Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Aku Malu


__ADS_3

Yudha dan Arumi sudah sampai di rumah sakit di mana Aisyah dirawat. Sekarang mereka sedang berjalan menuju alamat kamar yang disebutkan Deren tadi.


"Kamarnya di mana, Bi?" tanya Arumi.


"Deren bilang tadi kamar VIP nomer satu, Bund," jawab Yudha.


"Kalau nomer satu ya ini, Bi," balas Arumi sambil menunjuk salah satu pintu dari deretan pintu yang ada di lorong yang mereka lewati.


"Bunda, bener," jawab Yudha. Yudha pun penggandeng istrinya dan mulai mengetuk pintu kamar itu.


Dari dalam kamar terdenger seseorang berjalan dan membukakan pintu untuk mereka. Saat pintu dibuka mereka pun saling melempar senyum.


"Hay, Bro. Apa kabar?" tanya Yudha.


"Baik, Bro," jawab Deren. Mereka pun berpelukan. Tak lupa Deren juga menyapa istri sahabatnya.


"Mbak Rum, apa kabar," sapa Deren.


"Baik, Uncle. Itu siapa," jawab Arumi sambil menunjuk gadis yang meringkuk di ranjang pasien.


"Someone-nya Uncle tato, Bunda," jawab Yudha sambil berbisik.


"Ooo," saut Arumi. Deren hanya tersenyum.


"Mari masuk!" ajak Deren.


Yudha dan Arumi pun masuk ke ruangan itu. Deren mempersilakan mereka duduk di meja makan yang tersedia di sana.


"Dia sakit apa?" tanya Arumi.


"Seperti Mbak Arumi waktu itu," jawab Deren.


"Sepertiku?, memangnya aku kenapa?" tanya Arumi bingung.


Deren pun menceritakan detail apa yang di alami Aisyah. Bahkan, semua masalah yang sedang dihadapinya pun dia ceritakan pada Arumi dan Yudha.


"Ya Tuhan, kasihan sekali dia," ucap Arumi.


"Tadi pas di lokasi dia masih mau ngomong. Masih mau cerita, tapi pas habis pingsan dan mendapat penanganan dia jadi seperti itu. Kata dokter dia shock berat," jawab Deren sedih.

__ADS_1


"Yang sabar, Bro. Semoga nanti sama Arumi dia mau ngomong," balas Yudha berusaha memberi kekuatan pada Deren.


"Eh, ngomong-ngomong Uncle Tato tampan lo sekarang. Cie cie, udah berani pacaran lagi," goda Arumi sambil genit-genit di depan Deren. Deren hanya tersenyum malu tapi tidak dengan Yudha. Yudha melotot tak percaya, istrinya bisa segenit ini.


Yudha pun memegang kening istinya, masih tak percaya dengan tingkah sok ABG wanita yang selalu setia mengidolakannya ini.


"Bunda, nggak panas. Baik baik aja, Bunda kenapa?" tanya Yudha kesal, sayangnya Arumi malah santai menguji ketampanan sahabat suaminya ini.


"Ih, apa sih Abi ni. Ya wajar lah, Bunda kan perempuan. Lihat Uncle yang dulunya begitu, terus tiba-tiba berubah jadi tampan gini. Gimana Bunda nggak jedak jeduk, Abi," jawab Arumi jujur sambil memegang dadanya. Dibalik candaan Arumi terdapat niat membuat Yudha cemburu.


"Menyesal Abi ajak Bunda kesini. Tahu gitu tadi Abi sendiri aja kesini," jawab Yudha kesal.


"Bro, jangan dengerin bini elo. Anggap saja dia lagi sakit mata," ucap Deren agar tak ada pertengkaran suami istri yang bakalan bikin dia tambah sakit kepala.


"Emang lo, ngeselin. Coba jangan tampan-tampan, bini ane jadi kesemsem kan ama elo," canda Yudha agar Deren sedikit terhibur dengan kedatangannya dan istri.


"Mbak Rum, kalau Mbak nggak keberatan. Mau kah Mbak Rum bantu saya?" tanya Deren.


"Bantu apa, Uncle?" tanya Arumi.


"Tolong tanyakan padanya, apa yang sebenarnya dia pikirkan. Dia rasakan dan dia mau, Mbak," jawab Deren sesuai apa yang ada dipikirannya.


"Bunda, bener. Sebaiknya kita tunggu di luar, Bro," ajak Yudha.


"Uncle, nama si someone siapa?" tanya Arumi.


"Aisyah," jawab Deren.


"Oke," balas Arumi


"Aisyah?, kayak nggak asing," ucap Yudha.


Deren hanya melirik Yudha dengan senyum malu-malu. Dia kembali ke sifat awalnya, tertutup. Deren tahu nama itu mungkin tak asing bagi Yudha. Mengingat Deka juga pernah meledeknya saat Yudha dirawat sehabis kecelakaan dulu.


"Ya udah kalian keluar gi, biar Bunda coba bicara sama Neng Aisyah," suruh Arumi. Kedua pria itu pun menurut, mereka pun memilih keluar dari ruangan itu.


Arumi pun mendekati ranjang Aisyah, mengelus lengan wanita yang terlihat melamun ini. Aisyah mengosongkan padangannya. Seperti orang yang mempunyai beban hidup yang sangat berat.


"Hay, Mbak Aisyah," sapa Arumi. Aisyah hanya menatap Arumi sekilas.

__ADS_1


"Kenalin aku adalah istri dari sahabat kekasihmu, si Deren," ucap Arumi memperkenalkan dirinya.


Aisyah masih diam.


"Jangan sedih, kami semua menyayangimu, Mbak Aisyah. Semua akan baik-baik saja. Aku juga pernah kok ngalamin apa yang pernah kamu alamin. Disekap, disiksa dan hampir mendapatkan pelecehan seksual juga," ucap Arumi kembali mengelus lengan Aisyah.


"Kamu pasti bisa melewati ini, Mbak Aisyah. Aku yakin kamu wanita yang kuat," ucap Arumi kembali memberikan dorongan moral pada Aisyah.


Bersyukurnya Aisyah mau tersenyum pada Arumi walau sedikit.


"Apakah, Mbak Aisyah menginginkan sesuatu?" tanya Arumi.


"Apakah, Mbak mau membelikannya untukku?" tanya Aisyah balik.


"Tentu saja, Mbak Aisyah mau makan apa?" tanya Arumi.


"Saya nggak mau makanan Mbak, tapi saya mau hijab dan baju tertutup. Saya malu Mbak, kalau Aak lihat saya dalam keadaan seperti ini," jawab Aisyah sesuai isi hatinya. Kini Arumi paham jika gadis ini terbiasa menutup auratnya.


"Baik lah, Mbak. Aku akan membelikan apa yang Mbak Aisyah mau. Tapi jangan diam lagi ya, katakan apa yang Mbak mau. Kasihan Aak Deren dia khawatir," ucap Arumi memberitahu keresahan Deren akan kediaman Aisyah.


"Saya malu Mbak, saya nggak bisa jaga diri saya buat Aak," jawab Aisyah kembali menangis, sepertinya dia mengingat lagi bagaimana para preman itu menjamahnya.


"Apakah mereka sempat melakukannya?" tanya Arumi.


" Tidak Mbak, tapi mereka pegang ini, memaksa saya seperti ini," ucap Aisyah sambil mempraktekkan apa yang para preman itu lakukan padanya. Tangis Aisyah kembali pecah membuat Arumi tak tega. Dia pun segera memeluk Aisyah agar gadis ini lebih tenang.


"Sstt ... semua akan baik baik saja Mbak Aisyah. Jangan takut lagi, Deren pasti akan melindungimu. Semua akan baik baik saja. Percayalah," ucap Arumi kembali berusaha menenangkan kekasih sahabat suaminya ini.


"Akankah Aak mau menerima Aish yang kotor ini, Mbak?" tanya Aisyah.


"Kamu nggak kotor sayang, kamu masih suci percayalah padaku. Deren mencintaimu, aku yakin itu. Dia pasti akan menerimamu apa adanya, walaupun kamu ternoda sekalipun. Tapi kan mereka belum sempat melakukannya," ucap Arumi berusaha membangkitkan rasa percaya diri Aisyah.


"Saya takut, Mbak. Kenapa banyak orang orang yang jahat sama saya. Salah saya apa?" Aisyah malah mempertanyakan sesuatu yang Arumi belum pahami. Tapi Arumi berusaha mencerna apa yang gadis ini pertanyakan padanya. Mungkinkah bukan hanya satu orang yang menyakitinya, kenapa dia bertanya seperti itu, aku harus tanyakan ini pada Deren, batin Arumi.


"Sabar ya Mbak, semua pasti berlalu. Semua pasti baik baik saja. Aku akan membelikan apa yang Mbak Aisyah mau. Sekarang istirahatlah, jangan pikirkan hal yang menyakitimu. Kami semua akan membantumu keluar dari masalahmu. Apa kamu percaya pada kami?" tanya Arumi. Ucapan Arumi barusan adalah usahanya untuk membangkitkan kembali semangat Aisyah.


Gadis itu pun mengangguk setuju. Arumi berhasil membuat Aisyah mengeluarkan apa yang dia rasakan. Tapi Arumi masih merasa memiliki PR untuk mencari tahu bagaimana Aisyah bisa memiliki rasa bahwa semua orang jahat padanya. Semangat bantu Mbak Aish ya Mbak Rum.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2