Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Basa Basi Bikin Ngerti


__ADS_3

Aisyah masih diam dan menunggu perintah dari Patrio untuk mengambil surat yang dibawanya kemanapun dia pergi.


"Sebelum ini kau kerja?" tanya Patrio.


"Kerja Om, Aisyah kerja jadi perawat di Samarinda. Sekarang kerja di Pom bensin deket rumah," jawab Aisyah jujur.


"Kok aneh gitu?" tanya Patrio basa basi.


"Pas abah sakit, istri pertama abah bawa Aish sama abah pulang ke sini Om. Kan Aish nggak ada kerja jadi ya kerja seadanya aja. Buat beli obat abah juga kan," jawab Aisyah, anak ini begitu lugu dan apa adanya batin Patrio.


"Kau punya pacar?" Patrio semakin penasaran dengan kehidupan pribadi putrinya.


"Pacar Om, enggak kalau pacar. Kalau temen deket ada," jawab Aisyah jujur.


"Siapa dia, apakah dia pria baik baik?" entah kenapa pertanyaan Patrio berasa pertanyaan seorang bapak pada anak gadisnya. Membuat Aisyah curiga.


"Om ini nanyanya kok kayak abah ya. Aneh ni Om," celetuk Aisyah.


"Ck ... ditanya tinggal jawab aja crewet. Mau Om masukin kandang macan beneran!" kembali Patrio melepaskan kekesalannya.


"Maaf Om, gitu aja marah. Iya iya Om tanya aja, Aish akan jawab dengan baik," jawab Aisyah.


"Gitu dong, jangan bikin Om kesal," balas Patrio.


Mereka diam sesaat mana kala ponsel Patrio berdering. Aisyah menunggu dengan sabar saat Patrio dengan asik bercengkrama dengan sahabatnya di telpon.

__ADS_1


Setelah panggilan telpon itu berahir, Patrio pun kembali bergabung dengan Aisyah.


"Kau belum cerita detail pada Om, bagaimana bisa kau sampai di sini?" tanya Patrio lagi.


"Kan Aish udah bilang, kalau Aish ni dijadiin alat bayar utang emak tiri Aish kan," jawab Aisyah jujur.


"Apakah ibu tirimu jahat padamu?"


"Bukan lagi Om, Aish dikurung, diikat, mulut Aish ditutup pakek lakban. Ditendang ditampar, belum lagi abang Aish suka pukul pakek ikat pinggang. Pokoknya serem deh Om, dia jahat baget ama Aish. Padahal Aish udah bilang, iya iya Aish mau kawin ama pria tua itu, tetep aja emak Aish pukul," jawab Aisyah lugu. Ya Tuhan semiris itukah hidupmu Nak, batin Patrio.


Jangan ditanya apa yang ada dipikiran Patrio saat ini. Jika wanita ular itu ada dihadapannya sekarang, mungkin dia tak akan segan melempar wanita itu ke kandang macan yang ada di belakang rumahnya.


"Kenapa kau bodoh, kenapa tak melawan. Apa kau selemah itu!" ucap Patrio geram


"Kalau Aish melawan bagaimana dengan abah Om, mereka mengancam akan membunuh abah Om. Aish takut, Aish nggak berani ambil resiko. Umi udah pergi ninggalin Aish, kalau abah pergi juga bagaimana dengan Aish Om, Aish takut sendirian hiks ...," jawab Aisyah, tangisnya tak bisa dia tahan lagi. Aisyah tak perduli walau nantinya Patrio akan membentaknya.


"Bener Om, serius. Abah udah Om kelurin dari rumah neraka itu?" tanya Aisyah girang. Patrio melirik lucu putrinya. Aisyah tetap mampu merebut hatinya mau bagaimanapun situasinya. Patrio merasa lucu saja, diusianya sekarang dia benan udah punya anak. Padahal dia selalu menolak, dia merasa belum ada yang pas dan cocok baginya untuk memilih wanita yang berhak mengandung buah hatinya. Pria aneh, rahim aja milih.


"Heemm, kau tenang saja!" balas Patrio lagi. Aisyah kembali tersenyum sambil memutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia beneran terlihat senang.


"Wah, terima kasih banyak Om. Besok saya akan masak yang sedap buat Om. Aish janji," ucap Aisyah berjanji, seolah mendapat hadiah istimewa Patrio pun ikutan tersenyum.


"Kau yakin bisa masak?" tanya Patrio.


"Ck, kecil Om. Om dijamin suka masakan Aish, percayalah," jawab Aisyah penuh percaya diri.

__ADS_1


"Oke, besok kau boleh masak untukku," balas Patrio. Aisyah pun terus tersenyum, setidaknya saat ini dia merasa aman dan bisa menguasai keadaan walau pun apapun bisa terjadi.


"Kau bilang punya teman dekat preman, apakah dia tak membantumu?" tanya Patrio makin penasaran dengan liku kehidupan putrinya.


"Dia mau bantu Om, bahkan dia pernah mau bawa Aish pergi. Tapi Aish nggak mau. Aish bilang Aish nggak bisa ninggalin abah," jawab Aisyah jujur.


"Eemmm, sekarang kau tak usah takut. Kau dan abahmu aman. Nanti kalau dia udah sembuh akan kubawa dia ke sini biar kalian bisa bareng," ucap Patrio serius.


"Serius Om, abah boleh kesini ketemu Aish. Ya Allah mimpi apa Aish. Aish pikir setelah Aish sampai sini Aish akan ketemu monster jahat. Ternyata Aish salah, Aish ketemu Om yang sangat baik. Umi nggak salah cerita berarti, Om memang baik, sungguh!" ucap Aisyah gembira, senyum mengembang di wajah ayu Aisyah membuat Patrio kembali mengingat sinar mata yang tak asing baginya.


"Benarkah Umi mu bilang begitu?" tanya Patrio lagi.


"He em, Aish serius. Demi Tuhan Aish tak bohong." jawab Aisyah penuh semangat.


"Apakah Umi mu pernah cerita sesuatu selain ini?" Patrio masih sangat penasaran tentang apapun yang Aisyah kuasai tentangnya.


"Tidak Om, hanya itu!" jawab Aisyah. Patrio menatap percaya, Dia pun merasa cukup sampai di sini dulu sesuatu yang hendak dia korek dari Aisyah. Toh nyatanya Aisyah juga dinilainya tak tahu apapun.


"Kau boleh pergi ambil surat itu, dan jika kau ditanya sama Ibu Ratu bilang saja Tuan Bos suruh saya bersih bersih ruangannya. Mengerti!" ucap Patrio memperingatkan.


Aisyah tak mau banyak bertanya, dia pun langsung menjawab, "Mengerti Om," jawabnya. Dia pun beranjak pergi meninggalkan ruangan Patrio dan kembali ke kamarnya untuk mengambil surat yang Patrio mau.


***


Deren kembali kesal mana kala keberangkatannya ke tempat Obor Merah ditunda. Penundaan ini sungguh diluar kuasanya. Deren masih harus berusaha sabar. Sampai batas waktu yang tak di tentukan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2