Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Kita Hadapi Ini Bersama


__ADS_3

Aisyah merasa bersyukur karena apa yang dia takutkan tidak terjadi. Deren malah bersikap baik dan bijak pada kenyataan yang dia alaminya saat ini.


Awalnya Aisyah takut kalau Deren akan berubah padanya. Membencinya, menolak dan kemungkinan paling parah adalah meninggalkannya sendiri.


Deren melepas dekapannya dan membantu Aisyah merapikan hijabnya. Dia tersenyum seolah memberikan semangat pada sang kekasih.


"Jangan sedih lagi, percayalah semua akan baik-baik saja. Kita hadapi ini sama-sama, oke!" ajak Deren. Mata Aisyah berkaca-kaca, dalam hati gadis ini dia sangat bersyukur karena Deren sangat mengerti akan dirinya.


"Aish, harus membalas kebaikan Aak dengan apa?" tanya Aisyah serius. Sayangnya Deren malah menanggapinya dengan lelucon.


"Kalau sekarang belum saatnya, Dek. Nanti kalau kamu udah jadi pasangan halal Aak aja, baru kamu bales." jawab Deren tenang. Astaga dia ngomong apa sih, selalu deh nggak mau to the poin. Mbulet koyo benang ruwet, gerutu Aisyah dalam hati.


"Emang kalau Aish udan jadi istri Aak? Aak mau ngapain?" tanya Aisyah lugu. Astaga anak ini, Deren pun melirik aneh ke arah Aisyah.


"Dek, bisa nggak sih kamu tu jangan oon oon amat. Namanya rumah tangga, udah halal. Apa yang akan mereka dilakukan selain itu," ucap Deren sambil menekan kata itu. Kembali teka teki aneh Deren luncurkan. Aisyah menatap Deren dengan muka bingung. Sepertinya gadis ini memang lemot.


"Memangnya apa yang mereka lakukan, Ak?" tanya Aisyah tanpa rasa bersalah.


Ya Tuhan gadis ini, haruskan aku jelaskan lebih detail. Ck ... menciumku saja berani. Hubungan halal suami istri aja tak paham. Mimpi apa aku punya calon istri kelewat lugu begini, batin Deren.


"Kok Aak diam? ya udah lah, berarti Aish nggak perlu balas budi!" jawab Aisyah kesal. Ngambek?, cepet bener ngambeknya. Kalau di jawab jujur bakalan lebih parah lagi ngambeknya, mending diam saja kau Ak. Pilihlah jalur yang aman, saran Emak.


"Dek, Aak boleh nanya lagi nggak?" tanya Deren.


"Boleh!"


"Kamu tahu nama ibu kamu nggak?"


"Tahu Ak, namanya Fatimah orang Palembang," jawab Aisyah.


"Oke, eemm ... Apakah kamu nggak penasaran pengen tahu di mana ibumu?" tanya Deren.


"Pengen Ak, jujur Aish sebenarnya pengen minta tolong sama Aak sekali lagi. Buat mencari ibunya Aish," jawab Aisyah sesuai keinginan hatinya.

__ADS_1


"Baiklah tak masalah," jawab Deren. Mereka diam sesaat.


"Dek, Aak ingat, Bang Joker kan habis ngobrol ama abah. Mungkinkah abah menceritakan sesuatu padanya?" tanya Deren pada Aisyah.


"Kapan Ak?"


"Sebelum Aak datang ke sini," jawab Deren.


"Menurut Aak, gelagat Bang Joker gimana?" tanya Aisyah lagi. Siapa tahu dia bisa menarik kesimpulan dari jawaban Deren.


"Sepertinya Bang Joker mengetahui sesuatu deh. Soalnya dia juga yang bikin strategi penyerangan ke markas King Kobra!" jawab Deren.


"Coba Aak nanya aja, soalnya kelihatannya Om Patrio juga dekat sama Bang Joker. Sepertinya mereka saling kenal juga Ak. Aish curiga, soalnya Om Patrio nggak akan mengampuni pembohong. apa lagi penyusup. Tapi lain ama Bang Joker, mereka berbeda, aneh aja gitu ....Om Patrio bukan pria yang mudah memaafkan. Kalau ada mereka yang berani menghianatinya, bisa langsung di-dor terus dilempar ke kandang macan atau buaya di belakang rumah," ucap Aisyah dengan muka seriusnya. Deren yakin Aisyah tak pandai mengarang cerita. Gadis ini selalu apa adanya.


"Kamu serius?"


"Duarius, Aak!"


Mereka pun diam. Aisyah masih menunggu dan mengenggam erat tangan pria tampan di depannya. Tak tahu kenapa memegang tangan itu terasa begitu indah dan nyaman baginya.


Deren membiarkan Aisyah melakukan apa yang dia mau. Aisyah terus menggambar di telapak tangannya sesuai garis tangannya. Sepertinya tempat itu jadi tempat favorit buatnya. Bahkan, garis-garis yang ada di jari-jari Deren juga tak luput dari goresan jarinya.


"Kamu ngapain sih, Dek?" tanya Deren, Aisyah masih saja menggoreskan jarinya.


"Aish berharap di goresan tangan ini ada nama Aisyah Nur yang bakalan jadi makmum dunia ahiratnya Aak," jawab Aisyah. Jawaban yang sama sekali Deren sangka. Dia berani berharap sejauh itu. Dan ini fantastis bukan.


"Insya Allah, Dek. Kita ikhiar aja, jangan putus doa. Semoga cinta kita direstua orang tuamu dan Ilahi pemilik hidup," jawab Deren. Aisyah pun mencium tangan pria itu.


"Aish pengen terus ada disamping Aak. Di dunia dan ahirat Ak," ucap Aisyah. Deren menatap wajah cantik itu tentu saja dengan senyuman tampannya. Beum sempat dia membalas ucapan Aisyah, di sebrang sana ada Bang Joker yang sudah menjawab panggilan teleponnya.


"Hallo, Bro!" jawab Joker.


"Bang, tolong ke rumah sakit ada yang harus kita bicarakan," balas Deren.

__ADS_1


"Oke," jawab Joker. Deren dan Joker pun mengahiri penggilannya.


Deren dan Aisyah kembali melanjutkan perbincangan mereka.


"Kamu kapan mau Aak halalin?" tanya Aisyah.


"Nanti kalau Aak ketemu Om Patrio aja baru bilang, Aish ma siap Aak ajak kapan aja," jawab Aisyah sambil tersenyum malu. Dia manis sekali saat menggigit bibirnya. Duh, otak deren jadi mesum kan. Dari senyuman aneh itu Aisyah tahu kalau saat ini Aak premannya dalam mode mesum.


"Okelah, siapa takut!"


"Heeem, nanti ketemu Om takut!" ledek Aisyah.


"Nggak ada sejarahnya Deren Manopo takut sesuatu," jawab Deren penuh percaya diri.


"Bener, nanti Aish suntik vitamin ya," ucap Aisyah. Spontan Deren langsung menarik tangannya yang sedari tadi di pengang Aisyah.


"Enggak, apaan. Vitaminnya Aak minum aja, nggak mau Aak kalau lihat dia hiii," ucap Deren ngeri.


"Hahaha ... katanya nggak takut sesuatu tadi," ledek Aisyah, tawanya semakin kencang mana kala Deren memilih menjauh darinya. Dan memilih duduk manis di sofa. Muka ketakutan Deren membuat Aisyah merasa sangat lucu.


***


Palembang ....


Di sebuah ruang bawah tanah yang sangat gelap, hiduplah seorang wanita yang sedang menjalani hukumannya. Wanita ini sudah menghuni ruangan ini lebih dari dua puluh tahun. Dia terpaksa dikurung karena dinilai gila oleh keluarganya.


Bagi keluarga besar Susanto, Fatimah adalah aib dan wajib disembunyikan.


Fatimah memang sengaja berpura-pura gila agar pernikahan yang orang tuanya rencanakan tidak terjadi.


Fatimah masih memiliki keyakinan penuh bahwa suatu hari suaminya akan datang menjemputnya. Meskipun berkali kali keluarganya mengatakan bahwa suaminya telah tiada. Tapi Fatimah tak mudah percaya, nalurinya mengatakan bahwa Patrio masih hidup. Fatimah yakin seyakin yakinnya bahwa Patrio akan datang, menjemputnya dan memeluknya lagi seperti dulu. Entah itu di kehidupan ini atau di kehidupan nanti. Yang jelas Fatimah tak ingin sang suami digantikan oleh siapapun.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2