
"Ndos, kamu bisa bantu aku jelasin pasal semua yang tertulis di buku ini?" tanya Patrio pada sahabatnya. Patrio membantu Hasan untuk duduk, Aisyah hanya menatap heran pada pria yang bisa membuat bulu kuduknya berdiri ini.
Sikapnya sungguh berbeda. Apakah dia memang benar sahabat abag? batin Aisyah.
Agaknya Patrio tak perduli dengan kebingungan Aisyah. Dia tetap fokus pada sahabatnya.
Hasan menerima buku itu dan mulai membacanya.
"Ini yang pertama ini Pat, mungkin si Fatimah merasa kamu nggak cinta ama dia. Mengingat kamu sangat cuek dan pendiam," ucap Hasan mulai mau menjelaskan isi buku milik Fatimah.
"Kenapa dia bisa berfikir begitu, apakah kami di jodohkan?" tanya Patrio bingung.
"Bukan dijodohkan, lebih tepatnya karena kau menang saimbara dan hadiahnya adalah Fatimah," jawab Hasan. Ini memang terdengar aneh dikalangan manusia biasa seperti kita, tapi di dunia per-gangster-an itu adalah hal biasa. Tahta wanita dan harta memang tujuan mereka.
"Kenapa mukamu begitu, bukankah ini sudah biasa di duniamu?" tanya Hasan malah ikutan bingung menghadapi kekawatiran Patrio.
"Tidak, bukan itu. Aku hanya heran, adakah wanita yang suka sama pria sampai segitunya. Sampai ditulis tulis begitu. Tak bisakah dia langsung ngomong kalau suka!" ucap Patrio menyuarakan apa yang ada dipikirannya. Mendengar itu Aisyah tersenyum, rasanya lucu sekali melihat dua pria tua yang berbicara soal cinta. Dan keduanya terlihat sangat oon.
"Pak, anda jangan bikin malu saya di depan putri saya. Ck ... kita ini udah tua lah. Masak bahas beginian!" ucap Hasan mulai menyadari jika Aisyah mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Kenapa kau jadi perduli dengan anak laknat ini ha. Biarkan saja dia mau tertawa, teruskan jelaskan dengan rinci bagaimana aku bisa menikah dan memiliki anak darinya. Dan kenapa aku bisa sampai meninggalkannya?" tanya Patrio penuh emosi yang menggebu-gebu. Seperti mendapat hiburan gratis Aisyah pun menyanggka kepalanya dan terus menikmati adegan di depannya.
"Repotnya ngomong sama orang hilang ingatan. Seperti ngajarin baca ama orang yang buta huruf. Harus dari nol Bro," canda Hasan sambil tertawa.
"Kau jangan gitu Ndos, aku pun tak nak begini," jawab Patrio memelas. Aisyah kembali tersenyum, ternyata pria sangar ini mempunyai jiwa halus juga.
__ADS_1
"Iya iya baiklah ... akan ku jelaskan dengan rinci sesuai yang kau mau," jawab Hasan. Kemudian dia pun membuka kembali lembar demi lembar tukisan Fatimah. Mata Hasan berkaca kaca saat membaca tulisan yang sungguh menyayat hatinya, ternyata yang dia dengar dulu benar. Orang tua Fatimah tega menghancurkan rumah tangga dan cinta putrinya hanya semi tahta dan daerah kekuasaan.
"Kenapa kau nangis Ndos. Apakah ada yang salah?" tanya Patrio.
"Pat, kau memang dijadikan alat untuk mengembalikan lagi kekuasaan mertuamu Pat, dan hilangnya ingatanmu adalah keuntungan terbaik mereka," ucap Hasan sambil menunjukan tulisan tangan Fatimah yang menceritakan tentang rencana orang tuanya yang tak sengaja dia dengar.
"Kalau pun seandainya kau tak tak hilang ingatan maka mereka tetap akan mencoba dengan cara lain. Yang penting kau pisah dengan Fatimah dan menjadi milik King Kobra," ucap Hasan lagi.
"Mungkinkah kecelakaanku salah satu dari rencana ini Ndos?" tanya Patrio memastikan apa yang dia pikirkan.
"Sepertinya begitu Pat!" jawab Hasan tanpa ragu.
"Apa alasan mereka memperebutkanku, bukankah aku anak buah biasa?" tanya Patrio bingung.
"Tidak Pat, kau salah kalau kau bukan pria biasa. Kakekmu adalah ...!" Hasan belum berani membuka rahasia besar ini. Karena Aisyah diantara mereka.
"Kakekmu adalah musuh bebuyutan mertuamu, tentu saja dia tak terima jika keturannya berhasil mendapatkan putri mahkota. Makanya dia bertekay membuangmu. Menyakiti harga diri kakekmu adalah tujuan utama mereka. Agar kekuasaan kakekmu runtuh dengan sendirinya. Menyerahkanmu pada King Kobra adalah pukulan terberat kakekmu. Karena kakekmu juga bernaung pada kekuatan King Kobra membuatnya tak berkutik dan terpaksa mengikuti perintah mereka," jawab Hasan sesuai apa yang dia tahu saat bergabung di kesatuan milik kakek Patrio.
"Aku masih bingung Ndos, untuk apa aku ikut saimbara itu. Apakah aku terlalu menyukai wanita itu?" tanya Patrio.
"Tentu saja, kalau tak mana mungkin kau mau berjuang!" jawab Hasan gemas.
"Perjalanan hidup yang tak ku ketahui ini membuatku hampir gila Ndos. Kenapa mereka jahat sekali padaki Ndos. Apa salahku?" tanya Patriobtiba tiba melo.
"Kamu nggak ada salah apa apa Pat, hanya nasib cintamu aja yang kurang bagus," jawab Hasan.
__ADS_1
"Ck ... kita sudah tua Ndos. Malu bicara cinta, tapi aku tak bisa terima ini Ndos. Aku merasa saat ini aku hanya dimanfaatkan oleh King Kobra untuk membuat mereka semakin kaya Ndos. Mengingat aku tak tahu dipakai apa uang yang aku sebar itu!" ucap Patrio.
"Sebaiknya kau usust tuntas semuanya Pat, sebelum semua terlambat. Aku rasa putri King Kobra juga terlibat, dia terkesan menghalangimu untuk mengingat masa lalumu Pat!"!ucap Hasan, sekali lagi pria tua ini gencar mengingatkan agar Patrio tak lengah.
"Kau benar Ndos!" balas Patrio. Mereka diam sesaat, Hasan meneruskan membaca lembar demi lembar buku itu. Mata Hasan berhenti pada satu tulisan penuh pengorbanan.
"Pat, coba kau baca ini. Ternyata Fatimah tak bohong soal semua konspirasi ini. Kenapa dia menitipkan putrimu padaku (Otak Asiyah langsung konek, tapi masih belum berani protes), inilah jawabannya Pat!" ucap Hasan sambil menunjukan tulisan itu. Patrio sangat tercengang, ternyata disamping serakah mertuanya juga kejam. Hingga berencana membunuh keturunan mereka sendiri.
MAAFKAN IBU PUTRI KECILKU...NYAWAMU LEBIH BERHARGA DARI APAPUN . Begitulah kira kira tulisan singkat yang dibuat oleh Fatimah, istri Patrio.
"Berarti benar Ndos, ini semua adalah konspirasi mereka. Awas aja mereka berani mempermainkanku. Akan ku bumi hanguskan mereka!" ancam Patrio geram.
"Pat, perasaanku mengatakan, kemungkinan Fatimah masih hidup. Apakah kamu tak ingin mencarinya?" tanya Hasan, Patrio belum berani menjawab. Dia malah menatap intens pada Aisyah.
"Katakan dulu siapa aku yang sebenarnya pada gadis bodoh ini Ndos. Biar dia tak kurang ajar pada bapak yang membuatnya," ucap Patrio, Hasan malah tersenyum mendengar umpatan menggemaskan Patrio. Hasan sudah menduga bahwa Aisyah pasti sudah membuat Patrio jatuh cinta dengan keuguannya.
"Saya kan hanya nanya Om. Om nya aja yang emosian!" balas Aisyah.
"Tu kan, aku bilang juga apa. Anak ini berani sekali Ndos," tambah Patrio geram. Hasan hanya tertawa, aneh sekali melihat ini. Seorang pemimpin besar dibuat kesal oleh anak ingusan seperti Aisyah tetapi tak bisa berbuat apa apa. Ck ... sungguh ironis sekali.
"Kenapa harus aku Pat, kamu lebih berhak mengatakan sendiri siapa sebenarnya dirimu. Dan apa hubungan kalian. Bukankah kau sudah punya bukti real nya!" jawab Hasan apa adanya.
Patrio masih diam dan memilih kata yang pas untuk dia sampaikan pada Aisyah.
Bersambung...
__ADS_1
Maafken Emak ya geng...Emak masih harus bertanggung jawab pada karya Emak yang lain, jadi bagi bagi waktu oke...kalau berkenan boleh banget kepoin karya Emak yang masih on going lainnya...