
Lima hari berlalu ...
Sejak memgetahui rahasia tentang dirinya tanpa sengaja, Yunita makin jadi pendiam. Dia jarang sekali berbicara pada Robet. Membuat Robet bingung. Apa sebenarnya kesalahan yang ia lakukan? Sampai Yunita terlihat malas jika diajak mengobrol seperti biasa.
"Kenapa sih, Mi? Kok kayaknya malas gitu ngobrol ama, Papi?" tanya Robet sambil bermanja-manja di samping Yunita yang sedang menyusui baby Anaya.
"Mami, nggak kenapa-napa, Pi," jawab Yunita dengan ekspresi tenang seperti biasa.
"Ah, enggak deh. Kayaknya Mami lagi mikirin sesuatu," ucap Robet mulai ngotot.
"Nggak, Pi. Mami baik-baik saja," jawabnya pelan.
"Big bos kamu mau kesini lo, Mi," ucap Robet. Big bos? Berarti, abang. Abang mau ke sini? batin Yunita.
"Benarkah!" seru Yunita seolah terkejut. Seperti biasa, Yunita selalu menunjukan sikap formal pada Deren. Merasa bahwa kedatangan Deren baginya adalah seperti kedatangan tamu besar yang harus disambut dan dihormati dengan baik. Makanya dia harus selalu menyiapkan mental. Tapi kali ini, justru Derenlah yang agaknya harus menyiapkan mental.
"He em. Bos kamu itu udah nikah lo, Mi. Papi udah kasih tahu belum ya?" tambah Robet. Kabar yang membuat Yunita harus beracting lebih baik lagi.
Karena ia sudah mengetahui kabar itu dari ponsel suaminya lima hari yang lalu.
"Kayaknya belum deh, Pi," jawab Yunita.
"Oh, belum ya. Mungkin Papi lupa, nikahnya juga belum lama sih."
"Oh," sebenarnya Yunita geram dengan kedua pria yang menyebalkan ini, baginya. Bagimana tidak? Harusnya mereka jujur. Tak usah lah berpura-pura seperti ini. Menyembunyikan kenyataan yang seharusnya bisa dijelaskan. Tak perlu ditutup-tutupi. Toh, dia bukan anak kecil lagi. Yunita terlihat kesal dalam hati.
"Istrinya cantik loh, Mi," ucap Robet. Yunita menjawab ucapan suaminya dengan tatapan mata ingin ********** hidup-hidup. Mata itu seolah mengutarakan ketidaksenangannya pada suami yang dengan sengaja memuji wanita lain. Atau lebih tepatnya Yunita cemburu.
"Kenapa, Mi?" tanya Robet bingung. Pria ini tentu saja merasa terintimidasi dengan tatapan istrinya yang menurutnya aneh.
__ADS_1
"Ngapain Papi puji-puji istri orang!" ucap Yunita ketus. Nadanya juga meninggi, beda dengan biasanya.
"Nggak, Mi. Itu loh ...." Robet tak percaya istrinya akan cemburu seperti ini. Apa lagi pada wanita yang belum pernah ditemuinya. Aneh, sungguh aneh. Iya kan?
Yunita terlihat makin kesal.
"Mami cemburu?" tanya Robet dengan muka meledek. Membuat Yunita enggan berbasa-basi lagi.
"Apaan sih! ya enggak lah! ngapain Mami cemburu?" Yunita mulai mengelak. Robet tersenyum bahagia.
"Ngapa senyum-senyum? Aneh," gerutu Yunita lagi. Sambil merapikan bajunya, sehabis memberikan ASI pada baby Anaya.
"Dih, Mami cemburu gitu," ledek Robet. Yunita enggan meladeni kekonyolan suaminya. Ia pun memilih menghindar dan membawa baby Anaya keluar kamar.
Di dalam kamar Robet tertawa. Ternyata istrinya bisa juga cemburu. Biasanya Yunita hanya akan diam atau cuek. Dia adalah wanita yang pandai menyembunyikan rasanya. Dan jujur, baru kali ini Yunita menunjukan rasa cemburu yang ia punya. Tentu saja ini sangat menyenangkan bagi Robet.
Di luar kamar, terlihat Yunita tertegun, bergeming, tak percaya dengan pemandangan di depan matanya. Pria yang disinyalir adalah saudara kandungnya ada di depan matanya.
Seandainya Deren terbuka lebih awal, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
"Ak." Suara Aisyah mengagetnya.
"Eh, iya, Dek," jawab Deren gugup. Aisyah berhasil membuyarkan lamunannya.
Kesadaran Yunita pun datang mana kala Robet juga mengejutkannya.
Dengan senyum manis Aisyah mengelus lengan suaminya. "Yang sabar," bisik Aisyah. Deren membalas bisikan istrinya dengan senyuman tertampan miliknya.
"Hay, Bro. Kapan datang?" sapa Robet sambil berjalan mendekati sahabat sekaligus abang iparnya. Tak tengaja, tatapan Deren menangkap Yunita menghapus air matanya. Dan rasa batinnya seperti teriris. Tangisan adeknya seperti tamparan baginya. Deren serius.
__ADS_1
Robet berjalan ke arahnya, dengan ramahnya pria ini kembali menyapa kakak iparnya beserta istri. Sapaan Robet mengembalikan kesadaran Deren.
"Apa kabar, brother ? Buset, pengantin baru," canda Robet. Deren menyambut uluran tangan sahabatnya itu dan mereka berpelukan. Tak lupa senyum juga mengembang di bibir kedyanya.
"Kapan sampai?" tanya Robet lagi.
"Barusan, Bro. Belum lama kok," jawab Deren. Pria ini masih mencuri pandang pada adek kandungnya. Dan Aisyah sangat paham perasaan ambigu yang dirasakan suaminya.
"Oh, oke lah. Silakan duduk," pinta Robet.
"Makasih," jawab Deren singkat.
"Ini istri?" tanya Robet.
"Iya, kenalin ini istri ane. Aisyah," jawab Deren. Robet dan Aisyah pun bersalaman sesaat.
Yunita hanya tersenyum pada Aisyah, tidak dengan Deren.
Mereka berempat pun duduk bersama di sofa ruang tamu. Sesekali Deren melirik Yunita. Wanita itu tak menyapanya seperti biasa. Apa lagi memberi hormat. Bahkan terlihat, Yunita tampak marah padanya. Membuat Deren bertanya-tanya?
"Ada apa, Mi? Kok nggak disapa Bosnya?" tanya Robet. Yunita malah cuek tak perduli. Yang disapanya malah Aisyah lagi.
"Hay, Mbak. Mbak istri Bapak ini ya?" sapa Yunita pada Aisyah. Terkesan tak sopan, tapi Yunita malah senang mempermainkan dua pria menyebalkan ini baginya.
"Iya, Mbak. Mbak benar," jawab Aisyah bingung.
Yunita kembali memberikan senyumnya pada Aisyah.
Deren hanya tersenyum sekilas karena dia merasa dicuekin sama adek kandungnya. Deren bingung.
__ADS_1
Bersambung ...