Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Luka Batin Ibu Fatimah


__ADS_3

Deren menggendong Ibu Fatimah masuk ke dalam rumah. Sang anak buah membantunya membukakan pintu. Tadinya dia ingin membantu menggendong Ibu Fatimah. Deren melarangnya. Pria tampan ini ingin menjaga dan membahagiakan ibu mertuanya sendiri.


Sesampainya di depan kamar di mana Tuan Bos Patrio beristrirahat, Ibu Fatimah diam membisu. Penasaran dengan pikirannya, antara akan menghadapi kebahagiaan atau kebohongan. Dia sudah pasrah, kalaupun harus disekap dan disiksa lagi wanita kurus ini tak ambil pusing. Yang jelas saat ini, dia harus memastikan siapa yang ada di balik pintu itu.


Deren membuka pelan pintu kayu itu. Tampak di sana seorang pria bertubuh tinggi besar sedang berbaring lemah. Dengan infus menancap ditangan kirinya.


"Turunkan aku ... turunkan!" pinta Ibu Fatimah sambil memukul lemah punggung Deren.


"Katanya Bibi, tak bisa jalan?" tanya Deren. Atau lebih tepatnya kini dia sedang menggoda wanita garang yang berubah jadi cute ini.


"Bisa , bisa, aku pasti bisa," ucapnya tak sabar. Jujur saat ini pria tampan ini ingin tertawa. Dia seperti sedang menghadapi Aisyah tua. Aahhh ... ternyata mereka memang mirip.


Deren pun menurunkan pelan-pelan wanita paruh baya ini. Membantunya berdiri tegak, sayangnya beberapa kali Ibu Fatimah hendak jatuh. Karena dia memang lemas. Pantas saja dia bilang tidak bisa berjalan. Deren menawarkan diri lagi untuk menggendongnya. Buka jawaban Iya, atau Tidak. Dia malah dibentak dengan keras.


"Diam kau, aku bisa!" bentaknya. Oke, kali ini Deren tak membantah. Dia hanya tersenyum simpul rasanya ingin tertawa. Ternyata wanita ini sedang memendam rindu yang teramat dalam untuk suaminya. Cintanya tak kurang sedikitpun, itu terlihat dari sorot mata serta semangatnya yang menggebu. Untuk bisa berjalan sendiri menuju sang pemilik hati.


Beberapa kali wanita lemah ini hendak terjatuh. Deren selalu siap membantunya. Memapah wanita yang tanpa sengaja memberinya kebahagiaan ini. Dengan susah payah akhirnya dia pun sampai di sisi ranjang di mana Om Patrio berbaring.


Ibu Fatimah menangis melihat keadaan suaminya yang teramat menyedihkan ini.


"Saya tak bohong 'kan, Bi?" tanya Deren sambil duduk bersimpuh di hadapan wanita paruh baya ini.


"Tidak ... tapi kenapa dia pucat sekali. Lalu kenapa dia harus diinfus-infus begini?" tanya Bu Fatimah penasaran.


"Oh, paman sedang tak enak badan, Bi. Tapi semua akan baik-baik saja. Kan ada Bibi sekarang," ucap Deren memberi semangat.


"Benarkah dia akan sembuh jika bertemu denganku?" tanya Ibu Fatimah lugu. Astaga, kenapa dia jadi seperti punya cinta bertepuk sebelah tangan begini. Bukankah mereka saling mencintai sebelum berpisah? Atau? entahlah! Deren tak mau berasumsi sebelum tahu kebenarannya.


Ibu Fatimah hanya menatap lekat ke wajah pria yang berbaring diam ini. Deren kembali heran, kenapa Ibu Fatimah tak kunjung membangunkannya? Bukankah dia punya rindu menggebu tadi? tanya Deren dalam batinnya.


"Bi,"


"Hem,"


"Kok nggak dibangunin?" tanya Deren.


"Aku tak berani," jawabnya.


"Kenapa?"


"Karena dia akan marah jika aku menganggu tidurnya," jawab Ibu Fatimah pelan. Matanya menatap ke arah Deren. Seolah meminta pada Deren agar pria muda ini bisa membaca dan mengerti isi hatinya.


"Enggak, Bi. Paman tak mungkin marah. Bukankah kalian saling mencintai," ucap Deren sesuai apa yang ia pikirkan.


Ibu Fatimah malah tersenyum. Sayangnya senyuman itu mengandung luka yang teramat perih. Itu yang Deren tangkap sejauh ini.


"Kau salah," balas ibu Fatimah. Senyum penuh luka itu kembali dia persembahkan pada Deren. Tatapan mata itu terasa sangat sedih.


"Salah?" Deren semakin bingung.


"Iya salah," jawabnya pelan.


"Tapi kenapa, Bi?" agaknya Deren tak ingin membuang waktu untuk mencari tahu kebenaran apa yang terjadi.


"Tidak kenapa-napa. Kami memang tidak saling mencintai," jawabnya lirih.


"Apa, Bibi sedang bermain-main denganku?" tanya Deren mulai tak sabar.

__ADS_1


"Untuk apa aku bermain-main denganmu anak muda. Apakah kamu pikir hidupku belum cukup di permainkan. Demi melindungi pria bodoh ini," jawab Ibu Fatimah penuh teka-teki. Mungkinkah dia menyembunyikan sesuatu? batin Deren.


Deren menatap lekat ke arah Ibu Fatimah. Kesabarannya tentang rasa ingin tahu ilang begitu saja. Kini terganti oleh hasrat untuk mengetahui semuanya tanpa terlewat sedikitpun.


Deren mengambil kursi dan duduk menghadap Ibu Fatimah. Seperti seorang anak yang bersiap menerima penjelasan materi dari sang guru privat.


"Bi ... sebelumnya saya minta maaf. Kalau saya menyinggung perasaan Bibi. Hanya saja saya tak paham dengan apa yang Bibi katakan," ucap Deren pelan. Wanita kurus ini kembali tersenyum meskipun terlihat menyimpan beribu makna di dalamnya.


"Apa yang hendak kau tahu?" tanya Ibu Fatimah. Deren menatap tak percaya dengan apa yang barusan Ibu Fatimah katakan.


"Mengapa, Bibi, bilang kalau kalian tak saling mencintai?" akhirnya Deren berkesempatan mengeluarkan isi hatinya.


"Kami memang tidak pernah saling mencintai. Kalau dia cinta padaku, dia tak akan pergi malam itu. Demi apapun itu," ucapnya, dalam ... dan ahhh ... Deren makin tak paham.


"Memangnya apa yang terjadi, Bi. Kenapa paman nekat pergi?" tambah Deren. Rasa penasarannya semakin tinggi.


"Apakah kau tahu, apa yang jadi penyebab aku dan pria bodoh ini menikah?" Ibu Fatimah malah balik bertanya pada Deren. Deren hanya menggeleng.


"Dia memenangkan saembara dan hadiahnya adalah aku," jawabnya tegas. Dari nada bicaranya, terbukti bawa wanita paruh baya ini bukan wanita sembarangan. Lalu kenapa dia pasrah dengan keadaanya? batin Deren bergemuruh lagi.


"Maksud, Bibi?" Deren tak mau membuang kesempagan langka ini.


"Apa kau paham dengan nikah paksa?" agaknya Ibu Fatimah mengajak otak Deren touring dengan masa lampaunya.


"Ya ...."


"Nah, kehidupan seperti itulah yang kami jalani."


"Tapi, Bi. Kalau kalian terpaksa, bagaimana mungkin tercipta Aisyah?" tanya Deren lugu. Dan ... plaaakkkkk .... pukulan keras menderat di kepala pria muda ini. Deren malah tersenyum sambil mengelus kepalanya yang tak sakit itu. Ibu Fatimah juga tersenyum malu-malu.


"Naluri, bodoh!" jawabnya singkat.


"Malam itu, aku sudah tahu rencana busuk Hariyanto dan anak buahnya. Karena aku mendengar sendiri pembicaraan mereka di hotel. Yang aku sayangkan adalah, salah satu sahabat pria bodoh ini ikut andil dalam rencana busuk itu," ucap Ibu Fatimah menceritakan sedikit kisah awal mulanya dan sebab hancurnya keluarganya.


Deren diam terpaku saat mendengar perkataan wanita paruh baya ini. Ia yakin jika yang dimaksud sahabat yang ikut andil itu adalah ayahnya.


"Lalu, Bi. Kenapa Bibi tak kasih tahu paman?" tanya Deren. Kembali Ibu Fatimah memukul kepala Deren. Pukulannya kali ini terasa lebih keras. Hingga Deren mengaduh.


"Aduh, Bi. Sakit!" pekik Deren


"Rasakan ... kau ini bodoh atau idiot?" tanya Ibu Fatimah dengan nada kesal.


"Maaf, Bi. Saya tak tahu," jawab Deren mengalah. Dari pada kena pukul lagi.


"Tentu saja, aku udah kasih tahu dia. Karena tak ada cinta itulah dia tak percaya padaku. Dia malah membela sahabat laknatnya dan menuduhku mengada-ngada," jawab Ibu Fatimah ketus.


"Maaf, Bi. Ampun," balas Deren.


"Ahhh ... sudahlah. Kalau diceritakan semua pasti menyakitkan. Aku sudah melihatnya dan dia baik-baik saja. Kau boleh mengemblikanku ke rumah sakit jiwa itu," ucapnya sambil memegang lengan Deren hendak beranjak dari tempat duduk. Permintaan yang aneh menurut Deren.


"Kenapa, Bibi mau kembali ke neraka jahanam itu, Bi?"


"Kau ini pria, tapi cerewet sekali. Kalau aku tak balik. Kau pikir sahabat-sahabatmu akan kembali dengan selamat?" pertanyaan yang sama sekali tak Deren sangka.


"Maksud, Bibi!"


"Sudah berapa lama kita duduk di sini?" tanya Ibu Fatimah serius.

__ADS_1


"Baru juga beberapa menit, Bi!"


"Astaga, kau memang bodoh. Kita sudah lama berbincang di mari. Dan kau lihat, kawanmu belum ada satu pun yang datang. Aku yakin mereka sudah di sandera komplotan Hariayanto. Pria laknat tak berperasaan itu," ucapnya geram.


"Tenang saja, Bi. Sahabat-sahabat saya handal semua. Saya tak mau membawa Bibi ke sana lagi. Nanti paman dan Aisyah memecat saya gimana?," ucap Deren sambil bercanda. Agar suasana lebih santai dan bersahabat.


"Aisyah," ucapnya.


"Iya, Bi. Aisyah ... Bibi tak ingin bertemu dengannya memangnya?" tanya Deren, dengan senyuman khasnya. Ibu Fatimah menghapus air matanya dan kembali bertanya, "Apakah dia cantik?" .


"Tentu saja cantik, Bi. Cantik seperti Bibi ini," jawab Deren. Ibu Fatimah tersenyum, sayangnya dalam senyuman itu terlihat jelas penyesalan yang sukar di gambarkan.


"Apakah, Bibi mau melihat fotonya?" tanya Deren.


"Mau, apakah kau punya?"


"Punya, Bi!" Deren pun merogoh kantong celananya. Dan mengeluarkan ponselnya. Membuka galeri foto di sana dan memberikannya pada Ibu Fatimah.


"Ini Aisyah, Bi," ucap Deren sambil menunjukan foto-foto Aisyah di layar ponselnya. Ibu Fatimah menerima ponsel itu. Senyum kerinduan mengembang di sana. Deren tahu wanita ini pasti sangat bahagia.


"Ini Aisyahku, putriku. Iya 'kan?" ucapnya sambil mencium dan sesekali memeluk ponsel milik Deren.


"Iya, Bi. Itu Aisyahnya Bibi," jawab Deren. Ingin rasanya dia jawab "Yang kini jadi istri dan milikku, Bibi," . Tapi takut kena pukul di kepala lagi.


Ibu Fatimah menikmati pencariannya. Lalu! sampailah dia di titik atau lebih tepatnya tanpa sengaja dia menemukan foto pernikahan Deren dan Aisyah di sana. Wajahnya berubah kesal.


"Apa ini?" tanya Ibu Fatimah.


"Oh ... itu, Bi," jawab Deren sedikit takut.


"Kalian menikah?"


"Iya, Bi."


"Putriku menikah denganmu?" tanyanyanya lagi Seakan tak percaya.


"Iya, Bi. Kami suami istri," jawab Deren ragu. Terlihat Deren punya firasat buruk soal ini.


"Hah ... yang benar saja."


"Memangnya kenapa, Bi?" Deren kembali penasaran dengan apa yang dipkirkan wanita ini.


"Kenapa dia pilih pria bodoh dan idiot serta jelek seperti ini jadi suaminya," ucap Ibu Fatimah tanpa dosa. Bukannya marah Deren malah tersenyum.


"Tampan gini, Bi. Jelek dari mana," goda Deren.


"Tampan kau bilang. Tampan dari mana? lihat saja, kau hitam dan jelek macam ini (wanita ini diam sejenak. Dia terlihat membandingkan foto Deren dengan aslinya). Tunggu ... kenapa di mari tampan dan aslinya jelek. Ada apa ini?" tanya Ibu Fatimah bingung. Sambil membolak-balikan ponsel Deren.


"Saya kan sedang menyamar, Bi. Jadi di jelek-jelekin," goda Deren.


"Oh ... "


"Aslinya tampan saya ma, Bi,"


"Tidak ... tidak, bagiku kau bodoh dan idiot," balas Ibu Fatimah ngotot. Deren hanya tersenyum. Baiklah Bi, suka-suka Bibi, saja. yang penting Bibi bahagia. Dan tak meminta balik ke rumah sakit. Batin Deren.


Tanpa mereka sadari, ada pasang telinga yang ikut mendengarkan percakapan dan perdebatan mereka. Dia bisa menangkapnya, tetapi sayangnya dia tak bisa mengingat apa yang pernah ia lewati bersama dengan wanita ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2