
Mereka masih berusaha mencari solusi untuk masalah yang kini Deren dan Aisyah hadapi. Sambil membicarakan itu, Arumi dan Yudha pun memberi saran pada Deren.
"Saya harus gimana ya, Mbak. Ngadepin dia?" tanya Deren.
"Uncle nggak usah bingung begitu. Uncle cukup tunjukin sama dia kalau Uncle sayang dan perduli padanya," jawab Arumi.
"Caranya?" tanya Deren lugu. Yudha dan Arumi pun tertawa.
"Ya Tuhan, Uncle. Apakah ini pertama kalinya Uncle berhubungan atau berurusan dengan wanita?" tanya Arumi. Yudha hanya tersenyum. Karena dia sudah tahu jawaban pertanyaan Arumi.
"I ... iya," jawab Deren gugup. Arumi pun paham dengan perasaan pria di depannya ini.
"Oooo, pantesan. Uncle terlihat lucu. Santai aja Uncle, nggak usah gugup gitu!" ucap Arumi.
Deren hanya tersenyum.
"Ya, gini lo Uncle cara ngadepin perempuan itu. Perempuan itu cuma butuh disayang, diperhatikan dipeluk saat dia sedih. Uncle selalu ada saat dia butuhkan dan satu lagi jangan dimarahin. Wanita itu tak suka dimarahi, ingatkan saja kalau salah," jawab Arumi sesuai yang dia rasakan.
"Bagaimana mau peluk, kan kami belum itu!" jawab Deren lugu. Astaga, pria ini. Ingin rasaya Arumi tertawa, tapi takut juga nanti kalau Deren tersinggung.
"Sebenarnya aku punya solusi buat Uncle dan Neng Aisyah. Biar nggak ada jarak antara kalian," ucap Arumi sambil menggoda Deren dengan kerlingan matanya.
"Apa itu?" tanya Deren penasaran.
"Menurutku sebaiknya Uncle cepet halalin hubungan kalian. Biar nggak ada jarak lagi, kasihan Neng Aish. Biar ada yang melindungi, Uncle. Mengingat banyaknya orang yang berniat menyakitinya," jawab Arumi. Deren pun menatap sekilas wajah istri sahabat karipnya ini.
"Arumi bener, Bro. Ane setuju kalau kalian cepet nikah. Biar bisa lebih dekat, bisa cari solusi bareng," tambah Yudha. Deren diam dia terlihat berfikir.
"Nanti coba ane omongin sama dia, Bro. Untuk sekarang ane masih ingin tahu. Sebenarnya apa yang masih dia sembunyikan dari ane," jawab Deren sesuai apa yang dia rasakan.
Arumi dan Yudha tak bisa memaksa keputusan yang harus Deren ambil. Setidaknya mereka sudah memberikan saran yang terbaik.
Paket yang Arumi pesan untuk Aisyah sudah datang. Dia pun segera menerimanya dari sang kurir.
__ADS_1
"Bunda, ini di rumah sakit. Masih sempet-sempetnya Bunda belanja," ucap Yudha heran.
"Ck, Abi. Ini buat someone-nya si Uncle. Dia malu pakek baju terbuka begitu di depan kita. Dia mau menutup auratnya Bi," jawab Arumi gemas.
"Oooh, kirain," jawab Yudha malu.
"Kebiasaan Abi ni, heemm dah lah. Bunda mau masuk dulu. Bantu neng Aish ganti baju. Biar terlihat cantik dan sholelah di mata akang gantengnya," jawab Arumi sambil menggoda Deren. Arumi sangat senang dengan ini, Deren seperti mainan baru baginya.
"Tadi belanjanya habis berapa, Mbak?" tanya Deren.
"Udah nggak usah Uncel. aku dan Neng Aisyah kan berteman," jawab Arumi dengan senyum manisnya.
"Udah Bro, biarin aja. Kamu ini kayak sama siapa aja," tambah Yudha agar Deren bisa menerima pemberian mereka dengan senang hati. Deren tak nyaman jika menolak. Yudha dan Arumi memang selalu menganggapnya saudara.
Arumi pun meninggalkan dua pria lugu itu dan masuk ke dalam ruang rawat Aisyah. Aisyah menyambut kedatangan Arumi dengan senyum manisnya.
"Ini baju dan hijabnya sudah datang. Mau aku bantu ganti?" tanya Arumi menawarkan diri.
"Mau Mbak. Makasih banyak ya, nanti kalau Aish udah ada uang pasti Aish ganti," jawab Aisyah lugu. Ya Tuhan, gadis ini lugu sekali. Arumi jadi ingat pertama kali dia bertemu dengan Yudha. Keluguannya lah yang membuat Yudha mengaguminya saat itu.
"Makasih banyak ya Mbak," jawab Aisyah. Arumi pun membantu Aisyah turun dari ranjangnya dan memapahnya masuk ke kamar mandi.
Arumi juga membantu gadis itu memakai pakaiannya. Arumi sedih, melihat banyaknya goresan luka dan lebam-lebam pada tubuh gadis itu.
Dia jadi teringat saat dulu mantan rivalnya menyuruh para preman menculiknya.
"Aish udah lama kenal Uncle tato?" tanya Arumi.
"Kalau ketemu pertama kali udah lama, Mbak. Sekitar setahun yang lalu, atau lebih malahan. Aish lupa udah lama rasanya waktu Aish masih tinggal di sini," jawab Aisyah mulai terbuka. Arumi masih setia memegang infus yang terhubung dengan tangan Aisyah.
"Ooo, kok bisa pacaran. Jadi kepo aku?" pancing Arumi. Dia tahu bagaimana Deren kan.
"Kami nggak pacaran, Mbak. Aish nggak mau pacaran. Kami teman dekat," jawab Aisyah malu-malu.
__ADS_1
"Oo, temen deket. Sama aja lah sayang. Mau nggak kalau diajak nikah ama si Aak?" goda Arumi. Aisyah tersenyum lebar dan Arumi tahu jawaban apa yang dia dapat.
"Oke, nanti aku sampaikan sama Uncle tato ya," ucap Arumi. Aisyah kembali terseny dan segera memakai hijabnya. Hijab warna coklat susu itu terlihat sangat manis dan cocok dikulit Aisyah yang putih bersih itu.
"Mbak, kok Mbak panggil Aak Uncle tato sih. Aneh sekali kedengarannya?" tanya Aisyah sambil berjalan menuju ranjangnya lagi.
"Ooo, itu putraku yang kasih panggilan keren itu. Dia ngefans banget sama pacarmu. Dulu kan dia punya tato di tangan kan. Ya itu lah, panggilan kesayangan buat dia dari keponankannya tercinta," jawab Arumi apa adanya.
"Ooo, kirain!"
"Pacarmu tu banyak penggemarnya. Dari anak kecil sampek ibu-ibu. Kamu mesti kuat mental kalau jadi istri doi nanti," ucap Arumi sambil tertawa cekikikan.
"Mbak ni ada ada aja," jawab Aisyah sambi tersenyum malu.
"Eh, nggak percaya. Kamu udah tahu belum kalau pacarmu itu bisa bawa helikopter?" tanya Arumi. Aisyah menggeleng.
"Kamu nggak tahu?. Duh dia kalau lagi bawa heli (helikopter ya), pasti hati cewek cewek bakalan menjerit histeris. Mainannya bukan mobil lagi gaes," Arumi makin semangat ghibahin Deren membuat Aisyah makin penasaran siapa sih sebenarnya pria yang jadi teman dekatnya ini.
"Masak sih Mbak, dia bisa bawa heli?" tanya Aisyah tak percaya.
"Ye nggak percaya. Bahkan, dia punya heli pribadi. Keren nggak tu. Kamu nggak tahu ya kalau calon suamimu itu tajir melintir," aduh Arumi, mulutnya. Itu mau promosiin si akang apa bagaimana itu.
"Benarkah Mbak. Sungguh Aish nggak tahu apa-apa soal Aak. Dia hanya pernah cerita kalau pernah bergabung dengan kesatuan abdi negara. Nggak tahu tapi dipecat apa gimana?" jawab Aisyah sesuai yang dia tahu.
"Hehehe, biarin aja. Mau dipecat apa enggak yang penting dia itu pria baik. Kita wajib menghormatinya. Dulu dia nggak gitu lo, jelek banget. Lah sekarang ganteng banget macam artis hollywood. Ternyata ada Neng Aish to nyang mengubah doi jadi sekeren itu," jawab Arumi asal.
"Enggak Mbak, bukan Aish yang mengubah Aak jadi tampan gitu. Lama kami nggak ketemu! ketemu lagi penampilannya udah begitu," jawab Aisyah jujur.
"Apaan, dia berubah setelah ketemu kamu pertama kali, sebelum kalian pisah. Sepertinya saat dia mencari jati dirinya juga, " jawab Arumi sesuai yang dia tahu.
"Alhamdulilah Mbak, kalau emang Aak berubah karena aku. Yang penting berubahnya ke arah yang positif," balas Aisyah. Arumi pun mengangguk dan kembali memegang tangan Aisyah.
"Saranku, kalau misalnya dia ngajakin kamu nikah. Sebaiknya kamu terima aja. Percayalah dia pria yang sangat baik. Nanti pelan pelan kamu belajar ngertiin dia. Tapi aku sangat yakin kalau dia pria yang sangat baik dan pas buat kamu. Kalian pasti bisa melewati semuanya," ucap Arumi memberi saran pada Aisyah. Tak dipungkiri bahwa Aisyah juga memantikan saat dimana Deren akan memintanya pada orang tuanya.
__ADS_1
Bersambung....
Hey gengs, untuk mengobati rasa kange kalian pada si Aak ganteng. Emak akan crazy up, tapi sebelum itu tetap like dan komen kalian tetap jadi hadiah terbaik buat Emak. Happy reading๐๐๐