
Hasan terkekeh saat Yoyok membopongnya dari mobil dan menurunkannya di ranjang rumah tambak milik Deka. Deren dan Kopri sampai terheran-heran. Kenapa pria tua ini tertawa tanpa sebab.
"Maaf Mertua Bos, kenapa anda tertawa?" tanya Yoyok lugu.
"Enggak, lucu aja. Aturan kalau mau nyulik tu cewek cantik, yang bening bening. Minimal tante tante tapi yang tajir. Lah ini udah nyulik capek capek pria tua pula, lumpuh udah gitu miskin lagi hah hahaha, bagaimana saya nggak merasa lucu. Kalian konyol. Untungnya apa buat kalian hahaha .... hah, dasar preman bodoh," umpat Hasan pada ketiga pria muda itu.
Dia masih saja terkekeh dengan kebodohan ketiga pria yang menculiknya. Yoyok terlihat sangat oon, sedangkan Kopri dan Deren malah tersenyum malu.
"Jangan begitu Mertua Bos, nyawamu lebih berharga dari itu semua. Kalau anda pergi sebelum Bos Besar kami kawin bahaya nanti hahahah...," jawab Kopri sambil bercanda. Deren tersenyum malu malu.
Deren pun duduk di sisi ranjang dekat kaki Pak Hasan. Sedangkan Yoyok dan Kopri mengambil kursi agar mereka bisa berguru dan mengorek keterangan tentang ketua Obor Merah dari sang masternya.
"Baiklah, mana yang pacar putriku?" tanya Pak Hasan. Deren kembali tersipu malu.
"Itu Mertua Bos, yang paling tampan diantara kami," jawab Yoyok. Dasar Yoyok, ck ... bisa aja jawabnya.
"Ooo, jadi kau yang pacaran dengan putriku?" tanya Hasan.
"Siap Bah," jawab Deren.
"Oke, apa namamu Deren. Si Aak preman?" tanya Hasan lagi. Yoyok dan Kopri saling memandang, tawa langsung meledak diantara keduanya.
"Apanya yang lucu, diam kalian atau ku lempar kalian ke tambak bandeng!" ancam Deren geram.
"Ampun Bos, kami hanya merasa lucu aja. Bos udah tampan begini masih dipanggil Aak preman. Bisa bisanya di Neng Bos. Doi memang luar biasa, bener bener tak salah menilai. Mata batinnya sungguh luar biasa Bos," jawab Yoyok asal, tawa mereka berdua masih mewarnai ruangan ini. Membuat Deren kembali geram. Andai tak ada Pak Hasan, Yoyok pasti sudah habis dibuatnya.
"Ck ...," ucap Deren geram.
"Kenapa kalian jadi ribut begini. Lanjut, aku tanya sekali lagi, kau jawab saja," ucap Pak Hasan sambil menunjuk pada Deren.
"Siap Bah, saya Deren," jawab Deren.
__ADS_1
"Ngomong ngomong terima kasih kamu sudah pernah menyelamatkan nyawa Abah, dan untuk ini juga. Abah ucapkan terima kasih," ucap Hasan.
"Emang Mertua Bos dan Bos ini, kalian apa sudah saling kenal sebelumnya?" tanya Kopri penasaran.
Deren menatap ke arah Kopri. Dia tak tahu harus jawab apa. Agaknya Hasan tahu jika sifat Deren sedikit tertutup.
"Kami belum pernah ketemu, tapi Bos kalian pernah donorin darah buat Abah waktu di Samarinda dulu," jawab apa Hasan. Tentu saja kabar ini membuat Yoyok dan Kopri kaget. Mengingat Bos mereka anti jarum suntik.
"Serius Mertua Bos. Bos kami mau donor darah?" tanya Yoyo spontan. Deren langsung melotot ke arah Yoyok.
"Menurut info dari putri Abah sih begitu," jawab Pak Hasan. Lagi lagi Yoyok dan Kopri tertawa. Membuat Pak Hasan bingung. Muka Deren memerah, pertanda dia malu maksimal.
"Memangnya kenapa kalian terus tertawa, apa lucunya donor darah hah?" tanya Pak Hasan heran.
"Memang kekuatan cinta sungguh dasyat," celetuk Kopri. Kopti dan Yoyok merasa sangat bahagia bisa meledek habis Deren. Kapan lagi mereka bisa mempermainkan Deren selain pada moment ini.
"Maksud kalian apa, kekuatan cinta apa?" tanya Pak Hasan lagi. Duh Bah kamu ma, nggak ngertiin calon mantumu sama sekali. Perasaanku seperti ditelanjangi, andai tak ada Pak Hasan udah ku hajar habis kalian batin Deren geram.
"Benarkah, kalian tak tipu Aku?" tanya Hasan terkekeh.
"Mana mungkin kami berani tipu suhu!" jawab Kopri lagi. Tawa kembali mewarnai ruangan ini.
"Waktu itu kami belum pacaran Bah," ucap Deren pelan. Pak Hasan pun menghentikan tawanya dan kembali bertanya pada Deren.
"La, lalu kapan kalian mulai dekat?" tanya Pak Hasan, pertanyaan yang wajar menurutku. Sungguh saat ini Deren merasa sangat malu, mengingat dia bukan pria yang mudah terbuka. Di samping itu percakapan pribadi ini didengar oleh para anak buahnya.
"Beberapa bulan yang lalu Bah. Waktu kami ketemu di Pom deket rumah," jawab Deren jujur.
"Ooo, tapi ngomong ngomong apa kau serius dengan Aish?" tanya Pak Hasan, tatapan matanya sungguh tak bisa dihindari. Pria ini mengatakan kesungguhannya.
"Serius Bah, Insya Allah," jawab Deren mantap.
__ADS_1
"Apa kau mau berjanji pada Abah, mau menerima dan menjaganya apapun yang terjadi?" tanya Pak Hasan.
"Saya berjanji Bah," jawab Deren.
"Aku pegang janjimu. Laki laki sejati tak akan pernah ingkar janji. Dia akan menepatinya walau nyawa taruhannya," balas Pak Hasan. Deren sedikit bingung dengan ucapan pria tua ini. Terdengar seperti menyimpan rahasia bukan, seperti menghawatirkan sesuatu, tapi apa itu. Deren belum berani bertanya yang artinya dia harus mencari tahu sendiri rasa penasarannya.
Ahhh ... sudahlah mungkin itu memang kekhawatiran orang tua pada putrinya, mengingat Aisyah adalah putri satu satunya batin Deren.
"Insya Allah Bah, saya akan menjadi yang terbaik untuk Aisyah." jawab Deren.
"Bagus, aku pegang janjimu. Kalau begini kan enak, aku bisa pergi dengan tenang," ucap Pak Hasan tiba tiba membuat mereka bertiga takut.
"Eee...Jangan mati dulu Bah. Kan Aak Bos belum kawin ama Neng Bos," lagi lagi Yoyok mengatakan itu, dan kalian tahukan tangan siapa yang melayang di kepala Yoyok.
"Aduh Bang sakit!" Yoyok mengaduh kesakitan.
"Makanya jangan sembarangan ngomong," ucap Kopri memperingatkan.
"Jangan kau pukuli adekmu, dia tak salah. Kalau seumuran Abah ini memang sudah waktunya menghadap Ilahi. Apa salahnya dia bilang begitu. Tak apa, yang penting Abah udah tenang, Abah titip tolong jaga Aish apapun yang terjadi. Kau sudah janji, kau ingat itu," ucap Pak Hasan lagi, mencoba memperjelas janji yang Deren ucapkan barusan.
"Abah jangan bilang gitu Bah, Abah bakalan sembuh kok. Kami janji bakalan bawa balik Aisyah dan kami juga bakalan ngrawat Abah sampai sembuh," ucap Deren.
"Terima kasih sudah mau merawat Abah. Abah senang kenal kalian. Kalian ini terlihat seperti Abah dan kawan kawan. Sayangnya persahabatan kami harus berahir oleh sebuah janji yang bodoh yang kami buat," jawab Pak Hasan. Tiba tiba mata pria tua itu mengeluarkan air matanya. Sepertinya beliau masih menyimpan rahasia yang belum bisa beliau ungkapkan.
Bersambung.....
Pak Hasan punya rahasia apa yang gengs...🦂🤩 Eiithhssss.....jangan khawatir, Emak pasti bakalan usut satu persatu. Yang penting plis plis jangan jadi silent readers ya...biar Emak rajin up...oke, Kalajengking tamvan selalu menanti dukungan dari kalian🦂🤩.
Visual Neng Aish..semoga kali ini cocok...
__ADS_1