
Deren mengambil ponselnya dan kembali duduk di sebelah Aisyah. Wajahnya begitu serius, menatap benda pipih itu. Begitu menggemaskan bagi Aisyah.
Tanpa Deren sadari, istrinya terus memperhatikan gerak geriknya. Memperhatikan garis-garis wajahnya yang menawan itu.
Tanpa di sadari, dalam hati wanita cantik ini terus memuji ketampanan dan kebaikan pria pemilik hatinya ini. Aisyah iseng memainkan rambut Deren, dan pria ini diam saja. sepertinya dia menyukainya. Sesekali dengan gemasnya Aisyah mencium pipi Deren. Dan lucunya Deren hanya tersenyum saja.
Aisyah juga sangat suka dengan hidung mancung milik suaminya, bulu matanya yang lentik dan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahang itu memberikan kesan tegas pada wajah priabyang dikaguminya saat ini.
"Ak."
"Heemm."
"Aak berat badannya berapa?"
"75 kilo."
"Tingginya?"
"175 centi."
__ADS_1
"Oh," Aisyah tersenyum. Ternyata, biarpun sibuk dan perhatiannya pada hal lain Deren tetap mau menjawab pertanyaan ngawurnya. Aisyah pun melanjutkan lagi pertanyaannya.
"Ak."
"Heem,"
"Aish, pengen punya baby," canda Aisyah.
"Ya udah ntar malam kita bikin," jawab Deren asal Aisyah tertawa pelan. Agaknya Deren juga tak menyadari jika istrinya ini cuma menggodanya.
"Katanya mau kerja, nggak jadi ta?" tanya Aisyah. Deren tak menjawab pertanyaan Aisyah yang ini. Diam malah Tak tersenyum tanpa sebab. Aisyah jadi penasaran.
"Lihat ini, Dek. Keponakan kita udah lahir," jawab Deren sambil memberikan ponselnya pada istrinya. Aisyah menerima ponsel itu dan membaca pesan teks yang dikirim oleh adek ipar mereka.
"Masya Allah, Ak. Cute sekali. Aish jadi pengen punya baby benera. Queen Anaya, nama yang menggemaskan seperti babynya," puji Aisyah. Deren hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya. Terlebih saat bilang ingin memiliki baby.
"Lihat deh Ak, matanya cantik banget," puji Aisyah lagi. Sepertinya Aisyah menyukai baby cantik yang ada di layar ponsel Deren.
"Kamu menggemaskan sekali sayang, Bude jadi pengen cium kamu. Eemmm, tayang emuah emuah (sayang emuah: bunyi kecupan)." Deren tertawa pelan melihat tingkah konyol istrinya.
__ADS_1
"Uncle tato akhirnya punya ponakan kandung juga. Selamat ya Uncle, kapan nih kita ke sana? Bude udah nggak sabar ini pengen ketemu Queen, Uncle," canda Aisyah.
" Suami dipangil Uncle istrinya dipanggil Bude, ngajarin nggak bener kamu," balas Deren sambil mencubit manja hidung Aisyah. Wanita cantik ini hanya tersenyum manis pada suaminya.
"Habis, saya kan wong jowo. Uncle bukan to," jawab Aisyah kembali menggoda suaminya.
"Orang mana-mana ajalah. Yang penting baik, biar kalau kemana-mana ketemunya orang baik," jawab Deren tiba-tiba melo.
"Loh ... kok tiba-tiba melo gini. Kenapa, Ak?" tanya Aisyah.
"Aak pengen jujur sama Yunita, Dek. Tapi takut," jawab Deren.
"Jujur aja, Ak. pecayalah semua akan baik-baik saja," ucap Aisyah memberi saran sekaligus memberi dukungan agar Deren berani mengambil sikap.
"Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi, Ak. Percayalah Yunita akan mengerti kelemahanmu saat itu. Itu bukan murni kesalahanmu juga, Ak. Percayalah, Yunita pasti memaafkanmu," tambah Aisyah. Entah apa yang dipikirkan Deren saat ini. Mungkin dia takut kalau Yunita marah dan tak mau menerima penjelasannya. Tapi Aisyah benar, dia harus melangkah dan jujur. Mau sampai kapan mengembunyikan kenyataan yang seharusnya tak jadi beban ini.
Deren menatap foto yang ada di ponselnya. Tanpa ia sadari jari jemarinya mengelus wajah adek dan keponakannya itu. Deren merasa sangat bahagia.
Bersambung...
__ADS_1