Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Keanehan Aisyah


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Deren.


"Sebelumnya saya minta maaf Pak, sepertinya istri anda mengalami shock berat. Saat saya memberinya pertanyaan dia sama sekali tak mau menjawab. Malah menangis," ucap Pak Dokter.


"Anda mungkin benar Dokter, benerapa waktu yang lalu istri saya diculik dan Dokter tahu kan, dia mengalami kekerasan fisik serta hampir mengalami pelcehan seksual," jawab Deren jujur apa adanya.


Dokter itu menganggukan kepalanya tanda mengerti. Dia pun melanjutkan perkataannya.


"Untuk masalah fisiknya hanya lebab-lebab saja Pak, tidak ada luka yang serius. Hanya saja saat ini, dia terlihat ketakutan jika berdekatan dengan pria. Tadi pas saya hendak memeriksanya dia berteriak hiteris. Sepertinya dia trauma akan sentuhan," jawab Pak Dokter menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kondisi kejiwaan Aisyah.


"Apakah saya perlu mencari psikiater untuknya, Dok?" tanya Deren.


"Saya belum berani menyarankan Pak, kasusnya kan baru. Coba bapak lakukan pendekatan, terapi dari orang yang dikasihi sepertinya lebih ampuh, Pak," jawab Dokter itu.


"Saya akan coba, Dok. Terima kasih banyak," ucap Deren sambil menjabat tangan Dokter dan berpamitan.


Diperjalanan menuju ruangan Aisyah dirawat, Deren pun ingat permintaan Aisyah sebelum kekasihnya ini pingsan. Dia pun langsung mengingat wanita yang membuat kekasihnya seperti ini.


Deren pun langsung menghubungi Kopri, dan meminta anak buahnya itu untuk membuka paksa mulut wanita ular itu.


"Hallo, Bos!" sapa Kopri menjawab panggilan telepon bos besarnya.


"Di mana wanita jahanam itu?" tanya Deren.


"Ada Bos, dia aman di tangan kami!" jawab Kopri.


"Tanyakan padanya di mana dia menyekap Tuan Besar. Dan apa maksudnya dia melakukan itu. Jika tidak mengaku, lakukan apa yang kalian mau!" perintah Deren. Kopri pun menyanggupi perintah sang atasan. Dia pun segera melaksankan titah sang Pemimpin.


Deren memutus panggilan teleponnya dan meneruskan perjalanannya menuju ruangan kekasihnya.


Sekarang Deren sudah berada di depan ruangan di mana Aisyah berada. Deren menghela nafas dalam dalam. Berusaha menguatkan mentalnya untuk mengahadapi Aisya. Dia pun membuka pintu ruang rawat itu dan masuk ke dalamnya.


Deren memberikan senyum tampannya pada sang kekasih. Sayangnya Aisyah tak membalas senyuman itu. Pandangan Aisyah dinilainya aneh, mungkinkah apa yang dikatakan Dokter benar. Bahwa kondisi kejiwaan kekasihnya ini terganggu.

__ADS_1


"Dek, ini Aak. Kok nglihatin Aaknya begitu?" tanya Deren sambil memegang tangan Aisyah dan menciumnya. Aisyah masih menatap penuh tanya pada Deren.


" Kenapa Dek, kok gitu, ada yang sakit nggak?" tanya Deren pelan sambil membelai rambut Aisyah. Sayangnya belaian penuh cinta dari Deren ditepis oleh Aisyah.


"Adek takut sama Aak heemmm?" tanya Deren lagi.


Aisyah masih diam, tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut Aisyah. Membuat Deren sedih.


Tak sengaja mata Deren menangkap dada Aisyah yang hanya ditutup baju sragam khas pasien itu. Dan itu sangat tipis, hingga maaf PD Aisyah terlihat agak samar-samar.


"Maaf ya Dek, dadanya Aak tutup ya," ucap Deren sambil menaikan selimut Aisyah. Aisyah menatap Deren penuh tanya, bibirnya bergetar. Seakan bibir itu ingin mengucapkan sesuatu tapi masih susah. Semua kata yang dia miliki, seakan masih tertahan penuh di tenggorokannya.


"Aish, takut sama Aak kah?" tanya Deren lagi. Deren tak putus asa soal ini. Dia sangat paham luka dijiwa memang lebih susah diobati dibanding luka yang ada di raga.


"Aish, jangan takut sama Aak. Aak, nggak akan nyakitin kamu sayang heeem," ucap Deren lagi. Aisyah malah memunggungi Deren dan tak mau lagi mendengarkan ucapan pria gagah itu.


Deren tak ingin memaksa kekasihnya. Dia memutuskan untuk memberi waktu pada Aisyah. Agar Aisyah bisa memahami perasaanya sendiri dan siap mengatakan apa yang dia ingin, dan apa yang dia rasakan.


Deren pun menghubungi Yudha dan meminta pendapat dari sahabat karipnya ini. Siapa tahu apa yang dia pikirkan Yudha bisa sejalan dengan apa yang dia pikirkan.


Untungnya Yudha pun menyambut baik panggilan telepon sahabat karibnya.


"Hallo, Bro ... buset. Tumben lo telepon ane. Kemane aja lo hah!" sapa Yudha panjang lebar.


"Ane ada Bro, lo tahu lah ane repot. Ane mau minta tolong bisa nggak?" tanya Deren.


"Asala ane bisa kenapa enggak, Bro," jawab Yudha.


"Ane butuh Arumi Bro, boleh nggak pinjem?" tanya Deren. Dasar preman milih katanya belepotan banget sih.


"Pinjem Arumi? buat apaan. Jangan ngeres lo ya. Ane tembak tahu rasa lo," jawab Yudha sambil tertawa menggoda.


"Bukan, bukan itu maksud ane, Bro. Lo bisa dateng rumah sakit Harapan Kita nggak. Ane ada di kamar VIP nomer 1 Bro," jawab Deren. Sepertinya Deren bingung bagaimana memilih kata untuk menjelaskan kondisinya pada Yudha.

__ADS_1


"Rumah sakit? ngapain lo di rumah sakit. Lo sakit apaan. Tumben bener, biasanya juga cuma minum tablet sakit kepala!" balas Yudha tak percaya, kembali Yudha tertawa. Deren pun tersenyum mendengar jawaban apa adaya dari Yudha. Ternyata sahabatnya ini sangat tahu kepribadiannya.


Yudha memang sangat tahu bahwa sahabatnya ini anti rumah sakit. Kecuali berada dalam situasi yang benar-benar kepepet dan ya ... dia tak bisa menahannya.


"Bukan ane yang sakit, Bro. Tapi someone ane," jawab Deren sambil berbisik. Yudha sedikit tak dengar. Tapi kata someone yang Deren ucapkan terdengar jelas ditelingannya.


"Apakah kamu barusan bilang someone?" tanya Yudha.


"Iya, ane bilang begitu. Makanya ane butuh bantuan bini elo," jawab Deren tak mau basa-basi lagi. Untungnya Yudha paham dan mengerti apa yang sahabatnya maksud.


"Elo serius udah ada someone?" tanya Yudha kepo.


"Insya Allah," jawab Deren yakin.


"Oke, bentar lagi ane otw (on the way)," jawab Yudha.


"Elo kagak repot kan?" tanya Deren.


"Kagak, aman. Santai aja, lo sabar-sabar ya," ucap Yudha. Yudha memang belum tahu apa yang senemarnya terjadi. Tapi dia sangat tahu Deren, pria gagah itu jarang sekali meminta bantuan. Kecuali dia benar-benar sudah tak mampu menyelesaikannya sendiri.


"Makasih banyak ya, Bro," balas Deren melemah.


"Iya, ane siap siap sekarang," ucap Yudha. Setela itu mereka pun mengahiri panggilan mereka.


***


Disisi lain ada Hariyanto yang meringis kesakitan karena terjatuh dari kamar mandi hotel tempatnya menginap.


Hariyanto fruatasi melihat kenyataan yang dia hadapi sekatang. Kenyataan tetang hancurnya kerajaan yang dia pertahankan selama ini. Semua anak buahnya ditangkap polisi. Istrinya meninggalkannya dan kabur keluar negeri setelah mendengar kabar bahwa bisnis suaminya telah terendus pihak berwajib.


Belum lagi putri kebanggaanya telah berada ditangan musuh. Hariyanto menangis, saudara satu satunya yaitu Handoyo tak mau perduli tentangnya. Hariyanto sudah menghubunginya dan meminta perlindungan. Sayangnya Handoyo tak mau, keputusan memutuskan persaudaraan dengan saudara tirinya kini disesali Hariyanto. Tinggalah kini dia meringkuk sendirian tak ada seorang pun yang perduli padanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2