Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Hati Oh Hati


__ADS_3

Seminggu sudah Aisyah dan Deren menjadi sepasang suami istri. Kini mereka telah tinggal di rumah pribadinya milik Deren di Malang. Sayangnya, sampai detik ini belum ada apapun yang terjadi antara mereka.


Deren masih memegang teguh janjinya pada Aisyah. Tak akan meminta haknya sebelum menemukan sang ibu mertua. Bahkan, mereka juga belum tinggal sekamar. Deren membawa barang-barang pribadinya ke ruang kerjanya. Sedangkan Aisyah tinggal di kamar utama. Kamar di mana Deren biasanya menghabiskan malam-malamnya sebelum menikah.


Deren melalui hari-harinya seperti biasa, seperti sebelum menikah. Pagi pergi ke perkebunan, siang hari ke hotel dan sorenya pulang. Setelah sampai rumah dia langsung masuk keruang kerja dan mulai mengecek pekerjaannya seperti biasa. Ditambah sekarang dia harus memantau anak buahnya yang sedang mencari keberadaan ibu kandung sang istri. Disamping itu dia harus selalu siap kapanpun Patrio menghubunginya.


Baru, ketika jam makan malam tiba, dia akan menemui Aisyah. Untuk makan malam bersama dan paling berbincang sebentar. Setelah itu mereka akan berpisah, masuk ke kamar masing-masing untuk melepas penat setelah seharian beraktifitas.


Malam ini terasa berbeda, Aisyah tak bisa tidur. Pikirannya gelisah mengingat apa yang di ucapkan Arti sebelum mereka pulang Malang. Sebenarnya Aisyah ingin menuruti itu, dia juga ingin berbakti pada suaminya. Melayani seperti seorang istri pada umumnya. Sayangnya, Deren lah yang kini seperti menghindar darinya.


Aisyah bukanlah wanita yang bisa menahan keinginannya, niatnya dan apa yang menurutnya benar. Dia tak mau tembok pemisah antara dirinya dan suaminya semakin tinggi. Aisyah bertekat merobohkan tembok pemisah itu, malam ini juga.


Aisyah menyisir rambut panjangnya, memakai skincare sambil berfikir untuk membawa Deren kembali ke kamar pribadi mereka, yang kini dia tempati sendiri.


Aisyah pun keluar dari kamar itu, menuruni anak anak tangga untuk menuju ruang kerja di mana suaminya berada.


Meski saat ini jantungnya berdetak lebih cepat dari bisanya. Aiysah tak perduli. Yang dia inginkan saat ini adalah, hubungan suami istri yang tidak hambar seperti ini. Untuk apa menikah kalau masih ada jarak diantara kita, untuk apa menikah kalau, Aak memendam sendiri masalahmu Ak? tanya Aisyah dalam hati.


Wanita cantik ini pun mengetuk pintu kamar suaminya dengan tekat yang kuat. Meruntuhkan benteng pemisah dan membangun bahtera rumah tangga yang sesungguhnya.

__ADS_1


Dari dalam kamar terdengar suara langkah kaki seseorang. Aisyah yakin kalau yang sedang berjalan kearahnya adalah sang suami yang dia rindukan.


"Ada apa, Dek?" tanya Deren, ketika membuka pintu. Mata mereka bertemu. Aisyah menatap penuh permusuhan pada Deren. Membuat pria tampan ini bingung.


"Apa apa, kamu ada masalah?" tanya Deren lagi, sayangnya Aisyah masih diam. Deren pun membuka pintunya lebar-lebar dan keluar dari kamar itu.


Aisyah masih menatap penuh emosi pada Deren. Deren semakin bingung, apa salahnya? kenapa dia seperti ini? sebenarnya dia kenapa sampai menatapnya seperti itu.


Deren hendak memegang lengan Aisyah, sayangnya Aisyah tak mau. Wanita cantik ini menepis kasar tangan itu, kemudian dengan sisa kemarahannya Aisyah pergi meninggalkan Deren tanpa kata.


"Aduh, kenapa lagi ni perempuan?" tanya Deren bingung. Pria tampan ini menggaruk alisnya yang tak gatal. Berfikir kenapa lagi ni anak? Tanpa berfikir lagi dia pun menyusul langkah istrinya dan ikut masuk ke dalam kamar pribadi mereka.


Di dalam kamar, terlihat Aisyah berdiri di dekat jendela sambil melipat tangannya. Rambut panjangnya terurai begitu indah. Manis , dengan sedikit gelombang membuat rambutnya terjesan tebal. Deren mendekati istrinya, memeluk tubuh mungil itu dari belakang. Berusaha menenangkan sang permaisuri yang kini sedang merajuk manja.


Deren membalikan tubuh wanitanya agar menghadapnya. Dengan penuh kesabaran Deren pun bertanya lagi.


"Kenapa honey, kamu kenapa? Bilang sama Aak, jangan diam aja. Kalau kamu diam, mana Aak ngerti," ucap Deren lembut. Aisyah masih bergeming. Diam tanpa kata, membuat Deren harus berfikir keras. Apa sebenarnya kesalahannya?.


Deren mengecup kening wanita cantik ini. Kecupan itu begitu dalam dan penuh makna. Aisyah memejamkan matanya meresapi apa yang suaminya berikan saat ini. Aisyah menyukai ini, hatinya tersenyum bahagia. Tapi? bolehkan meminta lebih? tanya batin Aisyah.

__ADS_1


Deren melepaskan kecupannya, dan membawa pemilik hatinya ini ke dalam dekapannya. Aisyah masih gengsi, dia sama sekali tak mau membalas pelukan itu. Deren menyibak rambut istrinya yang menutupi leher cantik itu. Entah dapat dorongan dari mana, nyatanya saat ini pria tampan ini berani menciumi leher sang istri, hingga membuat sang pemilik merinding.


Aisyah masih tak mau bicara atau pun merespon apa yang dia lakukan. Deren menyadari jika istrinya ini tak menginginkan ini. Malah terkesan membiarkannya.


Deren menatap wanita cantik ini, dan bertanya sekali lagi. "Kamu kenapa to yank? Aak bingung kalau kamunya diam gini. Katakan, salah Aak dimana?" tanya Deren lagi. Aisyah mengangkat wajahnya dan memberanikan diri mentap mata sang suami. Berharap pria tak peka ini mengerti bahwa dia menginginkan hubungan lebih. Lebih dari ini, pembuktian cinta, pokoknya hubungan suami istri pada umumnya.


Deren mulai belajar membaca isi hati istrinya dari sorot mata indah itu. Tapi masih bingung ! apa yang sebenarnya diinginkan wanitanya?


Pria tampan ini memberanikan diri mengangkat dagu sang istri. Mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir indah yang masih tertutup rapat ini. Kecupan demi kecupan Deren berikan. Aisyah tak menolak, malah bisa dikatakan dia terkesan pasrah. Deren semakin berani mana kala Aisyah berani membuka sedikit bibirnya dan membalas kecupan itu.


Kini mereka saling membalas dan melepaskan hasrat yang mereka miliki. Cinta yang mereka miliki ternyata membutuhkan pembuktian. Aisyah mulai berani, dia pun merangkul leher suaminya dan memperdalam ciuman mereka. Jujur Deren terkejut dengan ini, tapi dia bahagia. Deren pun mulai mengikuti alur yang sama-sama mereka ciptakan. Ini sungguh indah, bahkan sangat indah. Sejenak mereka terlena. Yang mereka pikirkan saat ini adalah rasa ingin saling memiliki.


Dalam benak Deren bertanya-tanya. Mungkinkah ini signal dari sang istri, bahwa ia sudah menerima dan memaafkan kesalahan keluarganya? entahlah! Yang jelas, Deren merasa sangat bahagia sekarang.


Sedetik kemudian mereka menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Deren dan Aisyah sama sama membuka matanya. Kesadaran yang mereka miliki kembali. Aisyah pun melepaskan rangkulannya dan memundurkan langkahnya untuk menjauh dari sang suami. Aisyah malu. Deren pun sama, pria tampan ini terlihat salah tingkah


Wanita cantik ini pun duduk di sofa dan menyembunyikan wajahnya. Agar Deren tak mengetahui apa yang dia pikirkan.


Deren tak berani menyusul sang istri. Gejolak dihatinya semakin menggunung. Ketakutan akan kesalahannya kembali hadir. Deren merasa ditolak! entahlah. Pria ini malah memilik keluar dari kamar dan memilih kembali ke ruang kerjanya lagi. Hati oh hati susah sekali dimengerti kalau gengsi melanda.

__ADS_1


Di kamar itu, Aisyah malah tersenyum bahagia. Dia yakin kalau suaminya sangat mencintainya. Rasanya bahagia sekali bisa membuat suaminya semakin penasaran dengan apa yang dia pikirkan. Tapi Aisyah sangat yakin, jika suaminya sangat mencintainya.


Bersambung..


__ADS_2