
Malam semakin larut, tapi dua insan yang sedang dimabuk asmara ini malah semakin asik dengan dunia mereka. Deren terus saja melakukan apa yang dia mau. Mencium penuh kasih sayang pemilik hatinya ini. Aisyah menyukainya.
Mereka sama-sama tak perduli dengan esok hari. Yang jelas saat ini yang ada dibenak mereka hanyalah rasa untuk saling memiliki.
Deren memulainya dengan sangat lembut dan hati-hati. Mencium setiap inci tubuh indah pemilik hatinya ini. Aisyah menerimanya dengan penuh suka cita. Wujud cinta ini memang sedang mereka nanti sama-sama.
Usaha Aisyah tak sia-sia, bukan? Dia sungguh hebat karena berani mengambil sikap. Membuka kepekaan Deren dengan sikap egos yang manis, demi ini. Demi penyatuan cinta yang dia harapkan.
Aisyah menerima dengan penuh keiklasan apa yang Deren inginkan. Bahkan, dia tak malu membalas kecupan dan apapun yang suaminya berikan.
Aisyah telah berhasil menghapus jarak antara mereka. Aisyah bahagia. Terlebih mereka percaya bahwa apa yang mereka lakukan tidak salah dan tidak menyalahi aturan apapun.
Deren melepaskan ciumannya. Pria tampan ini mulai melepas satu persatu kancing piyama yang dikenakan sang istri. Mesti tangannya gemetar Deren tetap berusaha menetralkan perasaanya.
Aisyah pun melakukan hal yang sama, tanpa malu malu lagi. Dia pun membantu Deren melepaskan atribut yang menghalangi niat tulus ini.
Disini bukan hanya Deren yang gugup. Aisyah pun sama. Karena ini adalah pengalaman pertama mereka. Jadi wajar, kalau mereka gugup.
"Sayang," bisik Deren.
"Heeem," jawab Aisyah.
"Aak cinta sama kamu, Dek," bisik Deren, mukanya terasa panas. Tanganya gemetar. Deren terlihat gugup saat memegang sesuatu yang baru baginya. Aneh, tapi indah. Entahlah, sepertinya Deren mulai menyukai sesuatu itu.
"Aak," bisik Aisyah saat Deren tengah asik bermain di dadanya. Deren tersenyum penuh semangat. Bisikan Asyah terdengar amat syahdu bagi pria tampan ini dan Deren menyukainya.
Puas bermain di area indah itu, Deren pun merangkak naik dan kembali menghujani istrinya dengan kecupan-kecupan manja yang mengggairahkan.
Beberapa kali, tanpa sengaja, Aisyah membisikan kata cinta di telinga pria tampan ini. Dan, bisikan cinta itu sepertinya memberikan amunisi untuk Deren. Agar bersemangat dan melanjutkan misinya malam ini. Deren harus menang dan kuat, setidaknya harus bisa menjebol gawang dengan keyakinan dan cintanya. Harus itu!.
Deren memeluk erat sang pujaan hati. Kebahagiaan ini terasa nyata ia rasakan. Malam ini semua sangat indah baginya, lebih indah dari saat pertama kali mereka bertemu di pom bensin waktu itu. Bahkan, wanita ini tak mau melepaskan pelukannya membuat Deren merasa lucu.
"Ak."
"Heemm."
"Aish takut."
Deren tersenyum, tapi tak perduli dengan ucapan sang istri. Dia malah makin berani. Saat ini mereka sudah sama-sama polos. Saling melihat dan merasakan apa yang mereka inginkan. Tak ada gunanya lagi mundur.
Deren semakin gencar melakukan serangannya. Menikmati alur yang mereka ciptakan sendiri. Malam ini begitu indah. Suasana begitu mendukung. Suara gemricik air hujan seolah menjadi musik untuk mereka melakukan itu. Ditambah cahaya lampu remang-remang yang diam-diam menjadi saksi bisu ungkapan cinta mereka.
__ADS_1
Deren menjadi pria tuli, nama kala hasrat yang dia miliki sudah mencapai puncaknya. Tangisan Aisyah hanya terdengar ditelinganya, tapi tak sampai dihatinya. Buktinya, rasa iba tak nampak sama sekali. Malah, tangisan itu menjadi semangat tersendiri baginya. Untuk menyelesaikan misinya.
Deren menjadi pria arogan yang mau menang sendiri, egois dan tanpa perasaan. Yang dia inginkan saat ini hanyalah melepaskan semua yang mengganjal dihatinya. Memenangkan pertarungan ini dan meloloskan tujuannya untuk menjadikan Aisyah sebagai istri lahir batin yang sesunggguhnya.
Naluri kelelakian Deren tak diragukan lagi, nyatanya saat ini pria ini telah berkuasa dan memegang kendali atas wanita cantik ini.
Ditengah pertempuran Aisyah tak menangis lagi. Dia terlihat mulai menikmatinya. Ditambah Deren juga membantu melupakan rasa sakit itu dengan mencium bibirnya penuh cinta.
Deren pria hebat, dia menang telak malam ini. Senyum mengembang dibibirnya mana kala sesuatu yang baru keluar dari dalam tubuhnya. Rasanya sungguh nikmat, jika ditanya apakah ada tandingannya? maka pria ini pasti akan berkata tidak. Karena ini memang sungguh nikmat.
Deren tumbang di sebelah Aisyah. Udara malam ini sangat dingin, tetapi tubuh mereka berkeringat. Olah raga malam lah penyebabnya. Dan mereka menyukainya. Mereka saling melepar senyum, Deren menyembunyikan wajahnya di dada sang istri. Sepertinya pria tampan ini malu. Aisyah tanggap dia pun mengecup kening pria tampan agar dia tahu bahwa semuanya baik baik saja.
"Aak kenapa?" tanya Aisyah. Deren mengangkat wajahnya. Kembali mereka saling melempar senyum.
"Terima kasih istriku, kamu sudah iklas menjadi istri lahir batinku," ucap Deren dengan senyuman penuh cinta.
"Sama-sama sayang," balas Asiyah sambil meringis menahan nyeri.
"Kenapa?" tanya Deren.
"Nggak apa-apa Ak. Semua baik-baik saja," jawab Aisyah berbohong. Deren tahu kalau istrinya ini menipunya. Pria ini pun tersenyum.
"Apa sakit?" tanya Deren.
"Mau kemana?" tanya Deren.
"Mau pakek baju Ak."
"Jangan," ucap Deren melarang. Aisyah menatap heran dan bingung akan larangan aneh ini. Deren menutup tubuh istrinya dengan selimut dan berucap.
"Aak ingin menikmati keindahanmu sekali lagi sayang," bisik Deren. Suara serak pria itu sungguh bisa membuat Aisyah merinding.
"Apa maksud Aak?" tanya Aisyah takut. Terang saja dia takut, secara di daerah rahasianya kini terasa kurang nyaman.
"Mukanya nggak usah tegang gitu. Aak tahu kamu kesakitan 'kan sekarang. Aak nggak akan memintanya lagi kali ini. Mungkin nanti, setelah bangun tidur," ucap Deren dengan senyum liciknya.
"Aak, besok-besok lagi ya," ucap Aisyah merinding.
"Nggak tahu, semaunya Aak lah," balas Deren.
"Hah."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Nggak, nggak kenapa-napa. Semua aman," jawab Aisyah. Deren tersenyum, pria licik ini tahu jika istrinya saat ini menyesal karena terjebak dalam ucapannya sendiri. Bahwa dia dirinya adalah milik Deren seutuhnya. Yang artinya Deren boleh memintanya kapanpun dia mau. Ini sungguh menggelikan, bukan?
Deren masih asik memainkan anggota tubuh Aisyah yang jadi favoritnya. Aisyah tak menolak meski rasa kantuk telah menderanya. Deren sangat aneh malam ini. Pria ini begitu bersemangat.
Deren tersenyum menahan tawa mana kala melihat Aisyah hanya diam saja, mungkin gadis ini sedang merutuki kebodohannya. Menyesali apa yang pernah dia ucapkan.
"Kok diem?" tanya Deren.
"Habis mau ngapain? kayak nya Aak suka mainan itu," ledek Aisyah. Deren tertawa pelan.
"Ini lucu," jawabnya.
"Kok bisa?" tanya Aisyah, menurutnya Deren memang aneh, manja dan menggemaskan. Kadang-kadang.
"Nggak tahu," jawab Deren. Tu kan, dia emang aneh kan.
Aisyah enggan melayani kekonyolan Deren, dia pun memejamkan matanya. Dan memeluk manja sang suami. Deren tersenyum. Aisyah tahu jika Deren menertawakan sikap manjanya. Tapi Aisyah tak perduli, yang dia pikirkan saat ini adalah pria tampan ini adalah miliknya. Terdengar tawa geli Deren, seketika wanita cantik ini pun membuka matanya, dan menatap aneh pada sang suami.
" Eh Ak, Aish boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Aisyah sambil tersenyum bahkan dia berani mengecup dagu Deren.
"Tanya aja, bukankah itu hobimu," jawab Deren.
Aisyah tersipu malu. Karena apa yang Deren katakan adalah kenyataan. Dia memang lebih sering ingin tahu tentang suaminya ini. Ketimbang Deren yang di nilainya lebih pendiam.
"Kapan Aak mulai ada rasa sama Aish?"
Deren melirik gemas pada wanita yang ada dipelukannya saat ini.
"Udah Aak bilang kan waktu itu. Kalau Aak suka sama kamu pas kita ketemu di rumah sakit, saat kawan Aak sakit. Kamu sering bikin Aak nggak bisa tidur. Bahkan, pas Aak memutuskan menerima pekerjaan di Papua pun, rasanya kamu selalu ngikutin Aak," jawab Deren jujur.
"Duh, cute -nya. Seneng ya ketemu Aish lagi heeemmm," goda Aisyah.
"Sedikit," jawab Deren dengan senyuman khasnya. Aisyah melepaskan tubuhnya dari dekapan suaminya. Senyum penuh candaan kembali Aisyah persembahkan untuk pemilik hatinya ini.
"Kenapa?" tanya Deren curiga.
"Beneran, ketemu Aish senengnya dikit?" tanya Aisyah merajuk. Deren melirik lucu, gemas.
"Dah, ah. Mari bobo," ajak Deren kembali menarik tubuh Aisyah untuk masuk ke dalam dekapannya. Aisyah tak menolak, dia pun menyambut pelukan penuh cinta itu.
__ADS_1
Deren memejemkan matanya. Mencoba melawan hasrat yang kembali menganggunya. Tubuh polos itu seakan memintanya untuk kembali menjamahnya. Tapi ucapan Aisyah barusan membuatnya tersadar masih ada hari esok untuk mewujudkan cinta itu lagi. Maka bersabarlah Deren. Jangan kau habiskan sekarang, mulai malam ini, buat malam malammu menjadi malam yang penuh indah dan syahdu.
Bersambung...