
Aisyah tak mau kehilangan kehangatan suaminya lagi. Begitu mendengar Deren membuka pintu dia pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung mengejar sang suami.
"Aak, jangan pergi!" teriak Aisyah. Deren pun menghentikan langkahnya. Pria tampan ini diam tanpa menoleh ke arah suara. Aisyah berlari mengampiri sang suami. Memeluk erat pria pujaan hatinya ini. Aisyah menangis sambil meyembunyikan wajahnya dipunggung pria yang berhasil membuatnya merindu ini.
" Jangan pergi ! Aku mencintaimu, jangan siksa aku seperti ini, Ak. Apa gunanya kita menikah kalau kita saling menjauh seperti ini," ucap Aisyah dalam tangisnya. Wanita cantik ini pun enggan berbohong lagi. Dia pun mengeluarkan semua isi hati dan apa yang menganggu pikirannya.
Deren tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Pria tampan ini sekarang mengerti bahwa ketidakpekaannya lah yang telah menyiksa sang istri.
Deren membaikkan tubuhnya. Mencerna setiap kata yang barusan ia dengar. Ini gila, bukan istrinya yang bersalah tapi dirinya. Dirinya yang kurang belajar mengerti wanita, tetapi berani menikahinya. Aneh sekali, bukan?
Deren, pria tampan berperawakan tinggi besar ini tak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Selama ini dia menganggap apa yang dia pikirkan adalah benar. Ternyata dia salah, istrinya sangat menginginkannya. Menginginkan kebersamaan mereka.
Kali ini pria tampan ini tak ingin kehilangan kesempatan langka ini. Dia pun segera meminta maaf pada sang istri. Bahwa ketidakpekaannya lah yang membuat semuanya menjadi bodoh dan membingungkan.
Deren memeluk erat sang istri, mengelus rambut panjang itu. Mencium apa yang dekat dengan bibirnya. Dan mengelus punggung sang istri, agar wanita ini merasa tenang.
"Maaf kan Aak, sayang. Aak memang kurang mengerti kamu. Aak minta maaf ya," ucap Deren mengalah. Tangisan wanita cantiik ini makin menjadi. Tangisan ini tercipta karena kesal, sedih, senang atau geram Aisyah sendiri pun tak tahu. Pokoknya dia hanya ingin menangis untuk mengeluarkan segala rasa yang ada di pikirannya.
"Sudah sayang. hati Aak sakit kalau kamu nangis gini heem. Aak minta maaf," ucap Deren lagi, kembali mencoba membuat sang istri tenang dan memaafkan kebodohannya tentunya.
"Aak jahat."
"Iya, Aak jahat. Maaf, ya."
__ADS_1
"Aak menyebalkan."
"Iya Aak menyebalkan. Maaf, ya."
"Kenapa Aak ninggalin Aish terus?"
"Maaf sayang, Aak pikir kamu masih belum siap,"
"Kalau Aish belum siap, ngapain Aish menyetujui pernikahan kita?" tanya Aisyah sambil menatap mata sang suami. Air mata kembali meluncur deras di pipi cantiknya. Deren pun tanggap, mengelap air mata itu. Rasanya, melihat air mata yang keluar dari mata indah itu, hatinya seperti tertusuk ribuan jarum, sakit sekali.
"Maafin Aak ya, yang kurang peka ini sayang. Maaf, ya." jawab Deren.
"Aak, bodoh. Bukan Aish yang bodoh. Aak yang nggak ngerti-ngerti," ucap Aisyah kesal. Deren malah tersenyum, rasanya gemas sekali saat melihat istrinya kesal. Segitu saja kah marahnya, astaga.
Asiyah semakin kesal pada Deren, mood-nya pun kembali ke mode ngambek, kesal, marah dan tak tahu lah.
Aisyah melepaskan tubuhnya dari dekapan sang suami dan memutuskan kembali masuk ke kamarnya. Deren pun bertambah bingung, "Astaga, salahku di mana lagi?" tanya Deren pada dirinya sendiri. Pria ini memang minta di pukul, aahhhh .... sudahlah.
Aisyah malas berdebat dan menjelaskan isi hatinya pada pria tak peka ini. Wanita cantik ini memilih merebahkan tubuhnya di ranjang kamar itu. Memakai selimutnya dan menangis menjadi-jadi serta menumpahkan semua rasa yang tak mampu dia terjemahkan dalam ucapan.
Deren, pria tak peka ini malah berkacak pinggang dan tertawa kecil melihat tingkah konyol sang istri. Ya baginya tingkah Aisyah yang ini begitu konyol dan kekanak-kanakkan. Cute dan menggemaskan sekali.
Tak membuang waktu lagi, dia pun menyusul istrinya ke ranjang. Memeluk penuh kasih sayang wanita yang tengah merajuk ini. Tanpa Aisyah sadari, pria tampan ini telah membacakan doa pertanda dia siap menjalankan tugasnya sebagai seorang suami. Memberi nafkah batin pada sang istri.
__ADS_1
Deren membalikkan tubuh sang istri agar menghadapnya. Pria berhati lembut ini tak berucap apapun lagi. Karena setiap kata yang keluar dari bibirnya akan dinilai salah oleh sang istri.
Sinar mata Deren sungguh indah, Aisyah menyukainya. Mereka saling menatap dan melempar senyum. Aisyah merangkul leher Deren, memeluk erat pria pemilik hatinya ini. Berusaha mengatakan bahwa, jangan pergi jangan jauhi aku, aku membutuhkanmu. Entahlah, mungkin saat ini itulah yang ada di hati Aisyah.
Deren membalas pelukan sang istri dengan dekapan penuh cinta. Memberikan kecupan mesra di kening cantik ini.
"Aak mencintaimu istriku, sangat. Aak tak ingin menyakitimu. Itu sebabnya Aak menjauh, karena Aak takut tak bisa menahan hasrat untuk tidak memilikimu," ucap Deren.
"Aku istrimu Ak, Aak berhak atasku. Kita suami istri bukan? kita saling mencintai. Kita menikah bukan karena perjodohan. Lalu kenapa kita harus menjaga jarak? Diantara kita memang ada sedikit masalah, tapi jangan jadikan masalah itu sebagai jurang pemisah antara kita. Aku ingin kita selalu bicara dari hati ke hati. Jadikan aku pelengkap disetiap kekuranganmu, jadikan aku sebagai patner dalam setiap keresahanmu. Aku ingin itu suamiku, jangan jauhi aku lagi. Atau ... lebih baik kita berpisah saja," jawab Aisyah panjang lebar. Sesaat Deren terdiam. Tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
Deren tak menyangka bahwa saat ini dirinya seperti berada di ruang sidang. Ternyata dibalik sikapnya yang lugu, Aisyah adalah wanita yang penuh perhitungan dan cerdas.
"Maafkan suamimu yang bodoh ini sayang. Maaf ya," ucap Deren. Mata pria ini ikut berkaca-kaca. Kini dia mengerti dan paham apa yang istrinya inginkan.
"Aku Deren Manopo sangat mencintaimu Aisyah Nur binti Patrio Wibisono. Maukah kamu menjadi istriku yang sebenarnya. Maukah kamu menjadi istri lahir batinku. Bersediakah kamu menjadi dan menjaga anak anakku kelak heem?" tanya Deren lembut, dan penuh makna.
"Aku mau suamiku," jawab Aisyah sungguh-sungguh.
Hati mereka telah menyatu, kesalahpahaman telah mereka lunturkan. Tembok pemisah antara mereka telah lancur. Lalu? apa lagi yang mereka tunggu? Saat ini detik ini Deren pun sudah memantapkan niatnya, untuk menjadi suami yang sesungguhnya bagi Aisyah Nur wanita yang telah sah menjadi istrinya beberapa hari yang lalu ini.
Bersambung.....
Like dan komennya tetap Emak tunggu🦂🤩😍
__ADS_1