Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Mencari Jawaban


__ADS_3

Di sisi lain ...


Patrio tak mau berlarut-larut menunggu apa yang hendak ia ketahui. Tanpa sepengetahuan Aisyah Patrio Guran pun keluar dari Markasnya untuk mengetahui siapa sebenarnya dirinya.


Selama ini Patrio selalu menghindar dari hiruk pikuk dunia luar. Dia lebih nyaman dengan dunia yang dibangunnya sendiri. Di sana dia punya kuasa, tahta dan wanita. Karena itulah tujuan hidupnya. Dulu dia tak perduli dengan hilangnya ingatan yang dia miliki. Tetapi sejak bertemu Aisyah, Patrio malah penasaran dengan masa lalunya.


"Apakah kalian sudah mengamankan ayah dari gadis itu?" tanya Patrio pada ajudannya.


"Sudah Tuan Bos, sekarang pria itu ada di rumah sakit dan dalam pengawasan kami," jawab Ajudan Patrio.


"Heemmm, awasi terus ibu tiri dan juga kakek tiri gadis itu. Ringkus dia jika macam-macam!" kembali Patrio mengeluarkan titahnya.


"Siap laksankan Tuan Bos!" jawabnya tegas.


Patrio pun masuk kedalam Heli yang sudah disiapkan untuknya. Dia pun duduk manis sambil menata perasaannya. Gemuruh ketakutan akan jawaban yang akan dia terima nanti tentu saja menghantuinya. Ah ... terserah lah, paling tidak aku tak mati penasaran batin Patrio.


Heli yang dia tumpangi pun mengudara dan mendarat dengan sempurna di atas rumah sakit dimana Hasanudin di rawat.


Dengan gagahnya Patrio Guran pun turun dari Heli pribadinya. Beberapa ajudan dan Dokter yang mengetahui kedatangannya pun sudah bersiap menyambutnya. Patrio menatap lurus ke arah tujuannya. Dia terlihat sangat angkuh dan sombong. Seperti biasa dia tak akan perduli dengan apapun.


"Di mana ruangannya?" tanya Patrio pada Dokter yang ada di sebelahnya.


"Di sebelah sini Tuan, mari silakan masuk!" jawab Sang Dokter. Ajudan Patrio pun membukakan pintu untuk Bos Besarnya.


Patrio pun masuk kedalam ruangan di mana abah Aisyah di rawat.


"Kalian semua boleh keluar!" perintah Patrio. Para Dokter dan Ajudan itu pun keluar ruangan itu dan menunggunya di luar.


Patrio mendekati bangsal dimana abah Aisyah berbaring. Dia menatap lekat pada wajah Hasanudin. Wajah pria di depannya sungguh kurus tak terawat seperti tak makan berhari hari saja.


Hasan membuka matanya karena merasa tidurnya ada yang memperhatikannya. Mata Hasan dan Patrio bertemu. Hasan terlihat terkejut, sepertinya dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Apakah aku sudah mati?" tanya Hasan pada Patrio.


Patrio tersenyum. Mungkin ini adalah pertama kalinya dia tersenyum setelah mengalami kecelakaan. Dan hilangnya ingatannya sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Belum, anda masih hidup Tuan," jawab Patrio, dia memang selalu bersikap formal dengan siapapun yang tidak dia kenal.

__ADS_1


"Lalu kenapa aku melihat sahabatku di sini hah. Dia kan sudah lama mati," ucap Hasan menjelaskan isi pikirannya.


"Apakah kita saling kenal?" tanya Patrio.


"Tentu saja kenal, sombong kali kau bilang kita tak kenal. Tak ingat kah dulu kita sering makan nasi sebungkus berdua. Kemana kau pergi hah, istrimu menunggumu sampai mati, Dasar pria kejam!" ucap Hasanudin marah. Patrio mengerutkan dahinya, istri ?, istri yang mana? batin Patrio.


"Istri ! istri yang mana?" tanya Pario.


"Istri yang mana lagi nanyanya. Emang kau ada berapa istri hah. Dasar gila, pergi nggak balik balik. Kau ini ada ada saja, ingatanmu kemana hah, biar aku lumpuh juga otaku masih waras," jawab Hasan sambil terkekeh meskipun perasaanya sangat kesal.


"Saya memang hilang ingatan Tuan," gumam Patrio. Kembali Patrio mengangkat wajahnya dan menatap wajah Hasan yang terlihat kesal padanya.


"Benarkah begitu, lalu! apakah kau tahu siapa namaku?" pancing Patrio. Dia pun mencari kursi agar lebih nyaman mengobrol dengan pria yang mengaku kenal dengannya ini.


"Tentu saja, namamu adalah Patrio Wibisono atau Patrio Guran, Guran adalah nama yang di berikan pada ketua gang kita dulu. Kau pandai menembak makanya dikasih predikat seperti itu. Tidak sepertiku yang hanya dipekerjakan sebagai pembawa logistik hahahaha," jawab Hasan, dia malah tertawa sendiri saat mengingat masa lalu mereka.


"Benarkah begitu?" tanya Patrio, Patrio belum bisa mengingat, makanya dia belum bisa percaya begitu saja ucapan Hasan.


"Tentu saja, kau ini seperti orang hilang ingatan saja," ucap Hasan, Patrio hanya tersenyum karena pada kenyataanya dia memang telah lupa segalanya.


"Kau tahu dari mana kalau aku dirawat di sini ha?" tanya Hasan.


"Hasan! tumben kau panggil aku begitu. Bisanya kau panggil aku ndos karena rambutku yang tak mau tumbuh ini," jawab Hasan kembali terkekeh.


"Oia maaf Ndos aku lupa. Boleh kah aku tanya sesuatu Ndos?" tanya Patrio.


"Tanya saja?"


"Sedekat apa hubungan antara kita?" tanya Patrio tiba tiba. Tentu saja ini membuat Hasan terkejut.


"Maksudmu?" Hasan malah balik bertanya.


"Sejak aku mengalami kecelakaan aku hilang ingatan Ndos!" ucap Patrio. Hasan menatap tak percaya pada sahabatnya.


"Kecelakaan, hilang ingatan, benarkah !, Ohhh ... itu sebabnya kau tak pernah pulang. Inikah alasannya, kau serius?" tanya Hasanudin, tentu saja dia terkejut dan tak tahu harus berbuat apa.


"Benarkah aku punya istri, lalu dimana dia sekarang?" tanya Patrio.

__ADS_1


"Sejak melahirkan putrimu dia di bawa pulang ke Palembang," jawab Hasan jujur. Mata pria itu berkaca kaca seolah meningat kejadian buruk dalam hidupnya.


"Aku memiliki putri?" tanya Patrio lagi, dia semakin bingung antara percaya dan tidak. Hasan pun menatap tak percaya pada Patrio.


"Punya Pat, tapi aku gagal menyelamatkannya. Dia ... dia dijual oleh istri tuaku. Maaf kan aku Pat," ucap Hasan. Seketika pria tua yang terbaring lemah itu menangis menjadi jadi.


Patrio kembali berfikir, jika sahabatnya ini berkata jujur. Berarti gadis yang di kirim kerumahku adalah putriku. Hah, feelingku tak meleset. Ya Tuhan apa ini, batin Patrio Guran, si pria bengis itu tiba tiba merasa jiwanya bergetar hebat.


"Apa yang sebenarnya terjadi Ndos, kenapa aku seperti ini?" tanya Patrio pada sahabatnya. Patrio meletakkan kepalanya dibangsal dimana sahabatnya berbaring lemah.


Perasaanya tercapur aduk tak karuan.Saat ini yang dia merasa sangat hancur, lebih hancur dari pertama kali dia menyadari bahwa ingatannya telah hilang.


"Aku tak tahu Pat, aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. malam itu dia datang membawa bayinya dan menitipkan pada Ratih istriku. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi aku masih menyimpan surat yang dia tulis untukmu. Putriku yang menyimpannya. Sayangnya aku tak tahu di mana putriku saat ini Pat," jawab Hasanudin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, yang tahu semuanya adalah istrinya.


"Putrimu ada bersamaku Ndos, dia aman!" jawab Patrio. Mata Hasanudin terbelak tak percaya. Mungkinkah pria tua yang dimaksud Titin adalah dia.


"Apa maksudmu?" tanya Hasanudin. Patrio menatap lemah mata sahabatnya.


"Iya dia ada bersamaku, putrimu ... maksudku putriku ... eh tidak, putri kita ada bersamaku. Dia aman, dia ada rumahku!" jawab Patrio terbata bata.


"Apakah pria jahanam yang di maksud Istri tuaku adalah kau, Pat?" tanya Hasanudin tak percaya.


"Mungkin !" jawabnya ragu.


"Oh Tuhan, aku tak percaya ini. Apa kau sudah menyentuhnya?" tanya Hasanudin dengan nada tingginya. Wajarlah Hasanudin bertanya seperti itu, secara Titin selalu mengatakan bahwa pria yang hendak dijodohkan dengan Aisyah adalah pria yang tak punya hati.


"Belum!" jawab Patrio jujur. Hasanudin menghela nafas lega.


"Akan ku congkel matamu jika kau berani menyentuhnya!" ancam Hasanudin. Ingin rasanya Patrio tertawa, bagaimana bisa dia mencongkel matanya untuk bangun pun dia butuh bantuan orang lain.


"Jangan tersenyum, jangan meremehkanku!" bentak Hasanudin.


"Iya iya Ndos, tak usah marah lah. Maukah kau membantuku mengembalikan ingatanku?" tanya Patrio sungguh-sungguh.


Hasanudin diam, mulutnya terkunci. Otaknya kembali berfikir keras, mencerna apa yang terjadi dihadapannya saat ini. Dia masih bingung, ini nyata ataukah hanya mimpi. Bertemu lagi dengan pria yang sudah dianggapnya mati, terlebih dia harus menjelaskan pada Aisyah tentang kenyataan hidup yang dia tutup rapat demi keselamatan sang buah hati.


Bersambung...

__ADS_1


CA," Yang udah nyumbang alur makasih banyak ya, semoga cerita ini tetap menarik buat kalian simak. Yang masih punya unek unek boleh banget isi di kolom komentar, mari kita bikin cerita Aak Deren dan Neng Aisyah ini bisa berkesan di hati...love love buat kalian😘😘...makin banyak like dan komen emak akan lebih rajin lagi upadate. Oke😍."


__ADS_2