Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Demi Cinta


__ADS_3

Deren mulai naik kesalah satu rumah yang berbatasan dengan tembok pembatas rumah Aisyah. Deren agak kesulitan karena pagar pembatas rumah Aisyah dipasangi beling-beling tajam. Deren mulai mencari celah. Dipelajari satu persatu titik teraman agar dia bisa sampai dengan selamat di rumah kekasih hatinya.


Deren melihat tempat sampah di pojok rumah Aisyah. Deren pun segera memutar lampu yang ada di atas tembok tempat sampah itu. Agar suasana menjadi gelap. Tentunya agar tak ada yang bisa melihatnya.


"Untung tempat sampahnya kosong," gumam Deren.


Deren langsung masuk ke dalam tempat sampah yang mempunyai pintu kecil itu. "Astaga bau sekali!" gerutu Deren.


Deren pun berhasil masuk ke dalam pekarangan rumah Aisyah melewati pintu tempat sampah yang menghubungkan pekarangan dengan jalanan depan rumah Aisyah.


Deren merasa beruntung, di depan matanya ada kran di sana. Bau ditubuhnya sedikit menganggunya. Deren menyempatkan diri untuk membersihkan jaketnya dari bekas sampah busuk itu. Jika tidak Aisyah akan mengendusnya dan mengatai dia bau preman.


Astaga Aisyah kamu selalu bisa membuat Aak premanmu ini baper maksimal.


"Ah, masih wangi," gumam Deren kembali Deren mengendus-endus tubuhnya sendiri. Ternyata Deren sangat memikirkan apa yang Aisyah ucapkan tentangnya. Deren tersenyum sendiri kala mengingat apa yang Aisyah pikirkan tentangnya.


Deren clingukan kesana kemari, mengamati setiap sudut pekarangan itu. Mungkin masih ada orang yang masih terjaga. Kewaspadaan Deren membuahkan hasil. Kakak tiri Aisyah masih terlihat asik menonton sepak bola bersama teman-temannya di kamarnya.


"Dasar bodoh!" umpat Deren kesal.


Deren tak perduli lagi. Dia pun melanjutkan aksinya. Sialnya kamar yang dipakai menyekap Aisyah ada di sebelah kamar Tofa yang lampunya masih menyala. "Sial!" umpat Deren geram.


Deren kembali memanjat pagar dengan alat seperti perekat yang sudah dia siapkan di kantong jaketnya. Berkat kecerdikannya Deren pun berhasil sampai di balkon kamar Aisyah.


Deren mengendap-endap di depan kamar Tofa agar mereka tak menyadari kedatangannya. Bukan Deren namanya kalau tak pandai bermain dalam situasi seperti ini.


Deren tersenyum kala sampai di jendela kamar di mana Aisyah berada. Deren mengeluarkan pisau lipatnya dan mulai mencongkel jendela itu. "Ahh ... ini mudah," gumam Deren.


Dengan sekali congkelan daun pintu jendela itu pun terbuka. Deren pun masuk dengan leluasa.


Deren segera mencari keberadaan Aisyah. Mata Deren nanar, air matanya seketika menetes saat melihat gadis yang cintainya meringkuk di ranjang single itu. Keadaan Aisyah sungguh memprihatinkan. Kaki tangan Aisyah diikat bahkan mulutnya ditutup dengan lakban.


Ingin rasanya Deren meledakkan kepala orang yang memperlakukan pujaan hatinya ini seperti binatang.

__ADS_1


Deren mulai mendekati Aisyah. Deren duduk persis d depan wajah Aisyah. Dengan hati-hati Deren pun menyibak rambut gadis yang tidur meringkuk mengenaskan itu.


Deren membuka maskernya dan mencium kening, berkali kali Deren mencium kening Aisyah. Air mata sang preman penguasan jalanan itu pun tak kuasa di bendung lagi. Butiran-butiran air mata itu pun menetes di pipi bengkak Aisyah. Aisyah tersadar dia pun langsung membuka matanya.


"Eempp...emmppt," ucap Aisyah berusaha berontak.


"Ssttt, ini Aak sayang," ucap Deren, kembali Deren memeluk kekasih hatinya. Tubuh Aisyah terasa hangat membuat Deren panik.


Dengan hati-hati Deren membuka penutup mulut Aisyah.


"Aak," ucap Aisyah sambil mencoba bangun. Dengan sigap Deren pun membantunya.


"Ya ampun Dek, tega sekali mereka," ucap Deren memelas, tak pungkiri Deren juga sangat geram. Deren mencoba melepas ikatan tangan Aisyah tapi Aisyah melarangnya.


"Jangan Ak," pinta Aisyah.


"Kenapa sayang, Aak mau bawa kamu keluar dari rumah ini kekasihku hemm ?" tanya Deren heran. Sungguh tak kuasa rasanya melihat kekasihnya berada dalam keadaan seperti ini.


"Aak lupa, abah ada ditangan mereka Ak," jawab Aisyah.


"Abah kan udah lumpuh Ak, nggak usah di sekap udah nggak bisa ngapa-ngapain," jawab Aisyah. Deren hanya menatap iba pada Aisyah, nasipnya begini amat. Deren kembali mencoba melepaskan ikatan tali itu.


"Jangan dilepas Aak, Aish mohon," pinta Aisyah memohon.


"Tapi kenapa sayang?"


"Kalau Aish kabur maka mereka akan menyuntikkan racun pada tubuh abah Ak. Aish hanya punya abah Ak," rengek Aisyah. Deren langsung mengepalkan tangannya. Seketika darah Deren mendidih. Disini bukan hanya kekasihnya yang jadi sandra tapi calon ayah mertuanya pun tak luput dari sasaran mereka.


"Biadap, brengsek," umpat Deren.


"Sssttt, jangan keras keras Ak. Dengerin Aish dulu," ucap Aisyah


"Apa yang mesti Aak denger sayang. Kamu diperlakukan seperti ini tapi kamu suruh Aak tenang. Yang bener aja," ucap Deren kesal.

__ADS_1


"Ak, sepertinya mereka sudah tahu siapa Aak," ucap Aisyah. Tentu saja Deren terkejut mendengar ucapan Aisyah.


"Tahu apa?" tanya Deren.


"Aak juga mafia seperti mereka kan. Seperti orang yang membeli Aish kan?" tanya Aisyah. Mulut Aisyah gemetar mungkin dia takut pada Deren.


"Kalau mafia dalam artian di jalan yang tidak benar seperti mereka kamu salah sayang. Aak memang preman. Bahkan Aak adalah ketua mereka. Tapi demi Tuhan Aak tak pernah tunduk pada kejahatan," ucap Deren. Aisyah tersenyum lebar kala mendengar jawaban dari sang pujaan hati.


"Kita pergi dari sini ya Dek," bujuk Deren lagi.


"Maaf Ak, bukanya Aish nggak mau. Nyawa abah ada di tangan Aish Ak," ucap Aisyah. Butiran air mata Aisyah meluncur dengan derasnya. Deren tak kuasa menahan hatinya. Di dekapnya kuat kuat tubuh gadis mungil yang telah berhasil mengibrak-abrik jantung hatinya. Aisyah menangis tersedu sedu dalam dekapan pria kekar yang amat dicintainya.


"Ssttt, jangan nangis sayang. Aak nggak kuat lihatnya. Aak akan menyelamatkan kalian percayalah. Oia apakah kamu tahu siapa pria yang membelimu. Emmm ...maksud Aak yang hendak di jodohkan denganmu?" tanya Deren.


"Kalau Aish ga salah denger namanya Patrio Ak, rumahnya jauh," jawab Aisyah. Berarti bener info yang dia dapat tadi siang.


"Terima kasih sayang. Kamu bisa Aak andalkan. Ingat ya turuti dulu apa kata ibu tirimu. Jangan coba melawan tanpa Aak. Buat emaosinya selalu stabil, mengerti. Oia pakek ini!" ucap Deren sambil memberikan kalung berisi kamera pengintai seperti milik Yunita.


"Apa ini Ak?" tanya Aisyah.


"Itu yang bakalan menuntun Aak untuk menemukanmu sayang. Jika suatu hari nanti Aak kehilangam jejakmu," jawab Deren.


Telinga Deren mendengar langkah seseorang menuju kamar di mana Aisyah disekap. Deren pun segera menutup kembali mulut Aisyah dan Aisyah juga tanggap. Dia pun segara meringkuk kembali.


Deren masuk kedalam kolong ranjang di mana Aisyah berbaring.


"Hemmm ... merepotkan sekali sih mak lampir satu itu. Orang anaknya aja masih tidur," gerutu Tofa kesal. Kemudian dia pun segera keluar dan kembali mengunci pintu kamar di mana Aisyah disekap.


Deren masih diam dan dan tetap waspada. Setelah merasa aman, pelan tapi pasti Deren pun keluar dari tempat persembunyiaannya.


"Dek," panggil Deren pelan.


Aisyah pun membuka matanya. Sayangnya langkah kaki itu kembali terdengar hingga Deren pun kembali ketempat persembunyiiannya semula.

__ADS_1


Bersambung...


Like dan komen selalu Emak nanti🤩🤩🤩🤩


__ADS_2