Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Butuh Penjelasan


__ADS_3

Patrio sudah bisa menguasai emosinya dengan sangat baik. Dia tak ingin tertipu lagi, tanpa sepengetahuan Ayu dan Lucas. Patrio meminta orang kepercayaannya untuk memasang CCTV di kamar di mana biasanya Ayu menghabiskan hari harinya.


Patrio mulai memberanikan diri membuka tas pink milik Aisyah yang berisi surat yang ditulis oleh istri pertamanya. Istri sebelum dia dijadikan moster oleh ayah sang Ratu di istana ini.


Patrio membuka buku kecil itu, sedikit lengket. Mungkin karena sudah terlalu lama buku itu tak dibuka. Di lembar pertama ada sebuah foto yang sudah terlihat sangat tua, sepertinya itu adalah foto pernikahan mereka. Foto hitam putih itu menunjukan senyum yang mengembang antara dia dan seorang wanita yang mungkin dia cintai saat itu. Di dalam foto itu terlihat wanita cantik yang mirip sekali dengan Aisyah. Hanya saja tidak memakai hijab.


"Inikah yang namanya Fatimah. Dia cantik sekali, mirip seperti Aisyah," gumam Patrio. Dielusnya foto itu sambil Patrio berusaha mengingat kembali masa lalunya.


Dibelakang foto itu tertulis tanggal bulan dan tahun. Mungkin itu adalah tanggal dimana peristiwa itu terjadi.


"Ya Tuhan, kenapa aku tak bisa mengingat apapun!" ucap Patrio pada dirinya sendiri. Dibukanya lagi lembar pertama buku itu. Fatimah hanya menulis "Andai kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu," Patrio mengerutkan keningnya, masih tak paham dengan maksud tulisan itu.


Di lembar kedua tertulis kata yang sama, bahkan tulisan itu hampir memenuhi isi buku itu. Dengan sabar Patrio membuka lembar demi lembar buku itu hingga menemukan tulisan yang sedikit panjang.


*Kamu priaku, kamu milikku....


Aku tidak perduli dengan penghianatan yang mereka ceritakan. Aku mencintaimu dan percaya padamu suamiku. Perjuangan kita akan cinta yang kita bina adalah bukti nyata bahwa hatimu milikku.


Aku tahu dirimu saat ini berada dalam penjara mereka. Konspirasi yang dilakukan oleh orang tuaku dan ketua gangster biadap itu telah merusak hubungan antara mereka. Dan mereka berhasil, buktinya saat ini kamu dalam genggaman mereka. Entah kapan kamu akan menyadari ini dan kembali menatap akan cinta yang ada diantara kita.


Didalam rahimku kini ada benih cinta kita, kamu belum tahu bukan. Dia membutuhkanmu, aku butuh kamu. Kami membutuhkanmu*...


Dalam coretan yang sedikit panjang itu makin membuat Patrio bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa dia meninggalkan Fatimah bahkan saat Fatimah hamil pun dia tak tahu.


"Haruskan aku bertanya pada Hasan," gumam Patrio.


"Ya hanya dia yang bisa menjelaskan ini padaku," tambahnya.


Patrio pun membuka lagi halaman berikutnya, semua kosong, kosong, kosong dan kosong.

__ADS_1


Dilembar berikutnya tertulis "Penantian yang sia sia."


"Ya Tuhan, apakah aku tak pernah datang padanya lagi. Sampai dia benar benar melahirkan putri kami," batin Patrio.


Patrio melihat tanggal dimana tulisan itu pertama kali dibuat. Dia mencocokkan dengan tanggal dia kecelakaan.


"Satu, dua, tiga ... sembilan bulan, Ya Tuhan. Berarti benar, aku tak kembali padanya karena kecelakaan itu, koma dan sekarang aku masih tak mengingatnya," ucap Patrio, sambil terus mencoba mengingat kembali apa yang telah dia lupakan.


"Maafkan aku Fatim," gumam Patrio sambil menatap foto hitam putih itu. Pencarian Patrio hentikan karena Ayu masuk ke dalam ruangannya. Dengan cepat Patrio pun menyembunyikan semua barang barang itu. Agar Ayu tak curiga padanya.


"Bapak nggak makan?" tanya Ayu sambil bergelut manja dan mencium pipi Partio.


"Bapak nggak lapar Bu, Ibu udah makan?" tanya Patrio pura-pura seolah tak terjadi apa-apa.


"Ibu juga belum lapar Pak, Ibu boleh nggak nanya sesuatu sama Bapak?" ucap Ayu manja.


"Kok Bapak lepasin semua sih wanita wanita itu, lalu siapa sekarang yang mau bersihin rumah kita Pak?" tanya Ayu, Patrio pun tersenyum dan menilai Ayu masih belum mencurigainya.


"Bapak nggak mau berbagi lagi Bu, satu istri aja udah cukup," jawab Patrio memberi alasan. Logis juga sih batin Ayu.


"Tapi Ibu belum bisa kasih Bapak anak," ucap Ayu. Patrio tahu itu, itulah sebabnya Ayu membiarkannya memiliki banyak wanita. Atau Ayu punya alasan yang lain, Patrio tak tahu.


"Nggak pa pa Bu, toh kita udah tua ini. Kalau kita nggak ada anak berarti memang bukan rejeki kita," jawab Partrio. Padahal kenyataanya Patrio memang tak mau memiliki anak dari wanita wanita yang tak dia kehendaki.


"Boleh Bapak tanya sesuatu juga Bu?" tanya Patrio.


"Tentu Pak, Bapak mau tanya apa?"


"Waktu Bapak kecelakaan kita udah nikah belum ya?" tanya Patrio tiba tiba. Ayu diam, dia merasa ini aneh. Selama ini Patrio sama sekali tak pernah menyinggung pasal kecelakaannya.

__ADS_1


"Tumben Bapak nanya itu," balas Ayu.


"Enggak Bu, kok sekarang Bapak sering pusing. Takutnya itu efek hilanngya ingatan Bapak," ucap Patrio bohong.


"Oh, apakah sekarang masih sakit Pak. Apa mau Ibu pijat!" jawab Ayu khawatir.


"Enggak Bu, kalau sekarang sih nggak sakit. Cuma kadang-kadang aja pusingnya. Ibu mau kan cerita tentang awal pertemuan kita dan bagaimana akhirnya kita menikah," pinta Patrio. Siapa tahu info dari Ayu dan Hasan bisa sedikit memberinya pencerahan.


"Baiklah (Ayu tersenyum malu, dia belum menyadari bahwa sebenarnya ini hanyalah pancingan agar dia jujur). Bapak dulu adalah salah satu anak buah salah satu gangster dari Palembang. Kita bertemu saat Bapak mengawal pria itu kerumah. Kita saling jatuh cinta dan Ibu bilang pada ayah kalau Ibu jatuh cinta pada serang pengawal yang sangat tampan. Ayah pun mau mendengarkan isi hati putrinya ini, entah bagaimana caranya akhirnya ayah bisa membujuk pimpinan Bapak untuk memberikan Bapak pada kami. Dan dengan restu mereka akhirnya kita menikah," jawab Ayu. Patrio masih setia mendengar dan mencerna setiap kata yang diucapakan Ayu.


"Terus Bapak kecelakaannya setelah kita ketemu atau sebelum?" pancing Patrio lagi.


"Setelah Pak, sebulan setelah kita ketemu kalau nggak salah." jawab Ayu. Oke berarti benar apa yang dikatakan Hasan, bahwa hilangnya ingatannya dimanfaatkan oleh mertua dan juga ayah Ayu.


"Eemmm, berapa lama Bapak nggak sadar ya Bu?" tanya Patrio lagi.


"Lama Pak, bisa empat atau lima bulan. Ibu lupa?" jawab Ayu.


"Apakah selama itu Ibu yang merawat Bapak?" tanya Patrio lagi.


"Ya iya lah sayangku. Emang Bapak pikir siapa lagi heemmm," ucap Ayu gemas. Dia pun kembali memeluk Patrio dan mencium pipi suaminya.


"Makasih ya Bu, kamu selalu menemaniku!" ucap Patrio.


"Selalu Pak, Ibu sayang sama Bapak," jawab Ayu. Patrio hanya tersenyum mendengar ungkaoan cinta dari Ayu. Entah mengapa sampai saat ini Patrio belum bisa merasakan cinta pada Ayu. Meskipun jika dilihat wanita ini banyak berkorban untuknya.


Patrio masih mengunpulkan banyak bukti tentang orang orang yang berani memanipulasi kehidupannya. Patrio berjanji akan membalas perbuatan mereka jika bukti yang dia miliki benar benar nyata.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2