
"Eh ... kamu !" hardik Patrio tiba- tiba pada Aisyah.
Aisyah hanya mengerutkan keningnya.
"Ck ... dipanggil bukanya jawab malah nantangin!" hardiknya lagi. Jujur saat ini Hasan ingin tertawa bagaimana tidak, dengan muka cemberut Aisyah pun menghampiri Patrio yang duduk santai di sofa.
"Sini kamu," pinta Patrio lagi.
"Saya Om," jawab Aisyah malas.
"Telinga kau budek tak?" tanya Patrio, heran dah bisa nggak sih nggak usah mengumpat, batin Aisyah kesal.
"Nggak Om, telinga Aish masih normal," jawab Aisyah.
"Duduk!" pinta Patrio lagi. Aisyah pun duduk di samping pria tinggi besar ini.
"Kau sudah dengar kan tadi, berarti kau sudah tahu siapa bapak kandung kau. Siapa pria yang buat kau. Jadi jangan macam-macam padaku kau," ucap Patrio. Luar biasa si bapak preman satu ini, suasana yang harusnya bisa haru pun bisa jadi tegang begini. Maksudnya apa coba.
"Om, denger ya. Mau sampai kapanpun abah Aish cuma satu. Yaitu abah Hasanudin yang terhormat dan tampan itu. Enak aja ... emang siapa Om, nggak ada angin nggak ada hujan. Dateng dateng ngaku ngaku bapak kandung Aish, emang Om punya bukti!" jawab Aisyah bersemangat. Agaknya keberanian anak ini memang berasal dari jiwa bapak kandungnya. Hasan yang mendegarkan perdebatan bapak dan anak itu pun hanya tertawa. Tak menyangka bahwa kejadian ini beneran bakalan terjadi di depan matanya.
"Berani sekali kau!" umpat Patrio geram.
"La ya Om yang aneh," balas Aisyah tak mau kalah. Aisyah pun memilih beranjak dan mendekati abahnya. Aisyah tak mau berdekatan dengan pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya ini.
Patrio tak tinggal diam dia pun mendekat pada mereka. "Macam mana kau didik anak ini Ndos. Kurang ajar sekali. Aku bapak kandungnya, aku orang yang membuatnya tapi dia tak nak mengakui aku sebagai bapaknya," ucap Patrio masih dalam kekesalannya. Hasan tersenyum, mereka terlihat sangat lucu.
__ADS_1
Aisyah yang kekeh menolak, sedangkan Patrio tak mengerti cara mengambil hati putrinya.
"Aaahhggg ... tak tahu lah. Pokoknya kau anaku, aku yang buat maka kau harus panggil aku Ayah mulai sekarang. Awas kau tak hormat padaku!" ucap Patrio setengah memaksa.
"Dih ... dasar preman. Sukanya maksa, ogah Aish pokoknya!" jawab Aishyah tak mau kalah.
"Ck ... kau nglawan terus ya. Tunggu kau sampai rumah. Rasakan hukumanmu," ancam Patrio lagi. Tatapan penuh permusuhan dari Aisyah pun meluncur begitu saja. Membuat Patrio makin kesal pada Aisyah.
"Dasar pria tua pemaksa. Dibilang Aish ogah," Aisyah pun tetap pada pendiriannya. Patrio terlihat bingung, karena tak bisa membujuk Aisyah untuk memanggil dan mengakuinya sebagai orang tua kandung.
Hasan pun terpaksa turun tangan. Dia tak ingin menyianyiakan kesempatan ini. Belum tentu besok dia masih bernafas dan bisa menjelaskan ini pada Aisyah.
"Aish nggak boleh gitu. Yang Om Patrio bilang itu bener. Kalau sebenarnya Aish itu adalah anak kandung beliau. Ibu Aish bernama Fatimah. Kalau Abah sama Umi hanya titipin untuk merawat Aisyah karena suatu hal. Aisyah ngerti kan maksud Abah," ucap Hasan, begitu halus, lembut dan mengena di hati Aisyah.
"Aish nggak mau Bah. Aish anak Abah," jawab Aisyah masih kekeh pada keinginannya.
"Iya, Aisyah ma tetep anak Abah. Mau sampai kapanpun Aisyah tetep anak Abah. Tapi sekarang Aisyah punya dua Abah. Abah yang ini (Hasan menunjuk dirinya sendiri) Abah kandung. Abah yang itu (Hasan menunjuk ke arah Patrio) Abah asuh," ucap Hasan mejelaskan. Patrio menatap tak terima.
"Salah Pak, kebalik yang ini yang Abah kandung. Yang buat kan," ucap Patrio tak mau kalah.
"Nah itu maksud Abah. Kebalik yang tadi," ucap Hasan. Aisyah hanya diam. Malas rasanya meladeni dua pria yang dinilainya tak mengerti akan perasaanya.
***
Deren sudab berada di Heli pribadinya. Heli peninggalan abang kandungnya ini akhirnya bermanfaat juga. Dia tak perlu capek capek menunggu pesawat komersial untuk bepergian kemanapun dia suka.
__ADS_1
"Bos, satu info yang mencengangkan," ucap Kopri berusaha menyampaikan apa yang dia ketahui.
"Apa?" tanya Deren.
"Patrio membebaskan semua sandranya!" ucap Kopri memberi tahu foto yang dikirim oleh anak buah Juan.
"Apakah ini serius, apakah diantara mereja ada Aisyah?" tanya Deren penuh harap.
"Tidak, Nona Bos masih ada ditangan mereka," jawab Kopri.
"Itu sama saja bohong," gerutu Deren geram.
Kopri dan Joker masih diam, mereka belum tahu apa yang harus mereka lakukan setelah ini.
Heli yang membawa Deren dan kawan kawannya pun mendarat selamat di lahan kosong di perkebunan milik Deren. Semua tim sudah bersiap menyambut kedatangan Big Bos mereka.
"Aku butuh denah lokasi mereka!" pinta Deren.
Yoyok pun segera memberikan denah lokasi yang Deren minta. Dengan penuh ketelitian Deren pun mempelajari lokasi yang akan dia datangi.
"Kalian semua boleh istirahat, besok malam kita main ketempat mereka," perintah Deren.
Selesai memberikan perintahnya Deren pun ke ruang rahasia untuk mempersiapkan senjatanya.
Bersambung...
__ADS_1