
"Aak mau ngapain?" tanya Aisyah saat menangkap gelagat lain sang suami. Tatapan mata itu seolah memberi isyarat padanya bahwa suaminya menginginkannya malam ini.
Deren tak menjawab pertanyaan itu dengan jawaban dari mulutnya. Ia lebih memilih mencium mesra sang istri. Mengecup lembut kening wanita yang sangat dicintainya. Tak lupa, pria tampan ini juga memberikan pelukan hangat untuk sang ratu hatinya.
Agaknya jawaban itu sudah cukup membuat Aisyah paham. Bahwa suaminya menginginkan sesuatu seperti malam itu pada dirinya.
"Ak."
"Heeemm," jawab Deren singkat, seperti biasa.
"Aish, rindu Aak," bisik wanita cantik ini.
"Aak juga sayang, Aak mencintaimu Aisyahku," balas Deren suaranya serak kala itu. Sepertibsedang menahan sesuatu. Ya, Deren memang sedang menahan sesuatu. Lebih tepatnya menahan hasrat.
Deren memulai aksinya dengan sangat lembut, pelan dan penuh perasaan. Rasanya indah sekali bisa merasakan lagi memadu kasih dengan seseorang yang sangat ia sayangi.
Beberapa hati tak bertemu memang sangat menyiksa batinnya. Dan malam ini, Deren tak mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini, baginya. Pria gagah ini pun segera memberi nafkah batin pada sang istri atau lebih tepatnya mencari obat untuk dahaganya.
Aisyah adalah istri yang baik. Dia pun tak menolak dengan apa yang suaminya mau. Malam ini dia pun kembali melaksanakan kewajibannya sebagai istri. Dengan penuh perasaan Aisyah pun malayani keinginan hati suaminya. Memadu kasih dengan penuh cinta.
Malam syahdu tempo hari terulang kembali. Kebahagiaan karena telah berhasil saling memiliki adalah hal paling indah dalam hidup mereka. Dan mereka menyukainya.
__ADS_1
***
Tak terasa usia kandungan Yunita sudah memasuki bulan ke sembilan. Malam ini wanita ini begitu gelisah, merasakan tak nyaman pada kandungannya.
Ia pun segera menghubungi suaminya dan meminta ayah dari bayinya itu untuk segera pulang. Sayangnya, Robet tak kunjung membalas pesannya. Yunita putus asa. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sendiri.
Yunita tak mampu lagi merasakan sakit diperutnya. Dia pun nekat. Dengan tekat yang kuat ia pun memanggil taksi untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Tak lupa ia pun mengirim pesan pada suami bahwa ia sudah berada dalam perjalanan ke rumah sakit untuk melahirkan buah hati mereka.
Benar saja, belum sampai setengah jam Yunita sampai di rumah sakit. Seorang bayi perempuan telah lahir keduanya. Yunita berjuang sendiri karena Robet tak kunjung datang. Entah pergi kemana dia? pamitnya sih ada meeting, tapi entahlah.
Yunita tersenyum bahagia mana kala mendengar tangisan putri kecilnya untuk pertama kali. Wanita cantik ini begitu berani menahan rasa sakitdan berangkat sendiri ke kerumah sakit untuk melahirkam putri kecilnya. Sendirian, tanpa ada pihak keluarga yang menamaninya.
Sang dokter yang membantunya, sangat kagum dengan keberanian dan ketabahan Yunita. Wanita memang sungguh mengagumkan.
Apesnya lagi, kedua asisten rumah tangga mereka minta izin pulang kampung. Ah, Robet sungguh merasa gagal. Tak menunggu waktu lagi pria yang kini menjadi ayah ini langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di mana sekarang istrinya berada.
Jantung Robet berdetak sangat kencang. Memarkirkan mobilnya dengan tergesa-gesa. Bahkan, ia pun segera berlari mencari kamar bersalin di mana istrinya berada.
Saat ini, detik ini andai siapapun memakinya dia siap. Robet pasrah andai nanti Yunita, Oma Rose atau pun Deren menghajar dirinya akan kelalaianya.
Robet mengatur napasnya saat sampai di depan pintu rawat sang istri. Membuka pelan pintu itu. Ketika masuk ke dalam ruangan itu, Yunita malah tersenyum manis padanya.
__ADS_1
"Mas," panggil Yunita lemah.
"Sayang," balas Robet. Pria yang kini telah menjadi ayah ini pun langsung berlari menghampiri sang istri. Tampa izin dia langsung mencium kening wanita yang telah berjuang sendiri melahirkan buah cinta mereka.
"Maafkan Mas sayang yang gagal jadi suami siaga," ucap Robet sambil menciumi wajah cantik pemilik hatinya. Yunita malah tersenyum melihat suaminya begitu menyesalnya. Menangis sambil memeluknya.
"Nita nggak apa-apa, Mas. Semua baik-baik saja. Udah jangan nangis. Nanti putri kita ketawain Mas loh," ucap Yunita mencoba menenangkan suaminya dengan candaannya.
"Tapi sayang, Mas sungguh menyesal. Andai Mas tahu kalau kamu melahirkan hari ini. Mas tak mungkin meninggalkanmu," balas Robet masih dengan rasa sesalnya.
"Iya, Nita ngerti. Mas kerja kan juga buat Nita sama Adik. Kami baik-baik saja Mas."
"Di mana putri kita sayang?" tanya Robet.
"Ada, bentar lagi pasti datang. Makanya Papi jangan nangis lagi. Nanti Anaya ketawain Papi yang cengeng ini loh," goda Yunita lagi. Robet tersenyum dan Yunita membantunya menghapus air mata nakal itu.
Robet kembali mencium penuh kasih sayang istri cantiknya. Membawa sang wanita ke dalam pelukannya. Jika tadi terjadi sesuatu pada istri dan anaknya, Yakin ... Robet tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Robet masih belum bisa menghentikan tangisan keduanya ini. Yunita membiarkab suaminya bermain dalam pikirannya sendiri. Menumpahkan segala sesak yang tercipta oleh rasa penyesalan itu. Biarlah, biarkan dia menumpahkan rasa itu. Agar lebih tenang.
Tak henti-hentinya Robet meminta maaf pada Yunita. Agar memaafkan kelalaiannya. "Udah, Mas. Nita udah maafin Mas kan," ucap Yunita.
__ADS_1
Mendengar istrinya berbicara, malah membuat Robet semakin mempererat pelukannya. Menciumi wajah istrinya, entahlah kali ini pria tampan ini terlihat sangat emosional. Menyesal dan takut itulah yang ia rasakan saat ini. Dan Yunita paham.
Bersambung....