
Patrio Guran meminta anak buahnya untuk menyelidiki siapa sebenarnya gadis yang dikirim untuk menjadi salah satu wanita surga dikerajaan yang dia bangun sendiri ini.
Pikiran Patrio berubah seketika saat melihat Aisyah. Sorot mata gadis cantik itu mengingatkannya pada seseorang. Tapi dia tak tahu siapa itu. Rasa penasaran Patrio menuntunnya untuk mencari tahu apakah Aisyah ada hubungannya dengan masa lalu yang terlepas darinya.
Rasa aneh itu mengubah Patrio menjadi aneh. Entah kenapa sikapnya menjadi baik saat bertemu dengan gadis berhijab itu. Biasanya Patrio tak mau banyak bicara. Jika ada wanita yang di kirim sebagai hadiah untuknya maka dia akan langsung menyuruh wanita itu membersihkan dirinya dan tak menundanya lagi.
Patrio akan langsung memakannya. Karena apapun yang ada dikirim ke istannya adalah miliknya. Dia sama sekali tak perduli, walaupun itu sangat menyiksa mereka.
Patrio Guran duduk termenung. Selama ini dia belum pernah tahu ada orang atau siapapun berani memajang fotonya dan apa lagi berani mengakuinya sebagai sahabat.
"Astaga, siapa gadis itu. Wajahnya sungguh mirip seseorang. Tapi siapa?" gumam Patrio.
Patrio mondar mandir di kamar besarnya. Kamar besar itu hanya boleh dimasuki oleh istri pertamanya. Sedangkan istri kedua ketiganya dan beberapa selirnya ditempatkan di tempat yang mirip kontrakan kata Aisyah.
Tak membutuhkan waktu lama bagi seorang pimpinan besar seperti Patrio Guran untuk mengetahui identitas seseorang.
Ponsel Patrio berdering, sepertinya itu adalah panggilan dari orang kepercayaannya.
"Heeemmm!" sambut Patrio.
"Maaf Tuan Bos, gadis itu adalah anak tiri dari salah satu nasabah kita. Ibu kandungnya bernama Ratih Pertiwi, yang meninggal tiga tahun yang lalu. Dan ayahnya bernama Hasannudin," jawab anak buah Patrio.
"Tunggu ... siapa tadi nama ibu kandungnya?" tanya Patrio penasaran.
"Ratih Pertiwi, Tuan Bos," jawab Orang itu. Ratin Pertiwi, nama itu seperti tak asing baginya. Tapi siapa ya, ini pasti ada hubungannya dengan ingatan sialan itu, batin Patrio.
"Carikan aku foto kedua orang tua gadis itu!" perintah Patrio Guran lagi.
"Siap, Tuan Bos!" jawab Orang itu lagi.
__ADS_1
Patrio dan anak buahnya pun mengahiri percakapan mereka. Tinggallah sekarang Patrio Guran dengan segala keresahan dan kebingungannya. Otaknya terus bertanya siapa sebenarnya gadis itu. Hatinya mengatakan tak asing, tapi otaknya belum mengingatnya sama sekali.
Patrio menatap lurus ke jendela kamarnya. Masa lalu Patrio yang hilang bersama ingatannya itupun menjadi dilema tersendiri buatnya. Ditambah sekarang dia bertemu dengan gadis yang mengaku mengenalnya.
"Astaga, kenapa aku penasaran sekali dengan masa lalu satu ini. Biasanya tak ada yang mampu membuatku sebingung ini," gumam Patrio. Keresahannya telah menutupi seluruh jiwanya, hingga saat istri pertamanya masuk pun dia tak tahu.
"Pak!" panggil Ayu istri pertama Patrio.
"Hemm,"
"Bapak kenapa?" tanya Ayu. Biasanya soal perasaan Patrio bisa sangat terbuka dengan wanita yang hampir dua puluh tahun ini mendampinginya.
"Ada seorang gadis yang mengaku mengenalku Bu, bahkan dia bilang aku sahabat ayahnya," jawab Patrio. Ayu mengerutkan keningnya.
"Kok tumben Bapak percaya begitu saja sama seseorang?" tanya Ayu curiga.
"Coba dicari dulu Pak, siapa tahu memang benar. Ibu nggak bisa bantu kalau ingatan yang hilang itu sebelum Bapak kecelakaan. Kan kita kenalnya setelah Bapak kecelakaan," ucap Ayu.
Patrio hanya tersenyum. Ayu adalah wanita yang paling mengerti dirinya. Dia tidak egois, bahkan dia tak pernah membuat Patrio marah. Ayu sangat pandai menenangkan jiwa suaminya.
Ayu sangat berbeda dengan istri istri Patrio yang lain. Dia hanya ingin selamat maka dia berkeyakinan suaminya adalah rajanya. Raja yang harus selalu dia layani dengan sepenuh hati. Itu sebabnya Patrio sangat menghargainya walaupun dia tak mencintainya.
***
Noviant Juan, sahabat sekaligus patner kerja Deren merasa sangat geram setelah mendapatkan kabar bahwa saat ini sahabatnya sedang dalam fase terburuk. Hanya karena seorang wanita. Bagi Juan ini adalah kabar gila.
Juan pun segera terbang ke Malang untuk menemui sahabatnya itu. Anak buah Juan seperti tak diperlukan mengingat belum adanya perkembangan dari kasus yang membelit sahabatnya.
"Di mana bos kalian?" tanya Juan pada Kopri dan juga Joker yang sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Mereka pun berdiri menyambut kedatangan sahabat Big Bos mereka.
"Mari saya antar Tuan!" ucap Kopri. Juan pun melangkah mengikuti langkah Kopri yang membawanya masuk kedalam ruang rahasia milik Deren.
Deren terkejut mana kala ada yang berani masuk kedalam ruangan rahasianya ini.
"Siapa kamu?" tanya Deren. Maklum penerangan ruangan itu tak dinyalakan. Gelap, seperti hati pemilik ruangan ini.
"Ane, Juan," jawab Juan. Deren yang masih cuek hanya duduk saja di kursi kebesarannya.
Juan pun duduk di depan pria yang pernah dijuluki Raja Singa ini.
"Lo kenapa bisa lemah gini Bro?" tanya Juan geram.
"Nggak tahu Bro!" jawab Juan.
"Siapa sih musuh lo sebenarnya?" tanya Juan.
"Pimpinan Obor Merah Bro," jawab Deren.
"Pimpinan Obor Merah, sepertinya tak asing," gumam Juan. Pria bermata coklat ini pun diam.Juan pun berfikir dan mengingat siapa yang pernah bercerita tentang ini. Beberapa saat kemudian Juan pun ingat bahwa yang mengenal dengan baik pria itu adalah kakeknya.
"Eh Bro, sepertinya Kakek kenal sama beliau. Kenapa elo nggak konsultasi sama beliau saja?" ucap Juan memberi masukan.
"Elo serius Pak Handoyo kenal ama pria bangs*t itu?" tanya Deren.
"Ane yakin Bro, persiapkan dirimu. Kita temuai pria tua itu sebelum dia terbang ke Korea," ajak Juan. Seperti mendapat amunisi Deren tak menunggu waktu lagi. Dia langsung mempersiapkan dirinya untuk terbang ke Jakarta dan membicarakan masalahnya ini dengan Tuan Besar Handoyo yang tak lain adalah sahabat Ayahnya.
Bersambung....
__ADS_1