Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Permintaan Maaf


__ADS_3

"Sudah cukup kita berbincang anak muda, sekarang waktunya balikin aku ke tempat semula. Sebelum semuanya kembali hancur karenaku. Aku tak ingin menyusahkan siappun. Baik kamu, Aisyah maupun teman-temanmu. Bagiku mendengar kabar bahwa keluargaku baik-baik saja adalah kebanggaan tersendiri buatku dan itu sudah cukup. Terima kasih atas pengorbananmu, aku tak bisa membalasnya. Tapi doa terbaik akan selalu aku panjatkan untuk kelanggengan hubungan rumah tanggamu dan putriku. Aku titip dia, mengerti," ucap Ibu Fatimah sambil menjabat tangan Deren.


Deren hanya menatap tak percaya pada Ibu Fatimah. Tak percaya akan apa yang diucapkan wanita paruh baya itu. Kepasrahannya pada hidup, atau kekecewaannya pada dirinya yang membuatnya enggan untuk memperjuangkan kebebasannya. Sepertinya ibu Fatimah memang tak ingin menyakiti siapapun orang-orang yang ada di dekatnya.


"Bibi, jangan bicara seperti itu. Saya dan Aisyah menginginkan Bibi ada di tengah-tengah kami," ucap Deren masih terus berusaha membujuk Ibu Fatimah. Agar beliau paham bukan ini yang Deren dan Aisyah mau. Bukan, menurut pada para penjahat itu, kita masih bisa melawan untuk apa takut.


"Terima kasih anak muda. Terima kasih untuk semuanya. Kamu pemuda yang baik, aku yakin Aisyah akan aman dan bahagia bersamamu."


Ibu Fatimah mulai mengembangkan senyumannya. Meskipun tak dipungkiri bahwa senyuman itu mengandung kesedihan yang begitu dalam.


"Bi, percayalah padaku sekali ini saja. Izinkan saya membebaskn Bibi dari orang-orang jahat itu. Izinkan saya membahagiakan Aisyah dengan membawa ibunya kembali bersamanya. Izinkan saya menebus kesalahan ayah saya, Bi," ucap Deren memohon. Pria tampan ini sepertinya enggan menyembunyikan identitasnya lagi. Bahwa orang tuanya lah yang menjadi penyebab hancurnya keluarga Ibu Fatimah.


"Apa, maksudmu?" tanya Ibu Fatimah bingung.


"Apakah, Bibi ingat Deren. Anak laki-laki yang selalu Bibi panggil si pendek?" tanya Deren berusaha terus jujur dan membuka jati dirinya.


"Kamu?" ucap Bu Fatimah terkejut. Matanya menatap tajam ke arah Deren. Ibu Fatimah tak percaya bahwa pria muda yang ada di depannya adalah anak dari pria yang telah menghancurkan keluarganya.


"Iya, ini saya, Bi," jawab Deren tanpa rasa takut.


Deren sudah memikirkan konsekuensi yang akan dia terima. Untuk apa mundur. Betul, bukan?.


"Kamu anak pria itu?" tanya Ibu Fatimah.


"Benar, Bi. Saya putranya. Apakah Bibi masih marah pada ayahku?" ucap Deren pelan, halus dan tak terlihat seperti pria arogan sama sekali. Ibu Fatimah malah tersenyum. Tak ada sedikitpun kemarahan di sana.


"Untuk apa aku marah? semua sudah terjadi, bukan?" jawabnya. Deren tak berani menatap mata sejuk itu. Mata itu begitu teduh, tapi nyatanya dia sama sekali tak berani menatapnya. Entahlah! Deren gemetar, dia takut.

__ADS_1


Pria tampan ini diam. Menunggu setiap kata yang mungkin akan keluar dari bibir wanita yang telah orang tuanya sakiti ini.


"Aku tahu, saat itu ayahmu termakan hasutan Hariyanto. Dan ... sahabat-sahabatmya juga sudah mengingatkannya. Tapi sudahlah, tak ada gunanya lagi dibahas. Toh, semua juga sudah hancur, sudah selesai," ucap Ibu Fatimah. Deren tahu jika wanita yang ada di depannya kini kecewa dengan ulah orang tuanya. Tetapi kenapa dia tak marah, ataukah? kembali pertanyaan demi peryanyaan mengganjal di benak Deren


Sayangnya dia tak berani bertanya. "Kau tak usah pikirkan masa lalu. Yang perlu kau kerjakan sekarang adalah jauhi dunia yang penuh keributan dan kemunafikan ini. Dunia ini tak bagus untukmu, terlebih saat ini kamu menggandeng putriku ikut serta bersamamu. Aku mau dia aman dari jangkauan pria pria biadap yang tak punya hati itu." Ibu Fatimah mulai mengutarakan apa yang dia pikirkan. Tapi ini memang sesuatu yang ada dalam pikiranya, sepertinya beliau sangat lelah dengan dunia yang menghimpitnya.


"Sekali lagi, atas nama orang tua saya. Saya mohon maaf, Bi," ucap Deren sungguh-sungguh.


"Tenang saja, aku sudah memaafkan kalian semua. Kecuali mereka yang menghabisi orang tuaku," jawab Ibu Fatimah. Dari tadi mereka berbincang wanita ini terlihat amat sangat tegar. Lalu kenapa saat mengingat kedua orang tuanya dia menangis? Bukankah orang tuanya yang telah berbuat kejam padanya?.


"Bi, boleh saya bertanya satu hal lagi?" tanya Deren penasaran.


"Apa lagi yang hendak kau tanyakan anak muda?"


"Sebenarnya siapa yang melakukan hal sekeji ini padamu, Bi?" tanya Deren memantapkan hatinya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Lalu? apakah istri Hariyanto tak marah, Bi?" tanya Deren.


"Tentu saja ngamuk, kamu pikir ada wanita yang sanggup dimadu. Padahal usia kami, Aku dan Hariyanto terpaut jauh. Dasar pria mata keranjang tak berguna," jawab Ibu Fatimah sambil mengumpat kesal.


Deren mulai mengagumi ketegasan ibu mertuanya. Wanita yang semakin nampak kecerdasannya ini terlihat semakin mempesona. Aura kecantikannya memang persis seperti Aisyah. Deren jadi teringat wajah Ibu Fatimah yang pernah ia temui dulu.


"Lalu, bagaimana bisa orang-orang bodoh itu menganggap Bibi gila, sebelumnya saya mohon maaf, Bi?" ucap Deren. Ibu Fatimah malah tertawa.


"Heh, itu mudah. Lebih baik aku dicap gila, dan di masukan ke dalam neraka sekalipun dari pada jadi istri pria tua biadab itu," jawab Ibu Fatimah sesuai dengan apa yang dia kehendaki.


"Apakah ketua King Kobra itu dulu begitu punya power, Bi. Hingga semua tatanan mampu ia porak-porandakan?" tanya Deren tanpa rasa talut kali ini.

__ADS_1


"Bagaimana kau mengenalnya? Apakah kau komplotan mereka hah?" tanya Ibu Fatimah. Seketika muka wanita itu berubah menjadi garang.


"Bukan, Bi Bukan. Saya dan kawan-kawan sudah meruntuhkan kesatuan mereka, Bi. Saat ini pemimpin King Kobra strok dan dirawat di dalam lapas. Nyonya Ayunda pun sama. Beliau sekarang mendekam di penjara," ucap Deren menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ibu Fatimah menatap tak percaya pada apa yang barusan Deren ceritakan. Buktinya dia masih disekap. Walaupun pemimpin sudah tak berdaya seperti yang Deren ceritakan.


"Kau yakin mereka telah hancur?" tanya Ibu Fatimah memastikan.


"Kalau King Kobra sendiri saat ini tak berdaya, Bi. Tapi sayap-sayap mereka masih mengincar kita. Atau mungin rival mereka. Saya kurang tahu." jawab Deren. Jujur saat ini dia juga belum nendapat informasi mengenai kesatuan yang telah menghancurkan kekuasaan milik Obor Merah.


"Sebenarnya, aku tak perduli dengan apa yang mereka kerjakan. Aku malas memikirkannya. Tetapi tanpa aku sangka, semua itu terjadi padaku, pada keluargaku. Bahkan merenggut semua yang aku miliki, termasuk anak dan suamiku," balas Ibu Fatimah. Sesuai dengan yang terjadi padanya.


Kini Deren paham, jika sesungguhnya wanita yang ada di depannya bukanlah wanita yang ambisius. Hanya orang-orang yang ada di sekelilingnya lah yang tamak dan serakah. Hingga tanpa ia kehendaki semua menjikannya sandra dan objek penyiksaan mereka.


Perbincangan mereka berhenti mana kala ponsel Deren berdering. Joker menghubunginya. Dia pun berpamitan sebentar untuk mengangkat telepon itu.


Sepeninggal Deren tampak Ibu Fatimah menatap lekat pria yang kini masih mengisi penuh hatinya. Sayangnya dia tak berani mengangu istirahat pria itu. Dia takut jika kedatangannya tak di kehendaki oleh suaminya.


Bersusah payah, Ibu Fatimah berusaha beranjak dari duduknya. Dalam pikirannya dia takut dan malu bertemu dengan kekasih hatinya, terlebih dalam keadaannya yang menurut dia tidak cantik.


Om Patrio membuka matanya, saat merasakan ranjangnya sedikit bergetar. Dia tahu, wanita yang telah memberinya satu putri ini hendak menghindar darinya. Dengan cepat Om Patrio memegang lengan itu. Membuat Ibu Fatimah terkejut.


"Jangan pergi," pinta Om Patrio. Ibu Fatimah tak menjawab, lidahnya kelu tak percaya. Dia kira Om Patrio masih terpengaruh obat tidur sehingga tak mungkin bagi Om Patrio untuk bangun secepat itu.


Mata kedua insan itu saling menatap. Tak ada yang mampu mereka ucapkan. Apa lagi lakukan. Semua tampak kaku dan entahlah! mereka masih bingung untuk bersikap.


Bersambung....


Gengs, mon maap y kalo emak updatenya lama. Lagi berada dilingkup kerepotan yang hqq ... salam sayang buat klean penggemar Neng Aish dn Aak Deren😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2