Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Restu Untuk Deren


__ADS_3

Deren langsung bergegas menghampiri Aisyah yang lemah tak sadarkan diri. Pria tampan ini menangis dan memeluk kekasihnya. Patrio tak bisa berbuat apa-apa, karena mereka memang saling mencintai. Sayangnya, itu tak berlaku buat Pak Hasan. Pria tua itu malah marah dan dan berteriak pada Deren.


"Jangan sentuh putriku!" teriak Pak Hasan. Deren tak perduli, dengan penuh kekhawatiran Deren pun mengangkat tubuh kekasihnya dan membawanya ke sofa.


"Mbak ... minta minyak kayu putih Mbak, cepet Mbak!" pinta Deren pada Arti. Pria ini terlihat gugup dan kekhawatiran terlihat jelas di wajah tampannya. Arti pun tanggap. Dia pun segera mencari apa yang adek angkatnya mau.


Suasana menjadi tak terkendali mana kala Pak Hasan terus saja melarang Deren agar tak menyentuh Aisyah.


Deren masih saja tak perduli, bukan mengabaikan larangan itu. Tetapi, pria tampan ini sungguh perduli pada gadisnya. Cinta dan kasih sayang untuk kekasihnya tak diragukan. Rasa itulah yang mendorongnya berani melanggar larangan apapun yang ditujukan padanya.


"Jauhkan pria itu dari putriku!" teriak Pak Hasan lagi.


Pria tua ini meronta, hingga hampir jatuh dari kursi rodanya. Untung Burhan dan Yono segera mencegahnya.


"Sabar to, Pakde," ucap Yono.


"Sabar, sabar ndasmu (kepalamu)!" bentak Pak Hasan. Kali ini kemarahan pria ini tak main-main. Emosinya sudah mencapai puncaknya.


"Ndos ... mbok ojo ngunu ta (Jangan begitu)," ucap Burhan juga, pria ini juga terlihat tak setuju dengan pola pikir pria tua ini.


Patrio menghampiri sahabatnya. Tak di pungkiri saat ini, Patrio juga shock atas apa yang dia dengar. Tak percaya atas keyataan yang ada di depan matanya. Tapi dia bisa apa? Toh, semua sudah terjadi. Bukankah begitu?


"Ndos ... jangan begitu, yang salah 'kan orang tuanya. Untuk apa kita hukum anaknya. Nggak ada gunanya. Sudahlah! kita 'kan sudah tua. Harusnya kita berfikir lebih dewasa. Untuk apa kita memendam dendam? itu tak baik Ndos. Lagian Jevan 'kan juga sudah pergi. Kasihan putranya Ndos, pasti dia juga menderita selama ini," ucap Patrio memperingatan sahabatnya yang menurutnya agak sedikit keterlaluan pada Deren.


"Mungkin kamu bisa dengan mudah memaafkan dia dan bapaknya. Tapi, tidak denganku Pat. Kamu tidak tahu betapa Fatimah menjerit kesakitan melahirkan putrimu tanpamu! Dia harus kabur dari rumah sakit untuk menyelamatkan putrimu dari orang tuanya. Walaupun pernikahan kalian terjadi karena perjanjian, tetapi dia mencintaimu Pat. Wanita itu mencintaimu. Kau dengar! dan bapak pria bodoh ini, buta, tuli! pria itu jahaman Pat dengan teganya memisahkan kalian hanya karena uang. Dia menjual persahabatan yang lama kita bina Pat (Hasan menghentikan ucapnnya. Pria itu menangis, menyesali perbuatan Jevan pda Patrio). Aku tak terima, Pat. Aku tak pernah memafkannya. Aku kecewa padamu, kamu sangat mudah memaafkannya!" ucap Pak Hasan geram.


"Bukan begitu Ndos. Aku hanya mengajakmu untuk ikhlas. Semua sudah terjadi Ndos. Anggap saja ini suratan takdir yang harus kita jalani," jawab Patrio. Terlihat jelas bahwa Patrio sebenarnya adalah pria berhati baik, sayangnya kebaikan hatinya banyak dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.


Pak Hasan diam, tapi tak dipungkiri bahwa saat ini hatinya masih kesal. Geram dan ingin menghajar Deren. Andai dia bisa berdiri dan bergerak bebas, mungkin saat ini calon suami putrinya ini sudah babak belur dibuatnya.


Arti hendak membantu Deren membangunkan Aisyah. Tetapi Deren menolak. Dia mau merawat Aisyah sendiri.


"Biarkan dulu Mom, kasihan dia. Pasti saat ini jiwanya terguncang," bisik Deka ditelinga istrinya.


"Iya, kasihan Uncle tato, Pap," balas Arti.


Deren terus berusaha membangunkan calon istrinya. Mengusap dengan penuh kasih sayang jari-jari lentik itu. Sesekali dia juga meniup jari jemari yang ada digenggamannya. Melihat itu, Patrio yakin jika pria ini sangat mencintai putrinya.

__ADS_1


Aisyah tersadar. Dia pun membuka matanya, Deren tersenyum bahagia. Aisyah menarik tangannya dari genggama Deren. Ada perasaan tak nyaman dihati keduanya, itu pasti. Tapi Deren tak mau terlalu memusingkan ini, yang dia tahu saat ini adalah dia sangat mencintai Aisyah dan tak ingin kehilangannya. Apapun alasannya!.


Aisyah mencoba bangun. Walaupun tubuhnya terasa lemas dan sedikit pusing. Deren hendak membantunya tapi Aisyan menolak. Pria ini mengerti pasti Aisyah kecewa padanya.


Tanpa disuruh Arti pun mengambilkan minum untuk calon adek iparnya ini. Agar gadis ini lebih tenang.


"Minum dulu, Dek!" pinta Arti pada Aisyah. Gadis cantik berpakaian pengantin ini pun menurut. Dia mengambil gelas itu. Dengan hati-hati Deren pun membatu Aisyah meminum air itu.


"Makasih, Mbak!" ucap Aisyah.


"Iya sama-sama," jawab Arti.


Patrio menghampiri putinya, dan duduk di deoan sang putri.


"Aisyah, apa kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Patrio sambil mengenggam tangan putrinya.


"Aish ... Aish ... Aish pengen cari ibu, Yah!" pinta Aisyah, langsung memeluk ayahnya. Tangisnya pecah seketika. Bahkan, orang-orang disekitar bapak dan anak ini pun ikutan terbawa suasana. Banyak pasang mata yang ikut meneteskan air mata mereka.


Aisyah masih menangis di dekapan sang ayah. Menumpahkan segala sesak di dadanya. Gadis ini hanyalah seorang anak. Anak yang merindukan seseorang yang telah berjasa padanya! Apakah salah? Pastinya tidak!.


"Iya, nanti kita cari ibu sama- sama. Ibumu sangat cantik sepertimu," ucap Patrio tiba-tiba. Aisyah menarik tubuhnya, tak percaya jika ayahnya akan berucap seperti itu.


"Sedikit," jawab Patrio.


"Aish ganti baju dulu ya, Yah. Kita cari ibu sekarang," ajak Aisyah.


"Menikahlah dulu, setelah itu kita cari ibumu sama-sama!" pinta Patrio. Pria ini sungguh berjiwa besar.


"Tapi, Yah!"


"Apa kamu mencintainya?" tanya Patrio. Aisyah diam, gadis ini terlihat enggan menjawab.


"Masalah ini bukan salah dia, putriku. Dia tak tahu apa-apa. Jangan menghukumnya," ucap Patrio dewasa. Aisyah menatap tak percaya pada ayahnya. Kenapa ayah malah aneh? Dia yang tersakiti, kenapa dia terlihat santai? batin Aisyah.


"Jangan pernah tunjukan dendam pada siapapun! jika kamu ingin bahagia," ucap Patrio lagi. Patrio berharap Aisyah tak menutup telinganya soal maaf.


"Iklaskan yang telah terjadi putriku. Jika ini yang Tuhan inginkan, maka terimalah. Semuanya akan baik-baik saja. Sudah jangan buang waktu lagi. Bersiaplah, mosok calon manten nangis (masak calon pengantin nangis) ," ucap Patrio. Aisyah menghapus air matanya pelan. Dia melirik Deren yang sedari tadi diam. Apa yang dipikiran pria tampan ini, hanya dia lah yang tahu.

__ADS_1


"Mbak tukang make up, sini!" panggil Patrio pada Arti.


"Saya, Om!" jawab Arti mendekat. Sebenarnya Arti ingin tertawa dengan sebutan itu. Tapi sudahlah!!


"Bikin putriku cantik, nanti kukasih kau hadiah terbaik. Udah punya suami belum?" pinta Patrio sambil bercanda.


"Sampun, Om. Lah itu suami saya!" jawab Arti sambil menunjuk pada Deka. Deka hanya tersenyum.


"Ooo, Istrimu to ini tadi. Jos wis, apik!" ucap Patrio sambil memberikan dua jempol pada Deka. Deka hanya tersenyum malu. Sesuai permintaan, Arti pun membawa Aisyah masuk ke dalam kamar dan memperbaiki riasannya.


"Deren, mrene (sini)!" pinta Patrio.


Deren pun mendekat, tak di pungkiri saat ini ketakutan Deren memuncak. Rasanya begitu menakutkan. Melebihi rasa takutnya saat disidang waktu dia melarikan diri dari kesatuannya dulu.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Patrio.


"Saya merasa tak pantas memiliki Asiyah, Om," jawab Deren.


"Kenapa?"


"Karena pada kenyataanya ada darah pria jahanam yang mengalir dalam tubuh saya, Om!" jawab Deren tegas.


"Itu bukan jawaban yang Om mau."


Sejenak, suasana menjadi hening.


"Om ingin, kita bicara sebagai pria dewasa. Terlepas dari masalah yang membelit kita. Om memaafkan ayahmu. Sungguh Om telah memaafkannya. Tapi....!" ucap Patrio. Deren menggangkat wajahnya.


"Tapi apa, Om?" tanya Deren.


"Om tidak akan memaafkanmu kalau kamu menyakiti putri, Om. Membuatnya menangis dan kecewa. Dengan tangan ini (Patrio membuka kedua tangannya dan memunjukkanya pada Deren) Om sendiri yang akan meledakkan kepalamu. Kamu paham, anak muda ?!" ucap Patrio tegas. Taknada candaan sama sekali di sana. Patrio serius dengan ucapannya.


"Demi Tuhan saya mencintainya Om, saya berjanji akan menjaganya semampu saya," jawan Deren tak kalah serius.


"Om merestui kalian. Tapi ingat janjimu, pria sejati tak akan pernah lupa kata-katanya!" ucap Patrio mewanti-wanti.


"Insya Allah, Om!" jawab Deren yakin.

__ADS_1


Restu telah Deren kantongi. Meskipun dia harus menghadapi drama dikemudian hari. Perasaan Deren masih ketar-ketir tak menentu. Dia belum mendenngar keputusan yang akan Aisyab berrikan untuknya. Deren takut Aisyah tak akan memaafkannnya. Meskipun dia tak menentang pernikahan ini.


Bersambung....


__ADS_2