
Pak Hasan membaca lembar demi lembar biodata Deren. Betapa terkejutnya pria tua ini. Kenyataan yang kini ada di depan matanya adalah sesuatu yang tidak bisa beliau terima dengan lapang dada. Deren ternyata adalah anak dari pria yang dibencinya.
Jevan ( ayah Deren )dulu adalah sahabat mereka. Awalnya mereka adalah segerombolan preman jalanan. Saat itu ketua geng mereka adalah Handoyo, kakek Novian Juan. Tim mereka sama sekali tak tahu jika Patrio adalah anak orang berada. Karena Patrio tak pernah menyinggung data dirinya, dari mana dia berasal dan sebagainya. Bahkan, pria itu juga tak pernah merasa jijik dengan apa yang mereka makan setiap hari. Patrio sungguh pandai membawa diri dan menyembunyikan siapa sebenarnya keluarganya.
Patrio memang tidak suka berada dilingkungan keluarganya. Yang selalu mengekang dan mengaturnya. Awal mereka tahu bahwa Patrio adalah anak orang berada ketika mereka terjaring razia satpol PP. Sang kakek yang kaya raya itu menjemputnya di kantor polisi. Dan dari situlah Hasan dan Jevan tahu identitas asli Patrio Wibisono atau biasa dikenal sebagai Patrio Guran.
Sang Kakek kehabisan akal membujuk Patrio pulang. Berkat rayuan Hasan dan Jevan akhirnya Patrio mau kembali pada keluarganya.
Sebagai ucapan terima kasih. Maka, Jevan dan Hasan diberi pekerjaan oleh kakek Patrio di hotelnya. Sayangnya, Jevan, pria tak tahu terima kasih itu malah menghianati kepercayaan dan persahabatan mereka dengan menjadi mata-mata dan kaki tangan Hariyanto, ketua King Kobra.
Hasan dan Patrio marah besar saat itu, bahkan mereka sempat menyusun rencana untuk memberi pelajaran pada Jevan. Sebagai hadiah penghianatan yang Jevan lakukan.
Mereka geram. Bagaimana tidak? Jevan adalah penyebab hancurnya persahabatan mereka.
Hilangnya ingatan Patrio, dan rusaknya rumah tangga sahabatnya ini tak lepas dari ulah Jevan yang membocorkan strategi atau tak tik dagang yang mereka miliki. Bahkan, Jevan juga membujuk para investor untuk mundur dan menarik dana yang telah mereka investasikan di Hotel milik Patrio dan Kakeknya.
Disamping itu, kematian kakek Patrio juga disinyalir karena ulah pria bajingan itu. Entahlah ...! Hasan belum bisa membuktikannya sampai saat ini.
Awalnya Hasan tak tahu jika Jevan adalah mata mata King Kobra dan pengikut mereka. Bahkan, sampai saat ini, Pria tua ini masih tak percaya bahwa Jevan tega menjual persahabatan mereka. Hasan tahu saat Handoyo menghajar Jevan di markas mereka.
Wajah Hasan memerah, mengingat kejadian demi kejadian yang mengakibatkan hancurnya persahabatan yang hampir 10 tahun mereka bina. Hasan marah, Hasan emosi. Bahkan, Handoyo saja masih punya belas kasih pada Patrio yang notabene adalah adek dari Hariyanto, ketua King Kobra yang jahat itu.
__ADS_1
Handoyo masih berusaha mengingatkan Jevan. Bahwa apa yang dia lakukan salah. Sayangnya pria tamak itu malah semakin nekat. Walau pada ahirnya keluarganya habis oleh pasukan King Kobra yang dibelanya itu.
Hasan menghela nafas dalam dalam, dia tak bisa menahan amarahnya lagi. Pria tua itu tak terima jika anak gadisnya akan dia nikahi oleh anak penghianat dan penghancur kehidupan Patrio dan Keluarganya. Ya... Deren adalah anak penghianat itu.
Yang ada di pikiran Hasan saat ini adalah menggagalkan pernikahan Deren dan Aisyah. Deren dinilainya tak pantas memiliki Aisyah. Anak pria penghianat seperti Deren harus ikut mati bersama keluarganya.
Patrio boleh hilang ingatan, tetapi tidak baginya! Dia masih ingat betul perbuatan dan kata-kata yang diucapkan Jevan malam itu. Bahkan, dengan tanpa dosa Jevan berani mengajaknya untuk menghianati pria yang telah mengangkat derajatnya itu.
Flashback On...
Malam itu Jevan sedang bertamu ke rumah Hasan. Berniat membujuk Hasan untuk bergabung dan menyetujui usulnya. Mengajaknya untuk membujuk para investor agar mau menarik dana mereka dan menginvestasikan pada Hotel milik Hariyanto, ketua King Kobra.
"Ndos ... ayolah tanda tangani saja. Kita dapat banyak lo kalau kita bergabung dengan pak Hariyanto. Dia berani kasih kita 40% saham di hotel itu. Nanti kita bagi dua," bujuk Jevan. Perasaan Hasan hancur, rasaya seperti disambar petir di siang bolong. Bagaimana tidak? Hasan tak percaya jika persahabatan mereka hanya senilai 40% saham bagi Jevan.
" Aahhhh ... persetan dengan itu Ndos. Kita ikut Patrio dapet apa hah? gaji doang, itu pun pas-pasan Ndos. Aku bosan miskin!" jawab Jevan meremehkan.
"Van, kamu bener-bener manusia tak beradap. Jangan katakan kalau kericuhan di hotel kita adalah ulahmu. Jangan bilang kalau kamu yang membujuk para investor itu untuk menarik dana mereka dan mundur dari proyek ini?" tanya Hasan dengan penuh selidik.
"Aahhh ... sudah kubilang kalau aku bosan miskin. Ayolah Ndos, toh Patrio juga nggak kasih kita posisi apa-apa. Apalagi kakeknya itu, pelitnya luar biasa." jawab Jevan lagi.
"Ya Tuhan Van, setan apa yang merasukimu! Kamu benar-benar gila. Serendah itu kah harga dirimu, sepicik itu pola pikirmu. Ingat Van, Tuhan tidak tidur. Patrio udah ngangat derajat kita, mungut kita dari sampah. Begini balasanmu ke dia, aku nggak habis pikir Van. Ya Tuhan!" ucap Hasan geram.
__ADS_1
"Aahh ... Kita juga udah banyak bantu dia. Aku kecewa Ndos, kita cuma jadi mesin uang dia doang. Kita cuma dimanfaatkan Ndos, ingat itu!" bantah Jevan kesal.
"Mesin uang, matamu! Van, yang namanya kerja ya begitu. Aku rasa apa yang kita dapat sudah sepadan dengan apa yang kita kerjaakan. Kamu yang gila Van. Apa kamu nggak kasihan ama Patrio, istrinya lagi hamil tua kamu bikin dia stres begini. Kamu bener- bener gila Van," ucap Hasan, pria ini sungguh tak habis pikir jika sahabatnya ini tega menghianati pria yang telah menolongnya.
Jevan diam mendengar apa yang Hasan katakan. Tetapi jiwanya tetap mendorongnya untuk melakukan apa yang dia pikirkan saat ini.
Keesokan harinya jiwa Hasan kembali terguncang. Dia mendengar Patrio kecelakaan dan jasadnya tidak ditemukan. Hasan menangis, berteriak di lokasi terjadinya kecelakaan itu. Hasan sungguh tak menyangka bahwa pria yang telah menjadi penolongnya, nasibnya berahir tragis seperti ini.
Tak sampai di situ, Hasan juga jadi saksi kematian kakek Patrio yang dikabarkan mati karena keracunan atau diracun. Entahlah...?
Keluarga Patrio hancur tak tersisa, ditambah lagi persekongkolan antara King Kobra dan keluarga Fatimah yang tak lain adalah mertua Patrio.
Hasan tak punya kekuatan untuk melawan. Dia hanya bisa diam dan menangisi kehancuran sahabatnya. Kejadian demi kejadian membuat Hasan hampir gila. Untung ada Ratih, istrinya yang selalu memberinya dukungan. Hingga Hasan berani bangkit dan memulai lagi hidupnya.
Dendam Hasan pada Jevan masih belum luntur sampai sekarang. Meskipun pria itu telah dikabarkan hancur dan mati.
Hasan sangat senang saat mendegar kawanan King Kobra mengobrak-abrik rumah sahabatnya itu.
Hasan berfikir mantan sahabatnya itu pantas mendapatkan hukuman itu. Meski itu tak sepadan dengan apa yang telah dia perbuat pada Patrio Guran, sahabatnya.
Flashback Off...
__ADS_1
Bersambung....
Duh ... Aak Deren , ujianmu lebih berat honey, yang sabar ya...😘😘😘