Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Siapa Kamu


__ADS_3

Helikopter yang membawa Aisyah pun turun dengan selamat di atap Vila yang menurut Aisyah sangat sangat super mewah ini.


Aisyah di sambut bak Ratu Kerajaan di kediaman ketua gangster tersohor di negri ini. Perasaan Aisyah ketar ketir takut. Bayangan akan penyiksaan yang akan dia alami di sini sudah nampak di depan mata. Seorang asisten di sana bahkan mempersilakan dirinya dengan sangat sopan.


Aisyah masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah bangunan super mewah berada di tengah hutan belantara ini. *Oh My Go*d, this is amazing. Dari atas terlihat beberapa rumah rumah kecil berjejer rapi di sekitar Vila, mungkin itu rumah atau kamar para pekerja di sini pikir Aisyah.


Aisyah semakin gemetar mana kala asisten itu membawanya masuk ke dalam liftm Yang artinya neraka untuknya semakin dekat.


"Ya Tuhan, tolong lindungi diriku," batin Aisyah. Aisyah berusaha tenang. Impiannya adalah bertahan dan tetap menjaga kesuciannya demi kekasih hatinya. Yaitu Aak preman yang sangat dia cintai.


Asisten sang Big Bos Itu telah membawanya ke sebuah ruang tamu yang menurutnya indah bak surga. "Ya Tuhan, tempat ini indah sekali. Inikah yang dinamakan surga tapi neraka," guman Aisyah.


"Silakan duduk Nona!" ucap pria bersenjata itu. Aisyah melirik sekilas pria itu tapi dia tetap menurutinya.


Sang pria menyeramkan itu pun berdiri menjauh darinya. Di sini sangat sepi, hanya beberapa kali saja dia mendengar suara seperti burung berkicau. Sayangnya suara burung itu malah membuat Aisyah semakin takut. Takut tidak bisa mendengar lagi suara burung, setelah si pria jahanam yang telah merenggut kebebasannya ini akan menikahinya.


Lama Aisyah menunggu, hampir dua atau tiga jam Aisyah tak tahu. Sebenarnya apa yang di kerjakan pria itu. Bahkan untuk menemui tawanannya saja membutuhkan waktu hampir tiga jam, batin Aisyah.


Aisyah masih terus menunggu dan terus menunggu. Dia pun tak berani bertanya pada pria yang sedari tadi menjaganya. Bagaimana bisa berani mrlihat senjata laras panjang di tangannya saja sudah membuat Aisyah begidik ngeri.


Seketika Aisyah ingat foto yang pernah dia lihat di kediaman Deren. Senjata itu persis yang pernah dia lihat di foto itu. Ah ... tidak, tidak. Senjata Aak premanku lebih keren. Dia terlihat lebih ganteng dan gagah dibanding pria yang ada dibelakangnya. Kembali Aisyah bermain liar dengan pikirannya. Tanpa Aisyah sadari, si Aak preman telah mampu mengalihkan perhatiaannya. Bahkan dalam situasi seperti ini Aisyah masih sempat membandingkan ketampanan pria yang dicintainya dengan pria lain. Astaga Aisyah, Aisyah.


Aisyah melihat jam di pergelangan tangannya. Jam itu menunjukkan pukul 13.20 meni. Yang artinya waktu sholat dhuhur telah tiba.


"Maaf Pak penjaga, boleh kah saya numpang sholat?" tanya Aisyah pada penjaga itu.


"Tentu saja Nona, mari saya antar ke mushola," jawab pria itu.


"Hah, mushola. Di mari ada mushola juga," gumam Aisyah.


Aisyah pun mengikuti langkah pria bersenjata itu. Kembali mata Aisyah di buat kagum oleh desain interior disetiap suduh rumah ini. Seberapa kaya pria jahanam itu batin Aisyah lagi.


Langkah kaki Aisyah terhenti mana kala melihat mushola yang di maksud oleh sang penjaga itu. Itu beneran tempat ibadah umat muslim sepertinya. Bahkan jika dibandingkan dengan mushola mushola di kampung-kampung atau mushola yang penah dia lihat, mushola inilah juaranya. Indah, berkuba emas bahkan sangat bersih. Disana ada air semacam pancuran untuk mengambil air wudhu, mungkin air itu ltu langsung datang dati sumbernya. Sangat bening dan jernih.


"Apakah pemilik rumah ini juga sholat?" batin Aisyah, bertanya dan terus bertanya pada dirinya sendiri. Ataukah in hanya ??? ah tidak, tidak. Untuk apa aku memikirkan pria jahanam itu. Fokus Asiyah fokus, fokus agar tak membuat siapapun yang menyandramu marah dan menyakitimu. Batin Aisyah lagi.

__ADS_1


Aisyaj melaksanakan ibadahnya dengan sangat khusuk. Bersimpuh di hadapan sang kholiq adalah hal terbaik baginya. Selama beberapa hari dia disekap oleh ibu tirinya, Aisyah sama sekali tak pernah melaksanakan ibadah wajibnya. Jangankan ibadah wajib, untuk membuah hajadnya saja Aisyah harus menunggu Titin ingat padanya.


Aisyah mengadu dan terus mengadu akan nasibnya pada pemilik hidupnya. Aisyah memohon dan meminta jalan terbaik untuknya. Bahkan tak lupa Aisyah menutarakan pada sang kholiq akan kesuciannya. Dia ingin mempertahankan itu hanya untuk pria yang di cintainya.


Penjaga itu sangat sabar rupanya, dia tetap diam ditempatnya. Tanpa protes atau pun menyuruhnya terburu-buru, sungguh aneh bukan. Dia ini sandra atau apa, bingung juga mikirnya.


***


Disatu sisi Ketua gangster Obor Merah bukan sengaja tak menemui Aisyah. Dia memang sedang menghimpun kekuatan untuk melawan serangan yang mungkin saja terjadi.


Patrio tak mau jika istana yang dia bangun bak surga ini menjadi pertumpahan darah orang-orang yang bodoh menurutnya.


"Jangan pernah biarkan mereka menjamah tempat ini!" perintah Patrio pada pimpinan pasukannya.


"Baik Pak!" jawabnya tegas.


"Di mana calon bidadariku surgaku?" tanya dia lagi.


"Mushola Pak," jawabnya.


"Apakah dia masih kecil (umurnya maksud si big bos)?" tanya Patrio.


"Saya rasa tidak Pak, hanya saja tubuhnya yang kecil!" jawabnya lagi.


"Hemmm, suruh dia menungguku di ruangan yang sudah kalian persiapkan. Aku mau melihatnya?" perintah Patrio.


"Siap Pak!" jawab pria itu, kemudian dia pun undur diri.


***


Di ruang tamu Aisyah masih setia menunggu mautnya. Meskipun berkali-kali dia mencoba menenangkan diri, tetap saja Aisyah gelisah.


Aisyah mendengar suara langkah kaki, dia pun memejamkan matanya. Pikiran takutnya mulai datang. Inikah malaikat maut itu Tuhan? Batin Aisyah mulai ketakutan.


Aisyah salah, yang datang bukanlah orang yang dia pikirkan. Melaikan pria penjaga juga seperti pria yang mengawalnya sedari tadi. Pria itu hanya menghampiri kawannya dan hanya berbisik padanya. Entah apa yang mereka bicarakan, mungkinkah mereka telah merencanakan untuk mengeksekusiku atau apalah, aku tak tahu. Aisyah hanya melirik sekilas kala pria itu memberinya intruksi untuk mengikuti langkahnya.

__ADS_1


Aisyah di ajak kesebuah rumah rumah kecil berjejer rapi di sana.


"Oooh, bukankan ini rumah yang aku lihat dari atas tadi. Tidak kecil sih, mereka seperti kontrakan hihihi," gumam Aisyah bercanda dengan dirinya sendiri.


"Silakan masuk Nona!" ucap pria itu. Aisyah tak menjawab, dia hanya menurut saja. Masuk kedalam rumah yang mungkin akan dia huni selama menjadi selir pakduka Raja.


Aisyah kembali terkagum dengan rumah yang menurutnya seperti kontrakan ini. Pelan tapi pasti Aisyah terus melangkah masuk. Betapa terkejutnya Aisyah saat sampai di dalam. Disana ada sesosok pria tinggi besar, mungkin tingginya se Aak preman. Badannya sungguh kekar. Tak terlihat tua pun, batin Aisyah . Hanya ada uban dibeberapa bagian kepalanya.


Saat Aisyah menghentikan langkahnya, pria itu pun membalikan badannya. Kembali Aisyah terkejut, karena dia merasa bahwa pria itu sungguh tak asing baginya. Sayangnya Aisyah lupa siapa nama pria itu, yang jelas Aisyah sering melihatnya. Tapi siapa ya namanya, di mana dia melihat pun dia lupa.


Mata mereka bertemu, pria yang terlihat pantas menjadi ayahnya itupun juga tak kalah terkejut. Mungkin Aisyah juga dinilai tak asing baginya.


"Kenapa kau diam, perkenalkan dirimu!" ucap pria itu.


"Saya Aisyah Nur om," jawab Aisyah gemetar.


"Hemm,"


"Nama Om Patrio Guran bukan?" tanya Aisyah lancang. Tentu saja Patrio heran, dari mana gadis itu tahu namanya.


"Dari mana kau tahu namaku?" tanya Pria itu.


Seketika Aisyah ingat bahwa dia sering melihat foto pria itu di dinding rumahnya yang ada di Samarinda.


"Saya sering lihat Om di dinding rumah saya, Eh ... maksud saya di itu loh om, di apa namanya yak?" ucap Aisyah terbata-bata karena gugup. Pria itu hanya mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan apa yang Aisyah maksud.


"Diapa, di mana. Jangan bertele-tele atau ku ledakkan kepalamu!" hardik pria itu.


"Di apa ya namanya. Di foto om, di pigura!" jawab Aisyah. Astaga, Aisyah kamu cari mati. Bagaimana kalau dia marah batin Aisyah lagi.


Patrio terus menatapnya tak percaya, sesaat setelah kesadarannya kembali. Patrio pun bertanya lagi, "Siapa kamu?" tanyanya. Aisyah hanya melonggo tam percaya dengan apa yang didengarnya.


Bukankah dia sandra, bukankah dia adalah alat untuk membayar hutang. Lalu kenapa pria ini bertanya siapa dirinya. Mungkinkah orang yang berhutang padanya sangat banyak, hingga dia lupa akan sandranya. Aisyah bingung harus menjawab apa.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2