumah panti untuk mempersiapkan diri. Yudha, Joker dan Arumi yang mendapatkan kabar dari Deka pun ikut merasakan bahagia. Meskipun mereka tak bisa menyaksikan secara langsung proses ijab qobul kedua sahabat mereka. Tapi mereka tetep mengirimkan doa terbaik.
Deren menatap bayangannya sendiri di depan cermin. Dii mana, dia berpijak saat ini. Jujur ada perasaan ragu di sana. Deren takut guncangan yang dia dapatkan barusan akan mengubah sikapnya pada Aisyah. Gadis yang selama ini dia cintai, gadis yang selama ini dia perjuangkan.
"Tidak ... Aisyah nggak tahu apa-apa. Aku nggak berhak nyakitin dia. Seandainya benar orang tuanya lah yang menyebabkan keluargaku hancur, dia tetep berhak bahagia, " ucap Deren. Deren tak menyadari bahwa Deka ada di belakangnya.
Tanpa Deren sadari, Deka mendengar detail apa yang diucapkannya barusan. Pria ini tertegun tak percaya. Deka menghampiri adek angkatnya. Dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Bro, apa yang kamu ucapkan barusan? Mengapa terdengar menyakitimu? Kenapa? ada apa?" tanya Deka. Deren pun menoleh dan mengusap kasar air mukanya.
"Ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, Bang!" jawab Deren.
"Maaf Bro, apakah ane boleh tahu apa itu?" tanya Deka. Mereka berdua pun memutuskan duduk di sisi ranjang untuk berbincang.
"Om Patrio ternyata adalah sahabat ayah. Beliau sering datang ke rumah lama kami. Sebelum perampokan itu terjadi dan ... !" Deren mengehentikan ucapannya. Rasanya sangat berat sekali menceritakan masa lalunya selain pada Kopri. Suaranya terdengar parau, kesedihan tampak jelas di mata pria tampan itu.
"Perampokan? perampokan apa maksudmu? dan apa, Bro ? apa yang membuatmu seperti ini?" tanya Deka bingung. Deka memang tak tahu apapun tentang Deren. Jangankan Deka, Yudha yang mengenalnya dari kecil pun tak tahu apa-apa. Pria tampan ini memang tertutup pada siapapun kecuali pada Kopri.
Deren sangat terbuka pada Kopri. Awalnya dia pun memendam rahasianya sendiri. Malam itu setelah dia mengantarkan Yunita pulang kerumah. Deren mabuk berat dan secara tak sengaja dia menceritakan semuanya pada Kopri. Bahkan, Koprilah yang menyarankan agar dirinya melakukan tes DNA untuk memastikan bahwa Yunita atau Rohmah adalah saudari kandungnya. Sejak saat itulah Deren selalu menjaga kesadarannya dan tak pernah meminum minuman laknat itu. Minuman yang menurutnya bisa membuka semua rahasianya.
"Sebelum kami menyewa rumah almarhum paman Sarjono (orang tua Arti dan Yudha) kami tinggal di kecamatan yang berbeda Bang. Keluarga ane mengalami tragedi yang memilukan, rumah kami dirampok. Adek ame diculik, dan membuat Ibu depresi, ayah stres dan almarhum Bang Stev terus menyiksaku. Mereka semua menyalahkanku karena kebodohanku dan tak bisa melindungi adek perempuan kami satu-satunya," ucap Deren, pria ini terlihat tegar. Walau pada kenyataanya dia rapuh. Deka bisa melihat kehancuran Deren dari sorot matanya yang penuh luka.
__ADS_1
"Oke, ane paham. Ane turut berduka atas apa yang menimpa keluargamu. Lalu? apa hubungannya dengan Om Patrio?" tanya Deka. Ini harus diperjelas bukan? agar tak menjadi bomerang dikemudian hari. Agar tak menimbulkan prasangka yang bisa menghancurkan sebuah hubungan.
"Itulah yang hendak ane cari tahu kebenarannya, Bang. Seandainya pria itu tak hilang ingatan. Pasti ane akan tanyakan. Apakah dia terlibat dalam rencana perampokan itu. Kejadian itu sungguh membuatku hampir gila, Bang. Bayangkan, aku harus hidup dalam kesepian, kehilangan keluarga, makan dari belas kasihan orang lain. Bahkan, sekolah pun paman Sarjono dan keluarganya yang bantu biaya hidupku, Bang ," ucap Deren menceritakan kisah pilu masa kecilnya.
"Sabar Bro. Nanti coba ane coba cari tahu kebenarannya. Sebelumnya? ane boleh tanya sesuatu?" ucap Deka. Pria ini memang tak pernah mau bekerja setengah-setengah. Dia mau semuanya clear tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
"Tanya aja, Bang. Ane udah terlanjur membukanya. Tak ada gunanya lagi mengelak," jawab Deren pasrah . Sepertinya Deren sudah tak bisa menahan rasa sesak di dadanya sendiri.
"Bagaimana jika ... Om Patrio adalah dalang dari malapetaka yang menimpa keluargamu? apakah, kamu akan tetap membalas dendam dan meninggalkan Aisyah?" tanya Deka. Deren menatap sekilas pada abang angkatnya. Meski bingung, tapi Deren yakin jika keputusannya tak akan salah.
"Jika itu terjadi, ane tetap akan buat perhitungan dengan pria itu Bang. Bukan pada Aisyah. Bagaimanapun itu bukan salah istriku!" jawab Deren tegas.
"Apakah kamu tak takut jika itu akan membuat Aisyah merasa tersakiti?" tanya Deka lagi.
"Sekali lagi ane tanya, kamu mau lanjut menikahi gadis itu atau mau menunggu sampai kamu tahu kebenarannya?" tanya Deka memantikan.
"Tidak, Bang. Terlepas dari masalah ini, ane sangat mencintai Aisyah. Kami sudah saling berjanji untuk saling melengkapi. Dia wanita pertama buatku Bang, dan ane mau dia jadi yang terahir juga. Di samping itu, ane juga nggak mau bikin ibu Tika kecewa. Ibu keduaku itu selalu ingin melihatku menikah. Dia akan menghajarku jika aku gagal menikah. Abang tak lihat tadi pas kami minta restu, dia tersenyum bahagia Bang. Ini adalah pertama kalinya ane bikin ibu senyum, biasanya aku selalu membuatnya kesal," jawab Deren mantap.
"Apakah kamu takut pada Bu Tika?" tanya Deka.
"Tentu saja, dia perempuan paling galak di muka bumi ini. Takut aku!" jawab Deren sambil terkekeh.
__ADS_1
"Kamu pria berhati baik Bro. Pikirkan lagi keputusan apa yang hendak kamu ambil setelah ini. Ane berharap bukan Om Patrio yang ada di balik tragedi yang menimpa keluargamu," ucap Deka.
"Ane pun berharap demikian, Bang. Tapi jujur ane curiga dengan pria yang selalu lengkat dengan Om Patrio. Sepertinya dia tahu sesuatu Bang. Abang mau nggak cari tahu soal ini?" pinta Deren.
"Oke, ane coba cari tahu tentang dia. Sekarang persiapkan dirimu untuk tembak dalam. Jangan buat ane kecewa. Harus gol, oke. Semangat!" ucap Deka menyemangati adek angkatnya. Deren tertawa lepas, lelucon Deka membuatnya tak bisa menahan tawa.
"Oooo, dasar abang koplak ... untung ra enek Yoyok. Lek enek iso ke dowo-dowo masalah(oo, dasar abang gila untung nggak ada Yoyok. Kalau ada dia bisa panjang masalah)," umpat Deren kesal.
"Lah yo bener to, istilah buang peluru buat pengantin baru 'kan tembak dalam( Lah 'kan bener to. Istikah malam pertama buat pengantin baru 'kan tembak dalam)," tambah Deka. Mereka berdua kembali terkekeh. Deren menonjok pelan lengan Deka.
Deka pun mengaduh pelan, tapi tawa tetap menghiasi ruangan sempit ini.
"Wis Bang, ojo kok teruske. Iki wis dredek tingkat dewa aku (udah Bang, jangan diterusin. In udah deg degan tingkat dewa aku)," balas Deren.
"Nyebut jenenge ojo salah! Disurak'i koen lek salah. Ora isin ta preman ijab qobul salah hahahha (ngucapin namanya jangan salah! Bisa dipermalukan kamu. Emang nggak malu? preman ngucapin ijab qobulnya salah)," goda Deka. Deren makin tak percaya dengan Deka, ternyata pria yang selalu terlihat santun ini bisa kocak juga.
"Nggak Bang, Insya Allah aku iso (bisa). Bismillah ... demi tembak dalam hahaha," ucap Deren mantap. Kembali Deka terkekeh, Deren hanya tersenyum geli plus malu, Deka sungguh keterlaluan kali ini.
Begitulah mereka, persahabatan yang mereka jalin tak pernah setengah hati. Selalu saling mengisi dan melengkapi. Deren merasa lega setelah mengeluarkan sedikit masalahnya. Dan dia berharap keputusannya untuk melangkah bersama Aisyah tak salah.
Bersambung....
__ADS_1
Like dan komen kalian tetep emak nanti... makasih🦂🤩😘😘😘