
Deren menatap tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Wanita paruh baya yang kini tengah terlelap itu, keadaanya sungguh sangat menyedihkan. kedua tangannya diikat di sisi ranjang. Rambutnya tak di sisir. Kurus, dan ... membuat sesak dada siapapun yang melihatnya.
Pria gagah ini berjalan pelan menuju bangsal di mana sang ibu mertua terlelap. Tak terasa air mata pria tampan ini menetes begitu saja. Seperti ikut merasakan penderitaan panjang yang di rasawan wanita yang telah melahirkn istrinya ini.
Deren mengelus pelan lengan Ibu Fatimah, agar wanita ini tak terkejut dengan kedatangannya.
"Bi, Bibi ... bangun," panggil Deren. Tak lupa dia pun menghapus air mata nakalnya. Kerena beberapa saat yang lalu menghiasi pipi tampannya ini.
Ibu Fatimah yang merasa tidurnya terganggu pun langsung membuka matanya. Terkejut dan takut. Spontan wanita paruh baya ini hendak berteriak, tapi Deren langsung sigap. Tanpa berniat menyakiti dia pun langsung membekap mulut sang ibu mertua.
"Stttt ... Bibi jangan teriak ya. Jangan takut, perkenalkan ... saya adalah orang suruhan paman Patrio. Beliau meminta saya untuk membawa Bibi keluar dari sini," ucap Deren. Fatimah mengubah tatapan matanya. Yang awalnya menatap penuh permusuhan pada Deren, kini menatap penuh keteduhan setelah mendengar nama suaminya di sebut.
"Eemmm ..." ucap Ibu Fatimah. Seolah meminta Deren melepaskan bekapannya. Deren pun tanggap , sebelumnya dia pun meminta Ibu Fatimah berjanji agar tak berteriak.
__ADS_1
"Bibi jangan teriak ya. Kita bicar baik-baik. Oke!" pinta Deren. Agaknya wanita paruh baya ini mengerti serta paham dengan apa yang di minta oleh pria tampan di sebelahnya.
"Bagus," tambah Deren.
Wanita yang di sinyalir terganggu kejiwaannya ini kembali menatap Deren dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Apakah Bibi, ingat Paman Patrio?" tanya Deren pada Ibu Fatimah. Wanita paruh baya mengangguk.
"Apakah Bibi, mau ikut denganku dan bertemu beliau?" tanya Deren pada wanita yang menatapnya hampir tak berkedip ini.
"Kalau sakit, Bibi bilang ya," pinta Deren. Ibu Fatimah hanya mengangguk pasrah pada Deren. Dalam hatinya ada kepercayaan sendiri pada pria muda ini. Tapi entahlah, yang jelas saat ini beliau tak melawan sedikitpun.
"Apakah Bibi bisa jalan?" tanya Deren. Wanita paruh baya itu menggeleng. Astaga, sebenarnya apa yang dilakukan orang-orang biadap itu pada wanita tak berdaya ini, Tuhan. Kembali batin pria tampan ini menangis perih. Dia tak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang dijalani wanita yang pernah membantu ibunya melahirkan adik bungsunya ini. Wanita ini tak bisa berjalan, untuk apa diikat seperti ini. Dasar semuanya gila. Ingin rasanya Deren berteriak dan menghajar siapapun manusia-manusia biadap yang memperlakukan wanita ini seperti ini.
__ADS_1
"Bibi, saya gendong ya," ajak Deren. Ibu Fatimah mengangguk saja. Ya Tuhan, Deren kembali menangis sakit. Dia malah membayangkan, jika hal ini terjadi pada ibu kandungnya atau adek kandungnya maka tak ada kata ampun untuk para orang-orang biadap itu. Dia pasti akan meledakkan satu persatu orang-orang itu.
Sebelum dia membawa Ibu Fatimah, Deren memastikan dulu seluruh lampu padam. Semua sudah dikoordinasi oleh timnya. Barulah dia menggendong wanita kurus ini.
Dibelakang pintu Rumah Sakit ini, sudah ada mereka-mereka yang siap membantu Deren membawa kabur Ibu Fatimah. Di dalam mobil sudah ada Joker dan kawan-kawan siap menghadang siapapun yang hendak menghalangi pelarian ibu Fatimah dan Deren. Sedangkan satu mobil lagi mereka siapkan khusus untuk membawa Deren dan ibu mertuanya.
Dalam perjalanan menuju pintu terahir, beberapa kali Deren meneteskan air matanya. Dia merasa seperti menggendong anak usia sekitar 10 tahun. Ringan sekali, dibawa berlari pun tak berasa. Apakah dia tak pernah makan? kurus sekali pantesan dia tak kuat berdiri apalagi berjalan, gumam Deren dalam hati.
Ibu Fatimah mencengkeram erat baju khas pasien yang Deren kenakan. Deren tahu jika Ibu Fatimah ketakutan saat ini. Takut ketahuan, atau mungkin takut pada Deren. Ia pun tak tahu.
Semua tim bekerja sangat baik kali ini. Deren berhasil membawa ibu mertuanya masuk ke dalam mobil. Sayangnya bersamaan dengan itu aksi mereka kepergok anak buah orang tua ibu Fatimah. Yang di tugaskan untuk menjaga wanita itu.
Deren dan timnya tak kehabisan akal. Joker dan Kopri serta Codot bersiap memberikan hadiah pada orang-orang bodoh itu. Sedangkan satu mobil yang membawa Deren dan ibu mertuanya berhasil meloloskan diri.
__ADS_1
Bersambung...