Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Tak Sengaja


__ADS_3

"Kasihan mereka ya, Ak," ucap Aisyah memelas. Air mata meluncur begitu saja dari pelupuk mata cantiknya. Deren paham bagiamana perasaan istrinya saat ini.


"Semoga mereka bisa melewati badai ini sekali laginya, Dek. Kita doakan yang terbaik untuk mereka," balas Deren. Pria tampan ini pun memberikan dadanya untuk istrinya bersandar.


Memeluk erat belahan jiwanya yang kini sedang merasakan kegalauan yang teramat sangat. Mungkin juga rasa takut kehilangan juga. Dan Deren mengerti itu.


"Aish takut, Ak. Aish takut ayah pergi sebelum ibu memaafkannya. Ayah terlalu kejam pada ibu, Ak," ucap Aisyah dalam tangisnya. Jujur wanita cantik ini sangat menyesal dengan perbuatan ayahnya pada sang ibu tercinta.


"Iya, Aak paham. Percayalah semua akan baik-baik saja," balas Deren mencoba membuat tenang istrinya. Sesekali pria tampan ini juga mencium kening sang istri.


"Aak jangan galak sama Aish ya, Ak," pinta Aisyah tiba-tiba. Jemari cantiknya memainkan kancing baju pria yang mendekapnya. Deren tersenyum.


"Kok mintanya gitu?" pancing Deren.


"Pokoknya Aak harus jagain Aish terus. Nggak boleh judes, nggak boleh galak," tambah Aisyah.


Pria tampan ini kembali tersenyum dan pengeratkan pelukannya. Menurut Deren istrinya ini memang lugu dan teramat manja tapi dia menyukainya. Entahlah! Deren bahagia memiliki Aisyah sebagai tulang rusuknya.


Lagian kapan dia judes sama istrinya. Yang ada Aisyah yang hobi ngomel padanya. Aneh bukan?

__ADS_1


"Enggak, Sayang. Aak bakalan jagain kamu. Yang penting kamu juga bisa ngertiin, Aak. Aak nggak mau juga kalau kamu cuekin Aak," ucap Deren ikutan manja. Kini Aisyah yang tersenyum. Dia merasa kemarin tanpa sengaja ia telah melukai suaminya.


"Maafin Aish ya, Ak. Kemarin Aish cuekin, Aak."


"Nggak apa-apa tapi jujur Aak agak sedih sih." Aisyah menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Ia tersenyum gemas.


Sekali lagi pikiran Aisyah melayang. Wanita cantik ini makin memeluk erat sang suami tercinta. Menumpahkan segala sesak di dadanya.


Wanita ini merasa bahwa batinnya berperang. Antara harus kuat atau menyerah, menikmati nasib buruk yang mungkin akan menimpanya di depan jalan yang akan ia lewati nanti.


Dua jam sudah mereka menunggu tapi tak ada sedikitpun tanda-tanda Om Patrio akan bangun dari tidurnya. Terlihat di sana Ibu Fatimah juga beberapa kali menangis. Mungkin dia menyesal karena pernah menolak menemani Om Patrio dikala masih sadar.


Di sisi lain...


Robet tak sengaja meninggalkan ponselnya di rumah. Yunita yang tengah sibuk dengan baby Anaya dari pagi juga tak memperhatikan barang-barang suaminya. Alhasil pria ceroboh itu meninggalkan barang penting itu.


Anaya sungguh manis hari ini, tak rewel sekali pun. Setelah menikmati ASInya baby lucu itu tidur pulas di pangkuan maminya.


Yunita mendenger ponsel berdering. Ia pun membaringkan babynya di boks bayi milik Anaya. Dan mencari ponsel yang tadi berdering.

__ADS_1


"Papimu ceroboh sekali, Dek. Lihat ponselnya ketinggalan," ucap Yunita pada putrinya. Sayangnya ponsel itu sudah tak berdering lagi.


Yunita penasaran, siapa yang menghubungi suaminya. Ia pun membuka aplikasi di ponsel itu untuk meredakan rasa penasarannya. Ternyata yang menghubungi suaminya adalah Deren. Mantan pimpinannya atau lebih tepatnya adalah mantan bosnya.


"Oh, big bos yang nyariin,"gumam Yunita. Tak sengaja Yunita juga menemukan satu chat suaminya dengan Deren yang belum terbaca. Kembali rasa penasaraaanya meninggi. Yunita berfikir membaca percakapan suaminya tak masalah. Toh jika lagi bareng Robet juga sering mengotak atik ponselnya. Iya kan?


Betapa terkejutnya Yunita, mana kala menemukan tulisan Deren yang menanyakan keadaan dirinya. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Yunita kembali tersentak kala di sana juga tertulis Robet meminta Deren untuk jujur bahwa Yunita adalah adek kandungnya.


Yunita menutup mulutnya dengan satu telapak tanganya. Ia tak menyangka, jika Deren adalah saudara kandungnya. Rahasia ini sungguh membuatnya shock.


Wanita cantik ini tak habis pikir. Pantas saja Deren begitu perduli padanya, dibandingkan dengan para anggota yang lain. Dalam diam Deren selalu mengawalnya. Melindunginya, bahkan selalu membantu setiap kesulitannya. Dan, Yunita selalu memperhatikan itu.


"Inikah alasan kenapa dia melakukan itu?" gumam Yunita, mulai berusaha menerjemahkan apa yang ia pikirkan selama ini.


"Lalu, kapan abang tahu bahwa kami bersaudara?" gumam Yunita lagi. Rasa penasarannya kembali menuntunnya untuk membuka baris demi baris coretan Deren dan Robet yang ada di ponsel itu. Kecurigaannya terjawab sudah.


Sekarang, yang harus Yunita lakukan adalah meminta penjelasan dari Robet, kenapa suami yang dipercayainya itu malah membohonginya?


Yunita menangis, mendegarkan salah satu vioce chat Deren yang dikirim pada suaminya. Di sana Deren terdengar marah besar mana kala tahu bahwa pria yang ia percaya bisa melindunginya malah menyia-yiakannya dulu (dibahas di Hati Suamiku Bukan Milikku). Dalam tangisnya itu Yunita juga tersenyum bahagia, ternyata dia punya pelindung, tanpa ia ketahui.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2