
Deren masih memeluk erat wanita yang kini sedang bersedih. Mengelus pundak pemilik hatinya ini. Mencoba menenangkannya. Mencoba menciptakan rasa nyaman.
Kabar tentang penyakit yang diderita ayah kandungnya tentu saja membuat Aisyah terpukul.
Deren mengerti, ia pun membiarkan sebentar istrinya mengeluarkan air matanya. Mungkin dengan menangis bisa membuat Aisyah lebih tenang. Pikir Deren.
Iya, kabar yang barusan ia terima memang tak bisa begitu saja wanita ini cerna. Semua butuh proses, butuh mempersiapkan mental juga. Dan proses itu pasti butuh waktu juga 'kan?
Masalah yang menimpa mereka memang seperti bom waktu. Tak disangka, tiba-tiba meledak begitu saja.
"Ak."
"Hem."
"Maaf, Aish udah cengeng," ucap Aisyah.
"Nggak apa-apa , Sayang. Menangislah jika itu bisa mengobati kesedihanmu. Aak nggak akan melarangmu sekarang," jawab Deren berusaha mengerti.
Sejak mengenal Aisyah Deren lebih paham bahwa sejatinya wanita memang butuh menangis ketika hatinya terluka. Deren tak sebenci dulu, dia bisa emosi dan muak jika melihat orang menangis. Menurutnya menangis adalah lemah.
Rencana Deren untuk pergi kerja kini tertunda. Saat ini Aisyah sedang membutuhkan teman untuk mengerti perasaaanya. Mengerti kedaaanya. Dan yang pasti bisa memberikannya dukungan moril untuknya.
"Sebenarnya kenapa ya Ak? apa yang terjadi pada ayah dan ibuku?" tanya Aisyah penasaran.
"Entahlah, Dek. Mungkin sikap ayah dulu, atau penghianatan ayah. Aak nggak tahu. Aak nggak bisa menyimpulkan apa yang dilihat mata telanjang. Yang Aak lihat hanya permukaan, Dek. Dalamnya seperti apa Aak nggak tahu," jawab Deren sesuai dengan penilaiannya.
"Mungkinkah ayah menyakiti ibu sebelum kecelakaan itu terjadi, Ak?" tanya Aisyah menduga-duga.
"Jangan menduga-duga, Dek. Aak sendiri juga nggak paham. Makanya, kamu deketin ibu dan cobalah mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tanyakan padanya kenapa ibu enggan kembali pada ayah."
"Iya, Ak. Aish akan coba. Oia tadi pas subuh Aish denger Aak dapat telepon loh, tapi Aish nggak berani angkat," ucap Aisyah memberi tahu.
"Siapa yang telepon, Aak, Dek?" tanya Deren.
" Di ponsel tertulis Robet kayaknya, Ak." jawab Aisyah.
__ADS_1
"Oh, dia adek ipar kita," balas Deren. Aisyah menatap tak percaya pada suaminya. Ia terus saja menatap Deren tanpa berkedip. Fakta ini tak kalah membuat Aisyah terkejut. Fakta yang Deren ungkap tanpa sengaja ini sungguh gila bagi Aisyah. Aisyah bingung.
"Dek, ada apa?" tanya Deren sambil mengelus pipi istrinya. Aisyah tersadar. Pria di depannya ini juga sama. Suka memberinya kejutan tanpa perduli dirinya siap atau tidak.
"Kenapa, Dek? Kenapa kamu menatap Aak seperti itu? Apakah ada yang aneh?" tanya Deren bingung. Aisyah terus menatapnya, Aisyah memang menatapnya. Menatap dengan sejuta pertanyaan di benaknya.
"Siapa sebenarnya suamiku ini?" tanya Aisyah. Pertanyaan ini sungguh membuat Deren ingin tertawa. Aisyah tak salah jika bertanya seperti itu. Karena pada kenyataaanya Aisyah belum tahu benar siapa sejatinya pria yang menikahinya ini.
"Mantan preman," bisik Deren di telinga istrinya. Senyum tampan itu mengembang begitu saja. Sepertinya sedang menggoda. Dan pada kenyataannya ia memang sedang menggoda sang ratu hati. Deren senang, ini adalah salah satu hobi yang memang menyenangkan baginya.
"Jangan senyum-senyum, Aak. Jelek tahu," ucap Aisyah kesal. Wanita cantik ini menggeser tubuhnya. Agar nyaman ketika bersua.
Aisyah memasang mode tegas untuk masalah ini. Melipat kedua tanggannya dan berniat mengitrogasi pria menyebalkan yang ada di depannya saat ini. Aisyah ingin Deren menceritakan detail siapa sebenarnya dirinya, jati dirinya dan keluarga yang masih ada tentunya.
"Kok menjauh, bukanya kamu suka aroma, Aak?" goda Deren lagi. Tentu saja godaan itu ia imbangi dengan senyum tanpa dosa. Membuat Aisyah sedikit geram. Menjengkelkan sekali kalau mode isengnya kambuh, tampan sih tapi kalau udah iseng gini rasanya pengen Aish hih, gerutu batin Aisyah gemas.
"Aak tu kadang menjengkelkan tahu," ucap Aisyah kesal.
"Menjengkelkan gimana? orang tampan gini," jawab Deren asal.
"Emang kita pacaran, ya," ledek Deren spontan. Pria ini tertawa geli. Aisyah makin kesal. Bagi Deren kemarahan Aisyah adalah sesuatu yang unik baginya. Istrinya ini memang menggemaskan jika merajuk seperti ini.
"Aak, Aish serius ih," ucap Aisyah kesal. Deren menangkap kepala istinya. Tanpa izin dia pun mengecup sekilas bibir menggemaskan itu.
Aisyah tak menolak. Hanya saja masih terlihat geram.
"Kamu itu loh, Dek. Kita jarang ketemu begini. Gimana mau cerita coba? orang kita resmi jadi suami istri lahir batin aja, baru beberapa hari yang lalu kan?" jawab Deren asal. Jawaban yang tak ingin Aisyah dengar sebenarnya. Kenapa? Karena jawaban itu mengandung unsur mesum menurut Aisyah. Tapi lucu juga, dan benar adanya.
"Aak ni, kadang-kadang ngeselin tahu. Harusnya sebelum kita jadi suami istri lahir batin Aak tu udah cerita siapa sebenarnya diri, Aak," tangkas Aisyah. Lagi-lagi Aisyah benar tapi bukan Deren namanya kalau tak bisa melawan wanita cantik ini dengan alibinya.
"Emangnya apa yang hendak kamu tahu dari Aak, Dek? Bukannya sudah semua ya?" jawab Deren dengan senyuman tanpa dosanya yang pasti.
"Tahu semua dari mana," jawab Aisyah.
"Loh ... kamu belum tahu ya. Ya udah deh, besok-besok kalau kita mainan Aak hidupin lampunya biar kamu bisa lihat semua yang Aak punya," ucap Deren dengan entengnya.
__ADS_1
Aisyah menatap tak percaya, ternyata suami yang ia kenal pendiam sangatlah mesum "Aak!" teriak Aisyah kesal. Dipukulnya lengan pria menggodanya terus ini. Deren malah tertawa senang.
"Aak, serius ih."
"Serius apa sih, dek."
"Jangan mesum lagi ngomongnya. Mengerti!"
"Oke." jawab Deren singkat. Aisyah mengambil tangan Deren dan menciumnya. Menyiapkan mentalnya sebelum bertanya.
"Bolehkah Aish tanya sesuatu? Sekarang Aish ingin egois, Ak. Aish ingin tahu asal usul Aak, orang tua Aak. Siapa adeknya Aak dan kenapa kalian bisa terpisah? Pokoknya tentangmu Ak," ucap Aisyah dengan nada paling lembut. Mau bagaimanapun ini adalah hak Aisyah. Sebagai pasangan hidup tentunya. Dan Deren berkewajiban menjawabnya.
Deren mengerti dan paham apa yang istrinya inginkan. Mau sekarang mau besok mau nanti Aisyah memang harus tahu siapa sejatinya dirinya. Akhirnya Deren pun menceritakan detail tentang dirinya.
Deren menceritakan masa kecilnya yang penuh penderitaan. Kondisi ekonomi keluarganya sangat buruk. Pertemuan ayahnya dan Om Patriolah yang membuat perekonomian keluarganua membaik.
Keluarga Deren mengalami pemulilah keuangan mana kala ayahnya mendapat pekerjaan dari keluarga Om Patrio. Sayangnya ayahnya tak pandai bersyukur, dan khilaf. Hingga semua hancur tak tersisa.
Aisyah mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Semua terdengar menyayat hati. Ternyata suaminya ini sudah merasakan penderitaan yang sangat amat dari kecil. Cerita yang selama ini ia dengar memang menyedihkan sih, hanya gamblangnya baru kali ini Aisyah dengar.
"Sabar ya, Ak," ucap Aisyah. Deren hanya tersenyum.
"Aish, Janji. Bakalan nemenin Aak sampai maut memisahkan. Kita, Aish dan Aak. Kita bakalan sama -sama saling melengkapi Ak. Tapi Aish jauh lebih beruntung dibanding Aak. Meskipun Aish baru tahu kalau mereka orang tua angkat. Mereka sangat sayang sama Aish Ak." Aisyah kembali mencium tangan suaminya. Deren tersenyum menyukainya. Pri tampan ini membiarkan istrinya berbuat semuanya.
"Kamu tahu kan, Dek. Si Mala, yang rumahnya dekat rumah kebun?" tanya Deren.
"Tahu, yang ayahnya sakit 'kan," jawab Aisyah memastikan. Deren mengangguk tanda membenarkan.
"He em, itu pria yang menemukan dan merawat Yunita Mauren," tambah Deren.
"Oh, pantesan Aak sayang banget sama beliau," balas Aisyah.
"Beberapa bulan yang lalu Aak sudah jujur sama beliau, tapi Aak masih belum punya waktu yang pas untuk mengatakan kebenaran ini sama Yunita. Aak bingung, Dek. Aak takut." ucap pria tampan itu. Deren menatap kosong kearah tembok, Aisyah tahu jika apa yang dikatakan suaminya adalah kejujuran dari hatinya.
"Sabar ya, Ak. Aish ngerti. Eh ... Aak kan bilang Yunita hamil, dan tadi pagi Robet nyariin Aak. Siapa tahu ada kabar bahagia. Coba Aak periksa ponselnya," ucap Aisyah. Deren pun tersadar dari lamunananya. Pria ini pun beranjak dari tempat duduknya dan mencari ponsel yang belum dijamahnya dari bangun tidur sampai sekarang.
__ADS_1
Bersambung....