
Aisyah sudah cantik dengan baju baru yang dibelikan oleh Arumi. Arumi sengaja membelikannya beberapa stel baju dan hijab senada. Dia juga membelikan Aisyah daleman yang pas buat gadis itu.
"Sekarang kamu udah cantik, udah menutup aurat juga. Nggak pa-pa kan kalau Aak mu masuk?" tanya Arumi.
"Aish masih malu Mbak, sama aak," jawab Aisyah jujur.
"Kenapa?"
"Aak terlalu sabar dan baik ngadepin Aish," jawab Aisyah apa adanya.
"Kamu beruntung Aisyah. Calon suamimu mencintaimu sebelum kalian menikah. Tidak sepertiku, yang harus berjuang mendapatkan hati sang suami. Kamu tidak tahu kan liku kehidupanku, perih Aisyah. Percayalah, kamu beruntung bisa dapetin hati Aakmu. Jangan sia-siakan dia, balaslah cintanya dengan cintamu juga. Aku yakin kekuatan cinta kalian akan meruntuhkan rintangan yang akan kalian hadapi nanti," ucap Arumi sambil menatap memelas di depan Aisyah.
"Mbak bilang apa tadi, berjuang mendapatkan hati suami Mbak. Emang kalian dijodohkan?" tanya Aisyah penasaran dengan kisah Arumi dan suaminya. Arumi tersenyum mendengar pertanyaan spontan dari Aisyah.
"Iya Aisyah, kami dijodohkan. Awal kami menikah dia sudah bilang kalau nggak bisa mencintaiku.Tapi sikapnya begitu baik padaku, hingga aku pun jatuh cinta padanya. Aku sangat mencintainya. Aku menyadari kalau aku salah. Tidak paham akan perasaanya yang tidak bisa menerimaku saat itu. Padahal dia selalu menghindar, jarang ngomong dan ya ... gimana sih kalau orang nggak cinta," ucap Arumi menceritakan bagaimana dia berjuang mendapatkan hati Yudha.
"Mbak, hebat sekali bisa hidup dengan pria seperti itu," ucap Aisyah kagum.
"Bukan hebat Aisyah, tapi bodoh. Aku lengah, aku pikir dia sudah mencintaiku mengingat kebaikkannya dan dia tetap melaksanakan kewajibannya sebagai suami. Memberiku nafkah lahir batin juga. Hingga suatu hari, tepat di hari kelahiran putri kami yang kedua. Aku mendapati kenyataan yang teramat pait Aisyah. Aku melihatnya bersama wanita lain," ucap Arumi lagi. Air mata kesedihan wanita cantik ini tak terbendung lagi. Aisyah menatap tak percaya.
"Mbak, nglihat suami Mbak ama cewek lain dimana?" tanya Aisyah, ternyata Aisyah tak mau setengah- setengah mengambil hikmah dari perjalanan cinta Arumi dan Yudha.
"Aku melihatnya di lampu merah. Mobil kami berpas-pasa. Aku pun awalnya tak percaya Aish, aku menghubunginya berkali-kali tapi selalu ditolak. Aku pun bertanya-tanya, kenapa? ada apa?. Dan Tuhan memberiku jawaban seperti itu.Kamu bisa bayangin kan, aku lagi mules dan mendapati keyataan seperti itu, Wiiihh ... rasane koyo arep mati Aish. Andai nggak ingat anak pertamaku yang sangat mencintai abinya, mungkin aku bisa lepas kendali kali. Tapi kedua anakku memberiku kekuatan yang luar biasa," tambah Arumi lagi. Memurut Aisyah, Arumi adalah wanita yang luar biasa hebatnya.
"Ya Tuhan, istrinya mules dia malah begitu. Bener-bener suami laknat. Awas aja kalau Aish ketemu, Aish lemparin batu biar kapok," balas Aisyah geram.
"Loh ya jangan kalau sekarang. Sekarang dia udah baik Aish. Dia udah berubah ... tak cukup sampai disitu Aisyah. Rasa sakit kembali aku rasakan saat
dia mengatakan kejujuran hatinya. Bahwa, dia tak bisa menerimaku dihatinya. Kamu bisa bayangin kan betapa sakit dan perihnya saat dia mengatakan itu. Aku sudah mendampinginya selama tujuh tahun lebih Aisyah. Habis melahirkan pula, baru keluar rumah sakit. Dia meminta izin menikah lagi," tambah Arumi.
"Apa!!!!" pekik Aisyah. Arumi terkejut.
"Aduh terkejut aku, Aish," ucap Arumi sambil memegang dadanya.
__ADS_1
"Dan apa jawaban, Mbak Rumi. Apakah mengizinkan pria gila itu menikah lagi?" tanya Aisyah kesal. Arumi tahu kalau saat ini Aisyah pasti kesal pada Yudha. Bukan hanya Aisyah, yang membaca kisah mereka pasti kesal juga kan. Ayo ngaku ngaku hehehe.
"Kamu kenapa Aish, kamu kesal?" canda Arumi. Arumi malah tertawa melihat ekpresi kesalan di wajah ayu Aisyah.
"Tentu saja Mbak. Yang bener aja, aku bukan hanya kesal tapi juga marah, Mbak," jawab Aisyah jujur.
"Baiklah, baiklah. Stop sampai di sini ceritanya. Nanti kapan-kapan kita sambung lagi. Kamu lucu sekali kalau kesal, udah ya aku panggil Aakmu. Sekalian aku pamit. Kasihan si baby kalau aku kelaman di mari. Nanti kalau udah sembuh Aisyah main ya ke rumah. Ajak juga tu Uncle tato, bilang padanya kalau Ditya kangen. Ingat Aish bahwa disetia hubungan diperlukan kejujuran, komunikasi yang baik dan yang oentin adalah keterbukaan, jangan pernah ada rahasia. Mengerti! " ucap Arumi sambil bersiap pulang.
"Iya Mbak, makasih banyak ya. Nanti Aish pasti main. Aish janji," ucap Aisyah berjanji pada Arumi. Mereka pun berpelukan dan Arumi pun pamit.
***
Di luar ruangan ada Deren yang murka menerima kabar bahwa Ayunda belum mau membuka suaranya. Bahkan, wanita itu memilih mati katanya.
"Bagaimana?" tanya Deren pada Kopri.
"Maaf Bos, wanita laknat itu belum mau membuka suaranya!" jawab Kopri.
"Baik Bos," jawab Kopri. Mereka pun mengahiri panggilannya.
Deren pun kembali menghampiri Yudha yang masih setia menunggunya.
"Apa ada masalah Bro?" tanya Yudha.
"Tidak semua aman," jawab Deren mencoba menutupi apa yang sedang dia dan timnya kerjakan.
Arumi keluar dari ruangan Aisyah dan menghampiri mereka.
"Bi, pulang yuk. Kasihan anak-anak. Kasih kesempatan buat Uncle biar bisa berduaan ama Neng Aish," ajak Arumi. Deren hanya tersenyum mendengar lelucon yang Arumi ucapkan.
"Ayolah Bun, udab baikan kan sekarang?" tanya Yudha.
"Udah kok, dia udah lebih baik. Yang penting Uncle sabar-sabar aja," jawab Arumi. Yudha dan Arumi pun berpamitan.
__ADS_1
Deren masuk kedalam ruangan kekasihnya. Kini Aisyah menyambut kedatangan Deren dengan senyum manisnya.
"Hay ..." sapa Deren.
"Hay juga. Maafin Aish ya Ak, udah bikin Aak khawatir," jawab Aisyah sambil mengelus pipi kekasihnya. Mata mereka saling menatap, senyum pun mengembang diantara bibir mereka.
"Iya sayang, nggak pa-pa," jawab Deren.
Aisyah pun menarik tubuh Deren dan memeluknya. Agar Deren bisa merasakan bahwa Aisyah sangat menyayanginya.
"Aish, sayang sama Aak," ucap Aisyah.
"Aak juga sayang sama kamu, Dek," jawab Deren sambil membalas pelukan kekasihnya.
"Eeemm ... Dek, Aak boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Deren sambil melepas pelukan Aisyah.
"Tanya apa Ak?"
"Apakah kamu tahu di mana Tuan Bos disekap?" tanya Deren.
"Aisyah nggak tahu Ak, tapi Aisyah ingat Tuan Bos di masukan ke dalam helikopter yang biasa dipakai Tuan Bos sendiri. Mungkinkah mereka membawa Tuan Bos di vilanya yang ditengah hutan itu," ucap Aisyah berusaha mengingat kejadian di pesawat itu.
"Bisa jadi Dek, eh ... apakah kamu keberatan jika Aak tinggal. Aak harus membebaskan Tuan Bos kan. Apakah anak buahnya berhianat?" tanya Deren curiga.
"Sepertinya iya Ak, bahkan asisten pribadi Tuan Bos aja selingkuh sama wanita itu," jawab Aisyah.
"Astaga, kasihan sekali pria itu. Eh, ngomong-ngomong kamu belum cerita sama Aak lo Dek, soal Tuan Bos yang kamu bilang baik itu. Boleh nggak cerita!" pinta Deren. Aisyah menatap ragu pada Deren. Tapi dia ingat pesan Arumi, harus selalu terbuka pada pasangan. Agar tak ada duri diantara hubungan mereka.
Bersambung...
Yang belum tahu perjuangan cinta Arumi dan Yudha bisa main dimari yakk🦂🤩
__ADS_1