Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Syarat


__ADS_3

Deren sudah bersiap di depan penghulu, tinggal menunggu Aisyah keluar dari kamar di mana dia sedang di rias sekarang


.


"Dek, apakah kamu ikhlas menjadi istri adekku?" tanya Arti. Aisyah menundukkan kepalanya, diam membisu tanpa kata.


"Jika kamu nggak siap, saran Mbak, sebaiknya jangan diteruskan," ucap Arti memperingatkan.


"Aish sayang sama Aak, Mbak. Tapi rasanya sakit sekali jika ingat kenyataan yang kami hadapi saa ini. Jujur Aish tak ingin kehilangan pria itu. Dia berhati baik,sangat baik. Tapi Aish nggak bisa boong kalau Aish kecewa dengan ini, Mbak," jawab Aisyah jujur. Inilah yang ditakutkan Arti, Aisyah cinta tapi ada ganjalan dihatinya. Ada perasaan semacam kebencian atau rasa ikhlas memaafkannya belum ada.


"Itulah yang Mbak takutkan, Dek! kamu belum bisa mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Mbak tahu, ini memang bukan salah kamu, jika kamu mempunyai sedikit rasa benci pada calon suamimu. Tetapi Mbak berharap nantinya kamu bisa memaafkan kesalahan orang tuanya dan bisa mengerti akan dirinya. Hidup Deren tak semudah yang kita bayangkan,Dek! Dia harus berjuang bangkit sendiri, apa lagi ketika orang tuanya meninggal. Setiap hari abangnya menyalahkan dan terus menyiksanya. Sampai pada ahirnya orang tuaku mengambil tanggung jawab atasnya.Dan setelah itu terjadi abangnya meninggalkannya dan tak pernah kembali. Jadi bisa dikatakan bahwa dia sebatang kara. Hanya kami inilah saudaranya," ucap Arti mengisahkan secuil kisah tentang masa lalu Deren.


Mendengar sedikit kisah Deren membuat hati Aisyah sedikit tersentuh. Tetapi, tetap saja ... gadis ini masih belum bisa meikhlaskan apa yang telah terjadi. Aisyah jadi teringat kata Kopri bahwa Deren bukan pria yang mudah terbuka, mungkinkah Mbak Arti nggak tahu kalau Aak punya adek, batin Aisyah.


Perbincanggan mereka berahir mana kala ada yang mengetuk pintu."Sebentar ya, mungkin itu abangmu," ucap Arti. Aisyah pun tersenyum. Benar saja yang datang adalah Deka.


"Pengantinnya udah  siap belum, Mom?"tanya Deka.


"Sudah, Pap," jawab Arti.


"Ya udah, yuk kita ajak keluar. Penghulu sudah datang Mom. Siap untuk menikahkan mereka," ajak Deka. Arti tersenyum dan menghampiri calon pengantin untuk membawanya ke tempat di mana Deren akan mengucapkan ijab qobulnya. Berjanji akan menjaga Aisyah seumur hidupnya.


Arti dan Deka membawa Aisyah ke tempat di mana Deren menunggunya. Suasana terasa lain sekarang, Aisyah dan Deren hanya melempar senyum sekilas.Membuat  Deka dan Arti mempunyai firasat tak baik soal ini. Tapi sudah lah, kali ini mereka hanya bisa berdoa agar masalah yang membelit mereka berdua segera berahir.


Penghulu sudah siap dengan tugasnya. Beliau dengan hati-hati bertanya tentang kesiapan mereka berdua untuk menjalani bahtera rumah tangga. Bahkan, beliau juga memberikan beberapa wejangan untuk calon pengantin itu.


Patrio tak mau kehilangan moment berharga ini, dia pun meminta izin pada penghulu untuk menikahkan sendiri putrinya. Sekaligus menyerahkan tanggung jawabnya pada pria yang dipilih putrinya untuk menjadi imamnya.


 


''Kau sudah paham dengan apa yang kita bicarakan tadi, bukan?" tanya Patrio.


"Saya paham,Om," jawab Deren tegas. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan dan semuanya pun menyetujuinya, akhirnya Patrio pun tak menunda waktu lagi. Dia pun menjabat tangan calon menantunya dan mulai menjalankan kewajiban akhir sebagai seorang ayah.


Deren mengucapkan ijab qobulnya dengan sangat baik. Walaupun semua terlihat senang dan iklas tapi tidak dengan hati Aisyah dan Pak Hasan. Dihati kedua insan itu masih ada bimbang dan tak percaya pada Deren


Seusai melaksanakan tugasnya Patrio pun berpamitan. Kali ini dia membawa serta Hasan bersamanya.Patrio tak ingin Hasan membuat keributan lagi.Tak lupa Patrio meminta nomer ponsel Deren karena dia merasa perlu memantau gerak gerik pria tampan ini sesuai janjinya. Patrio juga memiliki maksud lain soal ini, pria tinggi besar ini ingin meminta bantuan Deren untuk menemukan Fatimah, Istri pertamanya.


Patrio mengirim pesan teks pada Deren perihal maksud dan tujuannya. Beruntungnya anak mantunya ini menyetujui usulnya. Bahkan, Deren siap membantunya kapanpun di butuhkan.


Arti dan Deka sudah menyiapkan kamar pengantin ala kadarnya di rumah utama mereka. Senyum mengembang di bibir Bu Tika saat ikut mengantar Deren dan istrinya masuk ke dalam kamar pengantin.


"Cah bagus sini!" panggil Bu Tika.


"Saya, Bu," jawab Deren sambil mendekat dan bersimpuh di kaki wanita yang telah membesarkannya.

__ADS_1


"Ini bukan fase bahagiamu, tetapi ini adalah fase terberatmu karena di pundakmu ada dua sumber dosa yang akan kamu pikul. Jadi Ibu harap kamu bisa jadi imam yang baik untuk keluargamu. Kamu paham kan sekarang kenapa Ibu dan bapak tak pernah memaksamu untuk mengikuti keyakinan kami, karena hanya dirimu sendirilah yang berhak memilih. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk rumah tanggamu. Ingat jangan pernah terpancing emosi, hadapi dengan kepala dingin. Semua pasti asa solusinya. Mengerti cah bagus?" ucap Bu Tika.


"Mengerti Bu, Insya Allah," jawab Deren.


Semua anggota keluarga Deka dan Arti pun kembali ke kamar mereka masing-masing. Sekarang tinggallah Aisyah dan Deren yang sibuk mengatur rasa tak nyaman dalam hati mereka.


Deren duduk di sisi ranjang, memperhatikan istrinya yang sedang sibuk melepaskan hiasan di kepalanya. Terlihat sangat ribet. Ingin rasanya Deren membantu, tapi dia takut secara dari tadi Aisyah masih belum mau berbicara padanya.


"Mau dibantuin, Dek?" tanya Deren menawarkan diri.


"Iya, Ak. Kayaknya ini mahkotanya nyangkut deh!" jawab Aisyah. Deren punberanjak dari duduknya dan membantu istrinya yang kesusahan.


"Hati-hati ya Ak. Jangan sampai patah," ucap Aisyah mewanti-wanti


"Iya, Dek. Aak hati-hati,"jawab Deren.


Deren memang berhasil melepaskan mahkota yang tersangkut di hijab istrinya. Tetapi Deren belum merasa lega karena mereka belum terbuka dengan masalah yang membelit bahtera rumah tangga yang baru saja dibina ini.


"Dek,"


"Heem,"


"Maafin orang tuaku ya," pinta Deren.


Aisyah diam, membuat Deren sedikit kurang nyaman.


"Maaf Ak, sepertinya Aish butuh waktu untuk memikirkan ini. Entahlah Ak! Aish bingung dan nggak habis pikir mengapa rumah tangga yang baru saja kita bina ini sudah dihadang badai," jawab Aisyah.


"Apa kamu menyesal menikah denganku, Dek?" tanya Deren. Aisyah menundukkan kepalanya, seolah dia merasa berat untuk menjawabnya.


"Jawab aja, Dek! Aak akan berusaha mengerti," ucap Deren dengan suara lembutnya.


"Aak jangan bodoh! bukankah pernikahan ini adalah impian kita berdua. Aak tanyanya nggak masuk akal," balas Aisyah.


"Tapi Aak merasa seolah kamu nggak ikhlas dengan pernikahan ini, Dek," tambah Deren.


"Aak salah kalau bilang Aish nggak ikhlas jadi istri Aak. Aish ikhlas Ak, hanya saja Aish butuh waktu untuk bisa mengerti ini," jawab Aisyah.


"Apakah itu artinya Aak harus menunggu?" tanya Deren.


"Menunggu apa maksudnya?" Aisyah malah balik bertanya. Aisyah bingung.


"Menunggu kamu siap menerima benih cinta dariku," jawab Deren terus terang.


"Iya, Aak harus sabar menunggu Aish siap," balas Aisyah sedikit ketus.

__ADS_1


"Sampai kapan?" tanya Deren.


"Semakin cepat Aak menyelesaikan misi semakin cepat Aak mendapatkan hadiahnya," jawab Aisyah.


"Misi apa?" Deren pura-pura tak paham akan maksud istrinya.


"Misi yang udah Aak sepakati dengan ayah," jawab Aisyah.


Deren diam,dia sudah memikirkan ini. Pria tampan ini tak akan memaksakan kehendakknya. Biarlah semua mengalir apa adanya. Jika menolaknya adalah cara Aisyah memaafkan orang tuanya maka Deren ikhlas. Anggap saja ini adalah syarat untuk mendapatkan maaf dari Aisyah.


 


Bersambung.....


Jangan lupa like n komennya ya....Kesan kalian selalu Emak tunggu....


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2